Cerpen
Cinta Sang Raja
PAGI di White Kingdom biasanya damai, diawali dengan diskusi santai, ditemani teh beraroma mawar. Apalagi jika ditemani Marion, istriku, sang Ratu.
Namun, tampaknya, serangan mengalir semakin deras. Aku ikut bertarung hingga keluar batas ruang takhta. Beberapa kesatria mendampingiku untuk melawan tiap musuh yang datang.
Seorang kesatria tiba-tiba menyeruak masuk, jubah putihnya koyak, tubuhnya penuh luka.
"Yang Mulia! Ada pesan dari Yang Mulia Ratu Marion!"
"Katakan!" Aku menjawab sambil memutar pedang, menangkis serangan seorang kesatria Hitam, sekaligus memenggal kepalanya.
"King Bauer sudah tiba di gerbang, Ratu Marion akan menghadapinya satu lawan satu!"
Aku terperangah. "Apa?"
Aku tahu, Marion bukanlah petarung biasa, ia juga cerdik. Namun, King Bauer terkenal licik. Pedangnya yang besar telah memakan begitu banyak korban karena ia jarang sekali membiarkan lawannya hidup. Ia pun memiliki banyak panglima yang bengis dan tak berbelas kasihan.
"Ratu juga berpesan, saya harus melindungi King Lasker di dalam istana."
Aku sempat terpaku, tapi tak punya waktu untuk berdebat. Si pembawa pesan langsung ikut bertarung di sisiku.
Aku mengayunkan pedang memutar, menusuk, menghabisi sekaligus tiga-empat tentara Hitam yang mengepungku. Darahku mengucur, tapi adrenalin membuatku tak merasakan apa-apa. Pikiranku terpusat pada takhta yang harus kulindungi, dan Marion.
Entah berapa puluh tentara yang telah mati di ujung pedangku, tapi aku belum kehilangan napas. Aku masih sempat melihat beberapa kesatria berkuda hitam memasuki taman. Rumpun mawar milik Marion pun rata diterjang kaki-kaki kuda.
Aku sedang menatap marah pada mawar terakhir yang belum patah saat sebuah panah menembus bahu kananku.
"Aarrghh ...!"
Sekuat tenaga, lenganku berusaha menahan beban pedang. Kutatap kesatria berkuda yang baru saja mengirimkan anak panahnya, murka. Aku bersiap melompat menerjangnya.
Lalu tiba-tiba, sebuah benturan logam yang berat melemparkanku kembali ke tanah.
King Bauer berdiri di tengah arena, pedang bengkoknya yang besar telah berubah warna menjadi merah darah. Seorang panglima bertubuh raksasa mendampinginya. Ia bertopeng hitam, tangannya menggenggam pedang yang sama besar dengan junjungannya.
"Menyerahlah, Lasker."
Aku berdiri. "Tidak. White Kingdom takkan pernah tunduk. Aku dan Marion akan—"
"Marion? Ha-ha-ha ...!" Bauer terbahak. "Dia sudah mati. Sayang sekali memang, tapi ia sendiri yang memilih untuk mati. Untukmu. Sungguh romantis," ejeknya.
Jantungku terasa lepas. Bisa apa aku tanpa Marion?
Sang panglima bertopeng itu maju.
"Habisi dia!" perintah Bauer.
Aku menolak untuk menyerah. Dengan sisa-sisa tenaga, kuhindari ayunan pedang lawan, berguling ke samping, hendak menusuk dari bawah.
Panglima Hitam itu membaca gerakanku. Ia menggeser kakinya untuk menendangku dengan sepatunya yang berlapis duri logam.
Aku terlempar, membentur tiang pualam. Kepalaku seakan pecah. Kurasakan cairan mengalir di antara pelipis dan telingaku. Pandanganku samar. Tubuhku terasa lumpuh.
Aku tak rela wajah hitam itu menjadi pemandangan terakhirku. Jadi, saat ia mengayunkan pedangnya, aku memejamkan mata.
Bayangan Marion ada di sana. Menyambutku.
Suara riuh di sekeliling pun hilang. Dialog di malam pernikahan kami menggema. Kami sedang bermain catur. Marion hendak membunuh bidak ratuku.
"Permainan segera berakhir, sayangku. Ratumu kalah."
"Aku masih punya Raja." Aku berkilah.
"Tak ada gunanya. Ketika Ratu mati, Raja tak sanggup lagi bertarung. Terlalu cinta, menurutku."
Aku tersenyum kepadanya. "Ya, sepertinya begitu."
Aku menyambut uluran tangan Marion saat sebuah suara yang keras tiba-tiba menggelegar di telinga.
"SKAKMAT!"
***
Catatan:
· Dialog Manuel dan Marion di bagian terakhir disadur dari film Penelope (2007)
· Emanuel Lasker (Jerman) dan Johann Bauer (Austria) adalah nama master catur dunia terkenal di akhir abad ke-19.
Rani Aditya, seorang ibu rumah tangga dan penulis, anggota Komunitas Nulis Aja Dulu di grup Facebook.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/bidak-catur.jpg)