Breaking News:

Cerpen

Larangan Membuka Mulut

Nyaris lima bulan tak sadarkan diri lantaran sebuah "kecelakaan", ia siuman di tengah hajat hidup yang demikian berbeda. Semua orang menutup mulut.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Tanpa Kata, Tanpa Suara 

"Tentu. Lantaran kau suamiku!" jawabnya seraya menoleh sekilas dan kembali lagi sibuk melukis.

Lelaki yang duduk di sofa berwarna merah marun itu membuang asap rokoknya dengan kesal. Diisapnya rokok itu dalam-dalam, kemudian diembuskannya sekuat tenaga. Di kepalanya menginginkan asap itu sampai ke istrinya dan perempuan muda itu menaruh perhatiannya kepadanya.

"Bukan sekadar lantaran aku suamimu! Melainkan hanya aku yang paling sabar di atas dunia ini dengan sifatmu yang tak pernah menaruh peduli!" ucap lelaki berkumis itu dengan suara sedikit seru.

Mendengar ucapan suaminya, perempuan itu hanya tertawa lunak sembari mengambil pisau palet. Diambilnya warna cat kuning lemon dari kotak di sampingnya dan digoreskannya warna itu di atas lukisannya yang hampir jadi.

"Sebentar lagi lukisannya selesai," jawabnya perlahan dengan sabar.

Memang lukisan itu sudah jadi. Lukisan pemandangan sebuah kolam dengan lima ekor angsa di sana. Tentu dengan sepasang manusia yang bertemu. Ini bukan kali pertama suaminya merajuk lantaran merasa tak diperhatikan. Sejak masa berpacaran dulu ia begitu mengenal tabiat lelaki yang dirasanya sangat ia cintai. Tapi siapakah yang bisa mengalihkan dirinya dari melukis? Tak ada. Setelah rampung dengan lukisan satu, ia akan mengambil kanvas baru dan mulai melukis lukisan baru. Kali ini dia melukis seorang pemuda. Lelaki berambut bergelombang yang dipotong pendek, wajah lelaki muda klimis tanpa adanya kumis. Dari sket awal sudah terlihat bagaimana cerianya wajah pemuda itu. Lalu, hari berikutnya dia sudah tenggelam di dalam lukisannya. Lukisan seseorang yang berukuran paling besar selama dirinya melukis. Lukisan dengan diameter kanvas dua kali dua meter. Matanya selalu bersorot penuh cinta ketika menggoreskan warna demi warna menggunakan pisau palet. Suaminya, lelaki berambut cepak dan berkumis tebal itu, kerap kali masih merajuk. Melontarkan perkataan-perkataan yang menyinggung perasaannya, tapi kerap kali dirinya tak peduli. Lukisan di depannya terlalu menyedot perhatiannya. Bahkan acap kali dia tak mendengar apa saja yang diucapkan suaminya.

Siang itu tak seperti biasanya, hujan baru saja mengguyur kota. Aroma tanah menguar sampai ke dalam rumah. Lukisan si pemuda yang sedang dia kerjakan hampir jadi. Ia hanya perlu memberikan beberapa sentuhan warna untuk menegaskan lukisan pemuda yang sedang tertawa lebar itu. Di tengah kesibukannya, secara tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dengan benda keras. Benturan itu membuatnya terkejut, lalu seketika gelap, teramat gelap.

Sekarang di kamar rawat, dia mencoba mengingat apa yang menyebabkannya dihantam sedemikian rupa. Tapi ia sulit menemukan jawabannya. Siapa yang tega memukulnya pun tak juga dia temukan jawabannya. Kecuali perasaan sepi, lantaran suaminya tak jua muncul membesuknya. Sampailah di hari itu, sepupu perempuan yang menyebabkan beo kakek mati muncul. Ada rona bahagia sekaligus kesedihan di raut wajah penulis kenamaan itu. Sepupu itu bahkan sempat menangis, tersedu tanpa mengatakan sebabnya. Sampai ia yang lelah melihat perempuan muda itu menegur, mengapa menangis dan ke mana perginya suami yang ditunggunya.

"Dia ditemukan mengambang di danau kota dengan surat wasiat di ransel yang dia tinggalkan di bawah pohon ketapang pinggir danau. Dia mengatakan bahwa ia kecewa denganmu dan kecewa atas dirinya sendiri karena telah mencelakakanmu. Dia cemburu dengan pemuda yang kaulukis! Menurutnya, kau telah berselingkuh dengan laki-laki yang lebih muda!" perempuan muda itu menjeda ucapannya, sebelum melanjutkan. "Tapi lebih dari itu semua, dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri lantaran tega memukul kepalamu, tanpa memberimu kesempatan untuk berbicara mengenai lukisanmu."

Mendengar itu semua dirinya tak bisa membuka mulut. Air matanya leleh. Kali ini tangisnya yang pecah. Lelaki yang menjadi teman hidupnya selama hampir sepuluh tahun sengaja menenggelamkan dirinya sendiri!

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved