Coffee Break
Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Bus Bertuliskan Tottenham Hotspur
Bus-bus memang biasa memasang macam-macam tulisan di kaca belakang, kaca pinggir, atau di atas kaca depan.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Oleh Hermawan Aksan
PADA pertengahan 1980-an, dalam sebuah perjalanan naik bus menuju Bandung, saya melihat sebuah bus di depan kami yang kaca belakangnya diberi tulisan dengan huruf-huruf besar memenuhi kaca: TOTTENHAM HOTSPUR.
Bus-bus memang biasa memasang macam-macam tulisan di kaca belakang, kaca pinggir, atau di atas kaca depan.
Ada yang hanya satu kata serius macam “Bismillah”, ada yang satu kata bernada canda seperti “Ganjen”, tapi banyak pula yang terdiri atas beberapa kata, misalnya “Pergi demi Tugas, Pulang demi Beras”.
• Coffee Break Tribun Jabar Minggu Ini: Covid-19 Sudah Menerkam
• Coffee Break Minggu Ini: Liga nan tak Kunjung Datang
Pada dasarnya, tulisan-tulisan di bus itu mirip dengan tulisan-tulisan di belakang bak truk.
Bedanya, di bak truk rata-rata tulisan itu terdiri atas beberapa kata atau kalimat lengkap dan sering dibarengi dengan lukisan, terutama lukisan wanita cantik dengan pose sensual.
Saya tahu Tottenham Hotspur adalah nama sebuah klub sepak bola di Liga Inggris, tapi waktu itu saya kurang mengenalnya.
Namanya masih kalah dibandingkan dengan Nottingham Forest, misalnya, yang waktu itu masih disegani di divisi utama Liga Inggris (sebelum berubah menjadi Premier League).
Namun, sejak melihat terpampang di kaca bus, nama Tottenham Hotspur jadi terasa dekat dan setiap saya membaca berita olahraga yang menyebut nama klub ini, saya menjadi punya perhatian yang lebih.
Entah mengapa bus itu diberi tulisan nama klub yang kurang terkenal.
Sepanjang sejarahnya, Spurs, sebutan singkat Tottenham Hotspur, bisa dikatakan bukanlah klub elite Liga Inggris.
Prestasinya biasa-biasa saja. Spurs hanya beberapa kali juara divisi utama Liga Inggris, itu pun terjadi pada tahun 1950-an dan 1960-an.
Setelah itu, mereka hanya menjadi tim medioker. Mereka hanya beberapa kali menjuarai Piala FA, Piala Liga, dan Charity Shield.
Di level Eropa, mereka pernah menjuarai Piala UEFA dan Piala Winners (sebelum dilebur menjadi Liga Eropa) dan terakhir, pada musim 2019, sekali menjadi runner up Liga Champions setelah di final menyerah kepada Liverpool.
Meskipun demikian, saya menyukai Spurs justru karena kesan sederhananya, tidak pernah jor-joran memborong pemain bintang seperti yang gemar dilakukan Chelsea dan Manchester City.