Berdayakan Petani Lokal, Java Fresh Ekspor Buah Indonesia ke- 25 Negara
Java Fresh memberdayakan petani lokal dan menjadi motor penggerak ekspor buah ke-25 negara di dunia
Ringkasan Berita:
- Java Fresh hadir sejak 2014 untuk menjembatani kesenjangan antara petani kecil dan pasar global
- Java Fresh menggandeng para petani kecil untuk mengelola kebun secara lebih terarah
- Java Fresh terpilih sebagai salah satu dari lima wirausaha sosial penerima dana hibah dari DBS Foundation Grant Program 2024
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Indonesia, dengan lebih dari 17.000 pulau dan tanah vulkanik yang subur, merupakan surga bagi berbagai jenis buah eksotis. Kekayaan alam ini menempatkan Indonesia sebagai produsen buah terbesar keenam di dunia per Maret 2024, dengan total produksi mencapai 28,24 juta ton pada tahun sebelumnya (BPS, 2023).
Namun, potensi besar ini sering kali terhambat oleh pengelolaan kebun yang belum optimal, yang berdampak pada inkonsistensi kualitas produk di pasar internasional.
Menjawab tantangan tersebut, Java Fresh hadir sejak 2014 untuk menjembatani kesenjangan antara petani kecil dan pasar global.
Co-Founder & CEO Java Fresh, Margareta Astaman, mengungkapkan bahwa Java Fresh lahir dari keinginan untuk membangun sistem yang memberdayakan komunitas petani.
"Potensi pertanian kita luar biasa, namun petani butuh sistem yang memungkinkan mereka berkembang secara optimal," kata Margareta di Java Fresh Packing House, Sukarasa, Selawu, Kabupaten Tasikmalaya.
Selama lebih dari satu dekade, Java Fresh tidak hanya fokus pada bisnis, tetapi juga pada aktivitas ekonomi berbasis komunitas.
Dengan sistem yang terintegrasi, Java Fresh memastikan buah-buah lokal mampu menembus standar ketat pasar ekspor.
Java Fresh tidak hanya berfokus pada pasar lokal, tetapi juga mulai mewujudkan visinya dengan membangun sistem yang menghubungkan petani kecil ke pasar global dan menghadirkan aktivitas ekonomi lebih dekat ke komunitas.
Namun, merealisasikan visi ini tidaklah mudah.
Margareta mengungkapkan ada sejumlah tantangan utama industri agrikultur di Indonesia yang harus diatasi untuk benar-benar membawa buah Indonesia ke panggung global.
Tantangan tersebut diantaranya luas lahan petani, reliabilitas dan sertifikasi, serta keterbatasan teknologi dan pendanaan.
Menurutnya mayoritas petani merupakan petani mikro dengan luas lahan rata-rata di bawah 0,5 hektar, sehingga produktivitas dan konsistensi pasokan sulit ditingkatkan.
Belum lagi adanya tuntutan masih tingginya standar kualitas, keamanan pangan, dan traceability di pasar internasional belum sepenuhnya diimbangi dengan akses dan pemahaman petani terhadap sertifikasi global.
Tantangan lainnya yakni minimnya teknologi pra dan pascapanen membatasi umur simpan buah pada kisaran 14–18 hari, sehingga pengiriman masih bergantung pada jalur udara yang lebih mahal dan kurang kompetitif.
Selain itu, adanya kendala keterbatasan akses pembiayaan menghambat investasi pada peningkatan kebun, sertifikasi, dan adopsi teknologi, yang menurut studi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) menjadi salah satu penghambat utama ekspor hortikultura Indonesia.
| Kisah Manggis dari Cipancar Sumedang yang Kini Bisa Tahan Lebih Lama Berkat Semprotan Lilin Lebah |
|
|---|
| Produksi Manggis Purwakarta Anjlok dari 18.000 ke 1.500 Ton, tapi Kualitas Naik: Manis & Besar |
|
|---|
| Setelah Manggis, Purwakarta Kini Sukses Ekspor Melon hingga ke Singapura |
|
|---|
| Purwakarta Diharapkan Bisa Tingkatkan Produksi dan Kualitas Manggis untuk Ekspor |
|
|---|
| Pemkab Purwakarta Ekspor 600 Ton Manggis Wanayasa ke Cina, Target Selanjutnya ke Australia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/java-fresh-packing-house.jpg)