Jumat, 8 Mei 2026

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Berai Bianglala

Seharusnya tiga hari lalu, Ahnaf, bapak Barnali, sudah pulang. Ia berjanji membawakan boneka sebagai kado ulang tahunnya yang kesepuluh.

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen 

“Moon, ithu namamu dhan panggil aku Madham. Kau harus pathuh,” kata Madam.

Dua hari tidak patuh, Barnali tidak diberi makan. Ia menyerah. Ia mulai menjawab saat dipanggil ‘Moon’. Ia belajar gerakan sensual, peta area sensitif pria, dan cara menyentuhnya. Pria Bangladesh penggemar wanita bertubuh subur. Untuk itu, Madam memberi Barnali Oradexon, obat penggemuk sapi.

Hari kesembilan. Barnali melayani pria pertama, pria tua seusia kakeknya. Tak lebih dari dua menit pria itu sudah menyungging senyum kepuasan, tapi lebih dari dua hari Barnali meringis kesakitan. Setelah itu pria lain datang tiada henti. Bulan demi bulan berlalu, Barnali bisa melayani tiga hingga delapan pria sehari. Ia tidak pernah ke luar bilik, tak bisa membedakan enam musim: Grisma, Barsa, Sarat, Hemanta, Shhit atau Basanta.

Hari itu, musim Barsa di penghujung bulan Juli, hujan turun lebat ketika Madam berteriak seperti biasa, “Moon, thamu.” Seperti biasa pula Barnali melepas baju, duduk di tepi kasur, membuka lebar kedua pahanya dan cengengesan dalam pengaruh yaba.

Seorang pria memasuki bilik remang. Ia melepas jas hujan, lalu dengan beringas menelungkupkan badannya di atas tubuh ‘Moon’ seperti musang siap memangsa ayam. Ketika wajah mereka begitu dekat, pria kerempeng itu tersentak.

“Bar-na-li?” kata Ahnaf lirih, tak percaya perempuan Daulatdia bertubuh gendut, berias tebal yang tak tampak seperti bocah 12 tahun adalah anaknya.

“Mooon ...,” Barnali menggeleng.

“Ini, Ba-ba!”

“Enggak. Baba pasti bawa boneka, toh?” Senyum tanpa dosa mengakhiri kalimat tersebut.

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Syukuran Naik Jabatan

Ahnaf terduduk di lantai, membuang mukanya. Ia menangis dengan suara parau. Dadanya naik turun menahan sesak sebelum ia meraung seperti serigala.

Madam mendengar tangisan. Segera ia mengetuk pintu dan bertanya ada apa, tapi tak ada jawaban. Ia mencoba memasuki kamar. Secepat kilat Ahnaf membungkus tubuh Barnali dengan seprai. Begitu gerendel terlepas, Ahnaf mendorong pintu sekuat tenaga membawa Barnali keluar bersamanya. Madam terjungkal, ia jatuh di atas comberan.

Thangkap ithu maling!” teriak Madam.

Bapak dan anak berlari di tengah hujan. Barnali berlari lamban, kepalanya mendongak ke atas mencari pelangi. Ahnaf menarik pergelangan tangannya agar ia berlari lebih kencang. Sial, kaki telanjang Barnali menginjak pecahan kaca.

Ahnaf memeriksa sekilas kaki anaknya. Tak ada banyak waktu, lima pria mengejar mereka. Ahnaf menggendong Barnali di punggungnya. Baru beberapa langkah, kelima pria tersebut mengepung mereka. Satu pria memberi bogem mentah di pelipis kiri. Satu lagi meninju perutnya. Barnali terjatuh di antara sampah plastik, telentang berbalut seprai basah. Ahnaf masih dihajar membabi buta kelima pria.

Kucuran hujan deras menyadarkan Barnali dari efek yaba. Ia menyaksikan Ahnaf bersimbah darah. Barnali merangkak, mendekati tubuh bapaknya: wajahnya penuh luka lebam, sebilah pisau masih tertancap di dada kanannya. Barnali menjerit, “Babaaa,” ucapnya berulang-ulang.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved