BI Rate Naik Jadi 5,50 Persen, Pengusaha Pilih Bertahan dan Tekan Pengeluaran
Pengusa memilih bertahan ditengah kondisi Bank Indonesia resmi menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Ringkasan Berita:
- Bank Indonesia resmi menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen
- Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global
- Kenaikan ini terpaksa mengubah strategi para pengusaha dari ekspansi menjadi bertahan.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Bank Indonesia resmi menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang masih berada di bawah tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global.
Di pasar valuta asing, dolar AS sempat menyentuh level Rp18.200 sebelum kembali menguat di kisaran Rp17.950 per dolar AS pada Selasa (9/6/2026).
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Garut, Rajab Priyaldi,mengakui kondisi dunia usaha saat ini sedang tidak mudah.
Menurutnya, banyak pelaku usaha terpaksa mengubah strategi dari ekspansi menjadi bertahan.
"Kalau kita mengatakan pengusaha saat ini memang dirasa berat. Berat sekarang," kata Rajab, kepada Tribunjabar.id, Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, langkah yang paling realistis dilakukan perusahaan saat ini adalah melakukan efisiensi di berbagai sektor pengeluaran.
"Tapi kita bisa bagaimana mempertahankan perusahaan ini dengan cara hal yang pertama sekarang efisiensi. Kita tidak membelanjakan hal-hal yang tidak penting," ujarnya.
Rajab mengatakan, fokus utama perusahaan saat ini adalah memastikan operasional tetap berjalan dan kebutuhan dasar karyawan terpenuhi.
"Paling penting tujuan kita sementara ini menghadapi ini, kebutuhan pangan cukup dulu. Kebutuhan pangan karyawan cukup. Perusahaan juga bisa bertahan. Jadi kita tidak memikirkan mimpi dulu lah," katanya.
Ia menilai tekanan ekonomi global dan gejolak geopolitik telah berdampak langsung terhadap kenaikan harga berbagai bahan baku dan biaya operasional perusahaan.
"Barang-barang naik. Biaya operasional melambung," ucapnya.
Kenaikan biaya tersebut dirasakan hampir di seluruh sektor usaha yang digelutinya, mulai dari peternakan, kuliner, konstruksi hingga investasi pembangkit listrik.
"Banyak. Besi segala macam. Apalagi saya di peternakan, kuliner, konstruksi juga, investasi pembangkit listrik juga. Wah berat," katanya.
Akibat kondisi tersebut, sejumlah target bisnis yang sebelumnya telah disusun terpaksa mengalami penundaan.
| Jateng Genjot Investasi EBT dan Pengelolaan Sampah, Ahmad Luthfi Tawarkan ke Para Pengusaha Tiongkok |
|
|---|
| Kasus Dugaan Tipu Gelap Pengusaha LPG di Bandung Sudah Damai, Kuasa Hukum Berharap Nama Baik Pulih |
|
|---|
| Pentingnya Perlindungan Hukum, Pengusaha Travel Haji-Umrah Ikuti Edukasi Hukum dari Miqot Law Firm |
|
|---|
| Sidang Kasus Buzzer Pencemaran Nama Baik, Pengusaha Skincare Heni Sagara Hadir di PN Bandung |
|
|---|
| Kenaikan LPG dan BBM Picu Inflasi, Pengamat Sebut Sektor Usaha Kuliner Mengalami Peningkatan Biaya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ketua-Kamar-Dagang-dan-Industri-Kadin-Kabupaten-Garut-Rajab-Priyaldi-dok.jpg)