Breaking News:

Coffee Break

Coffee Break Tribun Jabar Hari Ini: PR yang Merepotkan Seluruh Keluarga

Satu hal: orang tua yang repot tapi murid-murid tidak bertambah cerdas dan entah di mana peran Menteri Pendidikan.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Coffee Break Tribun Jabar Hari Ini: PR yang Merepotkan Seluruh Keluarga
ist
Hermawan Aksan, Wartawan Tribun Jabar

Oleh Hermawan Aksan

COBA perhatikan dua kalimat berikut ini: Lingkungan adalah tempat dimana kita semua memulai aktifitas sehari-hari. Karna itu kita semua juga harus menjaga kebersihan disekitar kita.

Dua kalimat itu benar-benar mengandung banyak masalah. Pertama, ada salah tik (typo) pada kata karna (harusnya karena). Kedua, ada salah ejaan pada kata dimana (harusnya di mana), aktifitas (harusnya aktivitas), dan disekitar (harusnya di sekitar). Ketiga, ada salah pemakaian kata dimana (di mana) sebagai kata hubung dalam kalimat.

Selain itu, definisi mengenai lingkungan terlalu sederhana dan pemakaian karna (karena) itu sebagai penunjuk hubungan sebab akibat kurang tepat.

Baca juga: Coffee Break Minggu Ini: Liga nan tak Kunjung Datang

Itu baru dua kalimat pertama dari sebuah alinea yang panjang dan masih ada dua alinea di bawahnya yang juga panjang. Kalau dianalisis, mungkin pembahasan terhadap kesalahan pada teks secara keseluruhan lebih panjang dibandingkan dengan teksnya sendiri.

Kalau teks itu sekadar postingan penulis pemula di media sosial atau di laman berita antah berantah, saya pasti bisa memaklumi. Namun, teks itu saya ambil dari materi pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas enam sekolah dasar anak saya, di sebuah SD di kota kecil kami, di belahan selatan Kabupaten Brebes.

Ketika pertama kali membacanya, karena harus membantu anak saya mengerjakan PR, saya syok. Saya tidak bisa sekali paham ketika membaca kalimat-kalimatnya yang rata-rata sama sekali tidak efektif. Bahkan setelah membaca berulang-ulang seluruh teks, saya mesti meresapi dan merenung untuk benar-benar memahami isinya.

Baca juga: Coffee Break: Setahun Nonstop Bekerja dari Rumah

Kemudian, apa yang saya rasakan adalah jengkel. Saya saja, yang terbiasa membaca tiap hari, kerepotan membaca dan memahami teks itu, apalagi anak saya yang baru berumur sebelas tahun dan masih senang bermain sesuai dengan “kodrat”-nya sebagai anak-anak. Bagaimana mungkin para murid SD menyerap ilmu dengan baik jika dijejali teks sampah macam itu?

Namun, akhirnya saya hanya bisa pasrah karena saya tidak tahu harus berbuat apa dan kepada siapa mesti melapor. Ketika saya coba bertanya kepada adik saya yang penilik SMP Disdik Brebes, apakah ada kewajiban Disdik mengawasi materi pelajaran yang diberikan kepada peserta didik, adik saya menjawab ada. Tapi ketika saya menguraikan masalahnya, dia malah menyalahkan gurunya. Saya katakan mungkin saja gurunya hanya manut aturan kepala sekolah dan kepala sekolah mendapat tekanan dari atas.

Ketika saya unggah keluhan tentang teks Bahasa Indonesia itu di media sosial, muncul banyak tanggapan. Salah satu tanggapan itu rasanya mewakili kejengkelan saya: Saya kira teks di buku pelajaran siswa itu bukan lelucon! Tapi perusakan serius dan penulisnya tak bermoral! Jauh lebih bagus buku-buku pelajaran sekolah buatan penjajah Belanda dulu, terbitan J.B. Wolters, dll.

Salah satu tanggapan lain berbunyi begini: BKS, ya? Saya suka sebel kalau anak-anak dikasih BKS. Emang sih harga bukunya terjangkau, tapi kualitasnya rata-rata buruk. Dan terlihat sekali miskin editing. (Bagi yang belum tahu, BKS adalah buku kerja siswa, istilah yang hampir sama dengan LKS, lembar kerja siswa, yang entah mengapa malah lebih lebih banyak dipakai dibandingkan dengan buku paket yang dianjurkan dinas pendidikan.)

Dan contoh di awal tulisan ini saya kutipkan hanya dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ada sekian mata pelajaran dan sebagian materinya benar-benar di luar nalar. Materi pelajaran Seni Budaya dan Prakarya antara lain berisi teori seni musik seakan-akan para murid itu sedang diarahkan untuk menjadi ahli seni musik. Materi Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan seoolah-olah para murid sedang dididik untuk menjadi pakar olahraga.

Satu hal: orang tua yang repot tapi murid-murid tidak bertambah cerdas dan entah di mana peran Menteri Pendidikan. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved