Senin, 20 April 2026

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Syukuran Naik Jabatan

"Kok, sudah mau syukuran? Kan naiknya saja belum?" Saling bisik seperti itu menyebar ke semua ruang kantornya.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen 

Oleh Dedi Tarhedi

WAWAN sibuk sejak kemarin. Dia mau mengadakan syukuran untuk kenaikan jabatannya di pemerintahan. Jabatannya sekarang adalah kepala seksi dan kalau jadi naik jabatan atau naik eselon, dia bisa jadi Kepala Bidang atau Kepala Bagian di Pemda.

"Kok, sudah mau syukuran? Kan naiknya saja belum?" Saling bisik seperti itu menyebar ke semua ruang kantornya.

"Habis magrib datang, ya, Din ke rumah," undang Wawan ke Udin. "Tak semua diundang, cukup kamu, Ace, dan Jeni saja. Jadi jangan ribut. Jangan sampai didengar Pak Junjun. Saya tak tega kalau Pak Junjun mendengar kabar syukuran ini, yang berarti tahu kenaikan saya. Dia kan lebih senior dari saya. Tapi karena Pak Bupati dekat denganku jadi saya yang akan naik jabatan," lanjut Wawan kepada Udin yang sedari tadi melongo mendengar itu semua.

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Guarjja yang Membawa Kesedihan

Ya, walaupun Udin salah seorang stafnya Wawan, tak urung ia tetap bingung. Dia heran atasannya berani dan nekat begitu. Itu memalukan.

Sebab setahu Udin, belum akan ada mutasi atau rotasi jabatan di lingkungan Pemda karena pandemi corona masih menyala merah di kotanya.. Tapi bisa saja ada mutasi sekiranya ada jabatan kosong karena ada pejabat yang pensiun atau meninggal dunia.

"Tapi harusnya nunggu pelantikan dulu baru syukuran," bisik Udin pada Jeni dan Ace, dua rekannya yang diundang hadir. Dan pendapat itu, sebenarnya, diaminkan semua pegawai di kantornya. Mereka, diam-diam, sering memperbincangkan hal itu di belakang Wawan.

"Bukan apa-apa, tapi takut gak jadi," tambah Udin.

Tapi Wawan memang terlampau percaya diri. Dia merasa semua sudah ada digenggamannya. Padahal dalam hal mutasi sering terjadi apa yang sudah diwacanakan si A akan naik, si B akan pindah dan lain-lain, kenyataannya bisa berubah seketika. Bahkan dalam menit-menit terakhir sebelum acara pelantikan, bisa berubah total atau mendadak batal.

Dulu pernah ada kejadian yang memilukan soal pelantikan ini. Seorang pegawai sudah dapat surat undangan. Pegawai tersebut disuruh memakai baju seragam camat, yang putih-putih dan berpangkat itu. Tapi saat SK dibacakan bukan dirinya yang jadi camat. Betapa malunya dia, tentu saja.

Dari kejadian itu, walau sebelumnya setiap pelantikan lurah dan camat harus berseragam putih-putih, kini baju pelantikan disamakan memakai safari atau pakaian sipil lengkap (PSL) dan berpeci hitam nasional.

**

Setelah magrib, sebelum acara syukuran dimulai, sambil menunggu warga yang diundang, Wawan sekeluarga berkumpul di beranda.

"Pak, nanti mobilnya Innova ya? Kita bisa jalan-jalan ke luar kota," kata istri Wawan manja. Anak-anaknya pun senang ayah mereka naik jabatan dan akan mendapat fasilitas mobil plat merah.

"Terus nanti motornya dipakai Kakak, ya? Kan Papa sudah dapat mobil dinas," si sulung ikut nimbrung.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved