Breaking News:

Coffee Break

Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Covid-19 Sudah Menerkam

INI cerita seorang teman, yang saya olah dari percakapan melalui WhatsApp. Semula ia menolak ketika saya bilang hendak menuliskan ceritanya.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Covid-19 Sudah Menerkam
istimewa
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Hermawan Aksan

INI cerita seorang teman, yang saya olah dari percakapan melalui WhatsApp. Semula ia menolak ketika saya bilang hendak menuliskan ceritanya. Namun, setelah saya katakan bahwa nama-nama, tempat tinggal, dan pekerjaannya akan saya samarkan, ia akhirnya membolehkan.

**

SETELAH pandemi berlangsung hampir setahun, setelah virus korona yang semula begitu jauh lama-lama makin dekat, dan setelah terbukti kebijakan apa pun yang diterapkan pemerintah gagal membuahkan hasil optimal, akhirnya ia merasakan dahsyatnya Covid-19.

Coffee Break Tribun Jabar Hari Ini: PR yang Merepotkan Seluruh Keluarga

Ia tinggal di sebuah kota kecil di provinsi yang sama dengan saya tinggal. Ia seorang pegawai swasta yang mengharuskannya rutin pergi ke luar kota, terutama naik kereta api, bus malam, atau mobil travel. Usianya 50-an tahun. Mengikuti anjuran pemerintah, ia selalu berusaha melaksanakan protokol kesehatan seketat mungkin: mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, memakai masker ke mana pun, menjaga jarak dengan orang lain, dan menghindari kerumunan. Tak lupa ia selalu berdoa setiap selesai melaksanakan salat lima waktu agar ia dan keluarganya selalu diberi kesehatan dan dihindari penyakit-penyakit berbahaya, terutama Covid-19.

Satu-satunya situasi rawan yang mengandung risiko tinggi adalah perjalanan ke dan dari luar kota. Itu sebabnya, ketika kantornya menerapkan kebijakan bekerja dari rumah, ia senang sekali meskipun tetap saja sesekali ia mesti ke luar kota.

Pagi itu, hampir dua pekan lalu, ia seperti biasa melakukan jogging di sepanjang jalan sekitar rumahnya. Ia berusaha rutin menjaga kesehatan sebagaimana yang dianjurkan para ahli kesehatan untuk menjaga imunitas tubuh dari serangan berbagai virus, terutama korona. Ia merasa sehat-sehat saja setelah berolahraga. Setelah keringatnya kering, ia mandi dengan perasaan segar, lalu sarapan enak seperti biasa meskipun menunya hanya sayur bayam, ikan pindang, dan tempe goreng.

Coffee Break Minggu Ini: Liga nan tak Kunjung Datang

Beberapa jam kemudian barulah ia merasakan sakit “enek” yang luar biasa di dada bagian bawah. Ia tidak tahu nama organ dalam yang sedang bermasalah, tapi sekitar perbatasan dada dan perut. Keringat dingin keluar, suhu tubuh meningkat, dan ia mulai batuk-batuk. Ia minta istrinya, seorang PNS yang juga hanya dua atau tiga hari masuk ke kantor, mengerok punggungnya, seperti biasa kalau ia masuk angin.

Ia bisa tidur siang tapi sorenya ia terus-menerus batuk, dan belum sembuh sampai saya menulis kolom ini, kemarin. Ia minum obat batuk dan parasetamol dari apotek tapi nyaris tak ada pengaruhnya. Dari hari ke hari terjadi penurunan daya cium meskipun lambat sampai akhirnya ia tak bisa lagi mencium bau minyak wangi, kayu putih, dan sabun mandi. “Pantas, sehari enggak mandi, kok, enggak tercium bau apa-apa,” selorohnya.

Ia memutuskan untuk mengisolasi diri di kamarnya. Istrinya tidur bersama anak bungsunya. Anaknya yang satu lagi tidur di kamar sendiri.

Coffee Break: Setahun Nonstop Bekerja dari Rumah

Di sinilah ia menghadapi sebuah dilema yang sangat sulit. Jika ia menjalani tes usap dan dipastikan ia positif Covid-19, tentu banyak orang akan heboh. Tidak hanya para tetangga, tapi juga orang-orang sekantornya dan kerabatnya. Mereka akan menghindarinya, menghindari istri dan anak-anaknya, mungkin dengan perasaan jengkel atau yang semacam itu. Sebaliknya, jika diam-diam saja, ia mungkin bisa menulari orang lain: ia merasa bersalah karena tubuhnya mengandung virus berbahaya tanpa ada yang tahu.

Ia memang belum menjalani tes usap karena dilema itu. Namun, dari gejala-gejalanya, ia yakin sudah positif terpapar Covid-19. Anehnya, ia mengalami dua emosi yang berlawanan. Di satu sisi, ia sangat sedih dan kadang takut bagaimana jika gejalanya pada beberapa hari berikutnya makin parah. Ia akan menghadapi kemungkinan nasib yang sama dengan jutaan orang di dunia: meninggal dunia karena korona. Di sisi lain, ia gembira karena bisa merasakan sendiri dahsyatnya virus korona. Kini ia yakin bahwa bahaya virus korona bukan isapan jempol belaka.

Satu hal yang masih membuatnya penasaran: dari mana sebenarnya ia tertular? Setelah merenung, ia menyimpulkan, bisa dari mana saja: dari perjalanan, dari kantornya, dari sentuhan tak sengaja dengan siapa pun dan di mana pun, dan banyak lagi. Tapi, dari mana pun asalnya, masihkah penting?

**

TETAPLAH memakai masker ke mana pun kita pergi, menjaga jarak dengan orang lain, dan mencuci tangan dengan sabun di air yang mengalir. Kalau tidak penting benar, tetaplah di rumah. Semoga kita semua selalu diberi kesehatan. Amin. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved