Nilai Tukar Rupiah Melemah, Harga Oli dan Suku Cadang di Bandung Terus Merangkak Naik
Harga oli dan berbagai suku cadang kendaraan di sejumlah bengkel wilayah Kota Bandung mengalami kenaikan.
Penulis: Hilman Kamaludin | Editor: Kemal Setia Permana
Ringkasan Berita:
- Harga oli dan suku cadang di Kota Bandung mengalami kenaikan signifikan akibat pelemahnya nilai tukar rupiah.
- Kenaikan harga oli mencapai 75 persen dan telah terjadi sebanyak empat kali dalam beberapa bulan terakhir.
- Pemilik bengkel mengeluhkan pembengkakan modal usaha meskipun jumlah konsumen saat ini masih relatif stabil.
- Pelaku usaha berharap nilai tukar rupiah segera stabil untuk mencegah penurunan omzet di masa mendatang.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Harga oli dan berbagai suku cadang kendaraan di sejumlah bengkel wilayah Kota Bandung mengalami kenaikan imbas melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang terjadi sejak beberapa bulan lalu.
Kondisi ini pun akhirnya dikeluhkan para pemilik bengkel karena membuat kebutuhan modal usaha semakin besar. Beruntung kenaikan oli dan suku cadang tersebut belum berdampak signifikan terhadap penurunan konsumen.
Pemilik bengkel di Jalan Ibrahim Adjie, Dadan Ridwan (47), mengatakan harga onderdil mengalami kenaikan sekitar 10 persen, sedangkan harga oli naik hingga 75 persen imbas melemahnya nilai tukar rupiah tersebut.
"Harga oli sudah naik sebanyak empat kali. Sebelumnya yang paling murah hanya sekitar Rp40 ribu, kalau sekarang sudah mencapai Rp60 ribu," ujar Dadan saat ditemui di bengkelnya, Senin (8/6/2026).
Baca juga: Dolar Tembus Rp18 Ribu, Pengusaha Tempe Baleendah Keluhkan Daya Beli Turun dan Biaya Produksi Naik
Kenaikan harga tersebut, kata dia, membuat dirinya harus menambah modal untuk membeli stok barang dari Jakarta. Meski demikian, dia memastikan hingga saat ini jumlah konsumen yang datang masih relatif stabil.
"Dampaknya saya harus nombok modal saat belanja barang. Tapi konsumen masih stabil, setiap hari tetap banyak pemilik kendaraan yang ganti oli, servis, maupun mengganti sparepart," katanya.
Dadan berharap harga oli dan onderdil dapat kembali stabil agar tidak semakin membebani konsumen dan dia pun khawatir kenaikan harga yang terus berlanjut akan berdampak pada penurunan omzet bengkel.
"Semoga harga bisa stabil lagi. Kasihan konsumen kalau naik terus. Bukan tidak mungkin omzet juga bisa menurun, ya kalau bisa kembali normal lagi," ucap Dadan.
Keluhan serupa juga disampaikan karyawan bengkel lain di Ciwastra, Abdul Gani (36). Ia mengatakan, harga oli terus mengalami kenaikan secara bertahap sejak dua bulan terakhir.
Baca juga: SOSOK Enriko Papa Bek Liga Turki yang Dikaitkan dengan Persib Bandung, Bukan Kaleng-kaleng
"Harga oli naik antara Rp5 ribu sampai Rp15 ribu. Kenaikannya terjadi setiap dua minggu sekali. Kalau sebelumnya yang paling murah Rp57 ribu sekarang telah mencapai Rp80 ribu," katanya.
Selain oli, harga aki kendaraan juga sudah mengalami kenaikan. Abdul menyebut harga aki mobil naik sekitar Rp40 ribu hingga Rp50 ribu, sedangkan aki motor naik antara Rp10 ribu hingga Rp15 ribu.
"Kalau onderdil belum naik banget, cuma ada beberapa itu juga tidak terlalu tinggi lah," ucap Abdul Gani.
Para pelaku usaha bengkel berharap kondisi nilai tukar rupiah dan harga barang impor dapat kembali stabil, agar harga kebutuhan perawatan kendaraan tidak terus mengalami kenaikan. (*)
| Dolar Tembus Rp18 Ribu, Pengusaha Tempe Baleendah Keluhkan Daya Beli Turun dan Biaya Produksi Naik |
|
|---|
| Rupiah Tertekan dan IHSG Anjlok, Pengamat Unpas: Kelas Menengah Makin Terjepit |
|
|---|
| Rupiah Ambruk ke Rp18.095, Warga di Bandung Mulai Lirik Mata Uang Asing Selain Dolar |
|
|---|
| Rupiah Makin 'Longsor', Pengusaha Furnitur di Cirebon Kian Tertekan, Untung Ekspor Tak Lagi Manis |
|
|---|
| Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Harga Elektronik di BEC Naik hingga 20 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/pemilik-bengkel-di-Kota-Bandung-saat-melayani-para-pelanggan.jpg)