Cerita Pendek
Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Laki-Laki Bermata Tajam
Aku membayangkan makamku kelak. Terpencil di kebun bambu, tak ada seorang pun yang berziarah, tidak keluargaku sekalipun.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Oleh Tati Y. Adiwinata
Aku membayangkan makamku kelak. Terpencil di kebun bambu, tak ada seorang pun yang berziarah, tidak keluargaku sekalipun.
Entah ini perjalananku yang keberapa sejak pandemi merebak. Jika mulai merasa bosan, aku akan pergi ke mana saja yang aku mau. Bukan tempat-tempat terkenal untuk ber-selfie ria lalu meng-upload-nya di media sosial. Aku lebih menyebutnya sebagai perjalanan sunyi karena melakukan perjalanan pada suasana seperti ini tidaklah mudah.
Aku lebih senang mengunjungi makam orang-orang yang terkenal dengan kesalehannya. Setelah melakukan perjalanan sunyi, aku akan banyak merenung dan mengkaji diri. Betapa mulia mereka yang telah meninggal dalam kebaikan. Makamnya banyak dikunjungi orang dan didoakan.
Baca juga: Sinopsis IKATAN CINTA 28 Maret 2021 Link Streaming - Nino Temukan Fakta Soal Anting, Elsa Gelisah
Baca juga: Atta Halilintar Dapat Hadiah Uang Gepokan dari Orang Misterius, Kaget Sampai Telepon Hotman Paris
Membayangkan makamku kelak, terpencil di kebun bambu, tak seorang pun yang berziarah, tidak keluargaku sekalipun. Betapa menyedihkan. Sejak itu, keinginanku menjadi orang saleh begitu menggebu. Aku melakukan banyak ritual ibadah, berbuat baik kepada sesama, dan menjaga mulutku untuk berkata-kata baik saja. Perubahanku yang mendadak tentu mengejutkan banyak orang. Siapa yang tak kenal aku? Perempuan binal, pengganggu suami orang.
Jauh sebelum ini, teman-teman perempuan menjauhiku. Mereka takut aku merebut para suami tanpa ampun. Mereka yang masih gadis juga menganggapku sebagai saingan berat yang tak mudah untuk dikalahkan. Tapi, semenjak sering melakukan perjalanan sunyi, aku merasa kematian begitu dekat dan mengerikan. Bukankah, katanya, malaikat maut mengintai kita 70 kali dalam sehari?
Dalam perjalanan kali ini, aku akan mengunjungi makam seseorang di sebuah desa nun jauh di kaki gunung. Dulu, katanya, orang ini adalah seorang preman. Namun, ia telah mendapat hidayah. Dalam akhir hidupnya, ia melakukan pertobatan. Semua harta ia sumbangkan untuk membuat tempat ibadah yang megah. Sebagian lagi ia sumbangkan kepada penduduk desa tempat terakhir ia bermukim. Sampai napas terakhir, ia tidak memiliki apa-apa selain yang melekat di badan.
Hatiku bergetar mendengar cerita Wa Ujan kepala rombongan kami. Makamnya sekarang banyak didatangi orang. Tentu dengan bermacam tujuan. Termasuk aku, sekadar ingin melakukan sebuah perjalanan sebagai sebuah renungan.
Di dalam mobil yang berpenumpang orang-orang bertujuan sama ini, aku duduk di jok paling depan sebelum sopir. Seperti mobil elf pada umumnya, si pemilik mobil sering membuat jok tambahan di belakang sopir sehingga para penumpang duduk berhadapan. Dan laki-laki di balik masker itu sepertinya sengaja duduk di depanku. Dia memiliki sepasang mata yang sangat tajam.
Mata itu tak lepas menatapku, menelanjangi dan membuatku tak nyaman. Berkali-kali aku memalingkan wajah untuk menghindar. Entah kenapa, hatiku berdebar hebat. Rasa cemas dan takut menyusup dengan cepat.
Laki-laki itu seolah tak menangkap perasaan gusar yang tengah melandaku. Ia masih terus menatap, menembus hingga jauh ke dalam jiwa, melekat di sekujur tubuhku. Pandanganku menyapu penumpang lain yang tengah terlelap. Perjalanan masih sangat jauh.
Jika saja ada yang menawarkan sebuah pertolongan, tentu hal pertama yang ingin kudapatkan adalah jauhkan mata yang menghunjam itu dari tubuhku. Aku benar-benar menggigil. Rasa takut menyergap, dan mulutku bertubi-tubi merapal nama Tuhan.
"Kau tahu siapa aku?" tanyanya tiba-tiba. Mengagetkan. Aku balik menatapnya dengan tajam dan menyelidik. Barangkali mata itu kukenal. Siapakah dia? Bagaimana aku bisa memastikan, bibirnya tersembunyi di balik masker dan perkataannya terlalu cepat. Aku tak terlalu yakin suara itu berasal dari mana. Tapi, kemudian, meski ragu, aku menggeleng.
"Kau pasti sangat mengenalku!" katanya lagi. Sekarang aku yakin suara itu memang berasal darinya. Matanya lebih berbicara dari bibir yang tersembunyi. Aku menggeleng lagi setengah putus asa.
Ya, ampun siapa laki-laki ini? Ia melemparkan teka-teki di tengah suasana yang serba tak mengenakan. Masker sialan itu telah membuatnya sukses bersembunyi. Tapi, tidak matanya yang tajam. Mata yang lebih menakutkan dari virus yang kini tengah merebak, berhasil melempar manusia ke bilik-bilik sunyi, hanya mampu menghitung waktu dan nyawa hilang secara bergantian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/belum-ada-judul.jpg)