Cerpen

Larangan Membuka Mulut

Nyaris lima bulan tak sadarkan diri lantaran sebuah "kecelakaan", ia siuman di tengah hajat hidup yang demikian berbeda. Semua orang menutup mulut.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Tanpa Kata, Tanpa Suara 

Mendengar ucapannya, perawat itu tertawa. Lalu seolah tersadar sesuatu, perawat itu melihat jam dan terburu-buru pergi meninggalkan cerita yang seolah belum usai. Ia terkapar sendirian di kamar rawat. Kamar yang sepenuhnya dibayarkan oleh asuransi. Matanya menatap langit-langit kamar dengan buram. Didengarnya napasnya sendiri, berat lantaran ada selongsong pelindung membekap mulutnya.

Matanya dipejamkan, mereka ulang apa saja yang terjadi di hari dirinya ditetak seseorang. Mungkin seseorang yang dikenalnya, tetapi tak pernah ia duga akan menetak kepalanya. Tapi, mungkin bukan orang yang disangkanya itu? Dia benar-benar tak tahu siapa yang mencelakainya. Dia mencoba berpikir dengan keras, tapi selongsong pelindung mulut yang dia kenakan seolah membuat pikirannya jauh lebih mampat dari seharusnya.

**

LAGU "Free As a Bird" dari Beatles mengalun perlahan. Dia sedang memberikan bayangan dua manusia yang bertemu di lukisannya. Cuaca sedang terik di luar, suara klakson meningkahi keadaan yang mungkin demikian sibuk di sana. Namun ia seolah tak terganggu, lukisan di depannya harus secepatnya selesai.

"Kau tahu, mengapa aku menjadi laki-laki yang paling baik untukmu?"

Suara itu terdengar. Suara yang berat dan sedikit serak. Mendengar ucapan itu dirinya yang sedang sibuk melukis hanya tersenyum simpul.

"Tentu. Lantaran kau suamiku!" jawabnya seraya menoleh sekilas dan kembali lagi sibuk melukis.

Lelaki yang duduk di sofa berwarna merah marun itu membuang asap rokoknya dengan kesal. Diisapnya rokok itu dalam-dalam, kemudian diembuskannya sekuat tenaga. Di kepalanya menginginkan asap itu sampai ke istrinya dan perempuan muda itu menaruh perhatiannya kepadanya.

"Bukan sekadar lantaran aku suamimu! Melainkan hanya aku yang paling sabar di atas dunia ini dengan sifatmu yang tak pernah menaruh peduli!" ucap lelaki berkumis itu dengan suara sedikit seru.

Mendengar ucapan suaminya, perempuan itu hanya tertawa lunak sembari mengambil pisau palet. Diambilnya warna cat kuning lemon dari kotak di sampingnya dan digoreskannya warna itu di atas lukisannya yang hampir jadi.

"Sebentar lagi lukisannya selesai," jawabnya perlahan dengan sabar.

Memang lukisan itu sudah jadi. Lukisan pemandangan sebuah kolam dengan lima ekor angsa di sana. Tentu dengan sepasang manusia yang bertemu. Ini bukan kali pertama suaminya merajuk lantaran merasa tak diperhatikan. Sejak masa berpacaran dulu ia begitu mengenal tabiat lelaki yang dirasanya sangat ia cintai. Tapi siapakah yang bisa mengalihkan dirinya dari melukis? Tak ada. Setelah rampung dengan lukisan satu, ia akan mengambil kanvas baru dan mulai melukis lukisan baru. Kali ini dia melukis seorang pemuda. Lelaki berambut bergelombang yang dipotong pendek, wajah lelaki muda klimis tanpa adanya kumis. Dari sket awal sudah terlihat bagaimana cerianya wajah pemuda itu. Lalu, hari berikutnya dia sudah tenggelam di dalam lukisannya. Lukisan seseorang yang berukuran paling besar selama dirinya melukis. Lukisan dengan diameter kanvas dua kali dua meter. Matanya selalu bersorot penuh cinta ketika menggoreskan warna demi warna menggunakan pisau palet. Suaminya, lelaki berambut cepak dan berkumis tebal itu, kerap kali masih merajuk. Melontarkan perkataan-perkataan yang menyinggung perasaannya, tapi kerap kali dirinya tak peduli. Lukisan di depannya terlalu menyedot perhatiannya. Bahkan acap kali dia tak mendengar apa saja yang diucapkan suaminya.

Siang itu tak seperti biasanya, hujan baru saja mengguyur kota. Aroma tanah menguar sampai ke dalam rumah. Lukisan si pemuda yang sedang dia kerjakan hampir jadi. Ia hanya perlu memberikan beberapa sentuhan warna untuk menegaskan lukisan pemuda yang sedang tertawa lebar itu. Di tengah kesibukannya, secara tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dengan benda keras. Benturan itu membuatnya terkejut, lalu seketika gelap, teramat gelap.

Sekarang di kamar rawat, dia mencoba mengingat apa yang menyebabkannya dihantam sedemikian rupa. Tapi ia sulit menemukan jawabannya. Siapa yang tega memukulnya pun tak juga dia temukan jawabannya. Kecuali perasaan sepi, lantaran suaminya tak jua muncul membesuknya. Sampailah di hari itu, sepupu perempuan yang menyebabkan beo kakek mati muncul. Ada rona bahagia sekaligus kesedihan di raut wajah penulis kenamaan itu. Sepupu itu bahkan sempat menangis, tersedu tanpa mengatakan sebabnya. Sampai ia yang lelah melihat perempuan muda itu menegur, mengapa menangis dan ke mana perginya suami yang ditunggunya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved