Cerpen
Cinta Sang Raja
PAGI di White Kingdom biasanya damai, diawali dengan diskusi santai, ditemani teh beraroma mawar. Apalagi jika ditemani Marion, istriku, sang Ratu.
Cerpen Rani Aditya
PAGI di White Kingdom biasanya damai, diawali dengan diskusi santai, ditemani teh beraroma mawar. Apalagi jika ditemani Marion, istriku, sang Ratu yang kecerdasan dan kecantikannya tak ada bandingannya di negeri ini.
Ya, biasanya.
Namun, pagi itu bukanlah pagi biasa.
Seorang pengawal tergopoh-gopoh menghadap. Aura wajahnya yang gelisah menghapus senyum dari wajahku.
"Rajaku yang mulia, King Lasker of The White Kingdom, hamba mohon izin melaporkan." Ia berkata lantang, lalu membungkuk takzim.
Aku tegak di kursi tinggiku yang berlapis pualam, bersandaran bulu beruang kutub.
"Ada apa?"
"Mata-mata melaporkan, Negeri Utara—Black Empire—sedang menyiapkan pasukannya."
Seketika aku berdiri dan mulai berjalan bolak-balik, kebiasaanku saat gelisah. Marion meraih tanganku.
"Duduklah, Manuel," bujuknya.
"Kukira itu hanya ancaman kosong! Berani sekali!"
Marion menarikku duduk. "Kita bisa mengatur strategi. Jangan terlalu khawatir."
Aku menatap Marion, penasihat sekaligus permaisuriku tercinta. Perempuan paling pintar seantero negeri. Kecantikannya menghanyutkan siapa pun yang memandangnya. Tak ada satu pun di kerajaan ini yang protes ketika aku menjadikannya ratu.
Kecuali Johann Bauer, raja negeri tanah hitam di utara, yang juga mengincar Marion. Kedua kerajaan kami telah berbagi wilayah kekuasaan selama ratusan tahun. Tidak pernah ada konflik berarti.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/bidak-catur.jpg)