Breaking News:

Coffee Break

Coffee Break Minggu Ini: Liga nan tak Kunjung Datang

Alasan pandemi memang bisa dipahami. Pertanyaannya, mengapa di hampir semua negara lain bisa meskipun pandeminya tak kalah parah?

Coffee Break Minggu Ini: Liga nan tak Kunjung Datang
dokumentasi
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun

Oleh Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

PREMIER League, yang disebut-sebut kompetisi paling menarik di dunia, berhenti berputar pada Maret 2020 karena pandemi Covid-19. Tiga bulan kemudian kompetisi dilanjutkan dengan banyak modifikasi, termasuk digelar tanpa penonton, hingga tampil Liverpool sebagai juara.

Negara-negara lain, di seluruh dunia, juga menerapkan kebijakan yang sama: kompetisi berhenti. Ada yang benar-benar berhenti tanpa dilanjutkan sampai muncul juara, misalnya di Prancis dan Belanda, ada juga yang dilanjutkan seperti Premier League sampai muncul juara baru, misalnya di Italia dan Spanyol.

Meskipun pandemi belum menunjukkan gejala reda, kompetisi musim baru tetap berputar: semua negara di Eropa boleh dikatakan sama-sama menggelar kompetisi dengan tetap menerapkan secara ketat protokol kesehatan. Bahkan ketika pemerintah Inggris kembali menerapkan aturan lockdown, kompetisinya terus berjalan. Begitu juga di Italia, Spanyol, Jerman, dan lain-lain.

Baca juga: Hasil Pertemuan dengan PT LIB, Mayoritas Klub Ingin Liga 1 2020 Dihentikan dan Diganti Musim Baru

Baca juga: Pertemuan dengan PT LIB - Inilah Sejumlah Aspirasi Persib Bandung, Dukung Teruskan Liga 1 2020

Amankah kompetisi itu dari serangan pandemi meskipun sudah menerapkan protokol kesehatan? Tidak juga.

Satu demi satu banyak pemain yang dalam perjalanannya terkena serangan Covid-19. Cristiano Ronaldo, Zlatan Ibrahimovic, dan Mohamed Salah, hanya menyebut sebagian kecil, sempat positif terserang virus korona. Tapi kompetisi jalan terus. Para pemain itu menjalani isolasi mandiri, tapi klubnya tetap bertanding sesuai dengan jadwal yang sudah dibuat.

Hanya ada beberapa pertandingan yang terpaksa ditunda karena pemain yang positif korona tidak hanya satu-dua, tapi sampai di atas lima.

Di Italia, laga Juventus vs Napoli ditunda karena sejumlah pemain Napoli positif korona. Di Inggris, pertandingan Tottenham Hotspur lawan Aston Villa ditunda karena sepuluh pemain The Villans dinyatakan positif korona. Mungkin ada pertandingan lain yang juga ditunda, tapi kompetisi jalan terus.

Mengapa mereka tidak menghentikan kompetisi? Menurut Goal International, karena kompetisi sepak bola masuk ke kategori olahraga “elite” dan mendapat pengecualian dari kebijakan lockdown tersebut.

Bagaimana di Asia? Jepang, Korea, Cina, dan lain-lain sudah menggelar lagi kompetisi mereka setelah sama-sama terhenti karena pandemi. Seperti di Eropa, di negara-negara Asia juga diterapkan protokol kesehatan yang ketat dan tanpa penonton. Begitu juga di Amerika Serikat, yang pandeminya konon termasuk paling parah di dunia.

Halaman
12
Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved