Coffee Break
Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Blunder Itu Memang Menyakitkan!
SEPERTI banyak kiper lain, mulai kelas kampung hingga tingkat dunia, saya juga pernah melakukan blunder.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Oleh Hermawan Aksan
SEPERTI banyak kiper lain, mulai kelas kampung hingga tingkat dunia, saya juga pernah melakukan blunder. Waktu itu saya masih SMA dan tampil membela tim saya bertanding dalam kompetisi divisi utama Kabupaten Brebes karena kiper utama tim kami sakit.
Hampir tidak ada masalah dalam keseluruhan penampilan saya kecuali, suatu saat, pemain belakang kami memberikan bola kepada saya, sebuah bola operan yang sebenarnya pelan. Bukannya menerima dengan tangan—waktu itu kiper masih boleh menerima operan teman sendiri dengan tangan—saya malah sok gaya menghentikan bola dengan kaki. Celakanya, lapangan tempat kami bertanding tidak rata. Ketika hendak mencapai kaki saya, bola memantul dan tanpa dapat saya hentikan meluncur menuju gawang sendiri!
Kami akhirnya kalah 1-2 dan satu gol lagi terjadi karena penalti.
Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Bus Bertuliskan Tottenham Hotspur
Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Covid-19 Sudah Menerkam
Sampai sekarang, puluhan tahun kemudian, gol karena kebodohan sendiri itu masih tercetak jelas di kepala saya, tidak bisa hilang meskipun saya kemudian masih berapa puluh kali lagi bertanding membela tim-tim saya dan tidak pernah lagi melakukan kesalahan fatal macam itu.
Blunder berasal dari bahasa Inggris yang, menurut sebuah laman, memiliki arti sebuah kesalahan fatal dikarenakan tindakan yang tidak dipikirkan terlebih dahulu atau membabi buta.
Di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat tiga arti kata blunder yang masuk ke kelas kata nomina (kata benda): (1) Kesalahan serius atau memalukan yang disebabkan oleh kebodohan, kecerobohan, atau kelalaian (2) Kekhilafan (3) Kekeliruan.
Saya yakin blunder yang saya lakukan termasuk dalam makna pertama. Memang terdapat kekhilafan dan kekeliruan dari aksi saya, tapi saya merasa bahwa apa yang saya lakukan adalah kebodohan, kecerobohan, dan kelalaian.
Bagaimana dengan blunder yang dilakukan kiper-kiper kelas dunia? Bagaimana mungkin kiper sekelas Alisson Becker melakukan blunder yang konyol? Tidak hanya sekali, tapi dua kali. Liverpool bermain di kandang sendiri, Stadion Anfield, dan Alisson memberikan gol gratis kepada Manchester City karena dua kesalahan.
Sebagai penggemar Liverpool, saya juga heran mengapa para kiper Liverpool sering sekali melakukan blunder. Pada pertandingan melawan Aston Villa di Villa Park Stadium, 5 Oktober 2020, Liverpool unggul dalam penguasaan bola hingga 70 persen, tapi mereka akhirnya dipermalukan dengan skor 2-7. Sorotan tertuju kepada Adrian, kiper yang tampil mengisi posisi Allison Becker yang cedera. Adrian melakukan blundernya pada menit ketiga pertandingan! Dan blunder dalam laga melawan Aston Villa bukanlah yang pertama. Adrian juga melakukan blunder pada laga Liga Inggris melawan Southampton pada 17 Agustus 2019 dan pada babak 16 besar Liga Champions melawan Atletico Madrid pada 11 Maret 2020.
Sebelum Adrian, dua kiper Liverpool, Simon Mignolet dan Loris Karius, juga melakukan blunder. Mignolet misalnya melakukan blunder pada laga pramusim di ajang Western Union Cup 2019 saat melawan Sporting Lisbon. Namun, catatan blunder paling kelam di era Juergen Klopp terjadi pada final Liga Champions saat menghadapi Real Madrid, 26 Mei 2018. Kiper Loris Karius melakukan dua kali blunder yang sama-sama menghasilkan gol untuk Real Madrid.
Apa yang terjadi dengan mereka? Mungkin menarik jika ada penelitian secara psikologis, tapi saya belum menemukan hasil penelitian macam itu.
Mungkin untuk menghibur Alisson Becker, Juergen Klopp mengatakan bahwa semua kiper pernah melakukan kesalahan. Tidak hanya kiper Liverpool, tapi juga kiper-kiper terkenal lainnya, termasuk Joe Hart, David de Gea, dan Kepa Arrizabalaga.
Baca juga: Coffee Break Tribun Jabar Hari Ini: PR yang Merepotkan Seluruh Keluarga
Baca juga: Coffee Break Minggu Ini: Liga nan tak Kunjung Datang
Namun, menurut saya, tidak hanya kiper, tapi semua pemain pernah melakukan kesalahan. Tidak hanya itu, jauh lebih luas lagi, semua orang pernah melakukan kesalahan—hanya Nabi yang tidak melakukan kesalahan.
Pertanyaannya, apakah kita bisa menyadari dan menyesal telah melakukan dan tidak akan mengulanginya lagi? Tentu saja tidak hanya Adrian, Loris Karius, dan Alisson Becker yang mesti melupakan kesalahan itu dan berusaha tampil lebih baik.
Kita semua, hendaknya, melakukan perbuatan kita lebih baik dari hari ke hari.
Semoga. (*)