Cerpen

Larangan Membuka Mulut

Nyaris lima bulan tak sadarkan diri lantaran sebuah "kecelakaan", ia siuman di tengah hajat hidup yang demikian berbeda. Semua orang menutup mulut.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Tanpa Kata, Tanpa Suara 

"Dia ditemukan mengambang di danau kota dengan surat wasiat di ransel yang dia tinggalkan di bawah pohon ketapang pinggir danau. Dia mengatakan bahwa ia kecewa denganmu dan kecewa atas dirinya sendiri karena telah mencelakakanmu. Dia cemburu dengan pemuda yang kaulukis! Menurutnya, kau telah berselingkuh dengan laki-laki yang lebih muda!" perempuan muda itu menjeda ucapannya, sebelum melanjutkan. "Tapi lebih dari itu semua, dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri lantaran tega memukul kepalamu, tanpa memberimu kesempatan untuk berbicara mengenai lukisanmu."

Mendengar itu semua dirinya tak bisa membuka mulut. Air matanya leleh. Kali ini tangisnya yang pecah. Lelaki yang menjadi teman hidupnya selama hampir sepuluh tahun sengaja menenggelamkan dirinya sendiri!

Ia kembali ke rumah dengan hati patah yang dilumuri dukacita. Rasa kehilangan yang entah meremas perasaannya. Di studio lukis miliknya, lukisan pemuda yang sedang tertawa itu masih bertengger di tempatnya. Perlahan dikeluarkannya sebuah foto dari dompet. Dua foto yang kerap dia bawa ke mana-mana. Foto mendiang suaminya. Diamatinya foto dan lukisan itu beberapa kali. Lalu lirih dia berucap sendiri sembari menatap dalam-dalam foto mendiang suaminya.

"Bagaimana bisa kau tak mengenali dirimu sendiri? Dirimu saat berusia tujuh belas tahun!"

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved