Rabu, 10 Juni 2026

Cerpen

Larangan Membuka Mulut

Nyaris lima bulan tak sadarkan diri lantaran sebuah "kecelakaan", ia siuman di tengah hajat hidup yang demikian berbeda. Semua orang menutup mulut.

Tayang:
Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen Tanpa Kata, Tanpa Suara 

Oleh Artie Ahmad

IA tak benar-benar mengerti mengapa dunia begitu berubah. Nyaris lima bulan tak sadarkan diri lantaran sebuah "kecelakaan", ia siuman di tengah hajat hidup yang demikian berbeda. Semua orang menutup mulut. Tak ada dilihatnya bibir bergincu milik orang lain, tak ada dilihatnya kumis melintang, semua mulut ditutup rapat. Konon, dari ucapan-ucapan yang didengarnya samar-samar dari kamar rawat, hajat hidup yang diubah tak lain adalah menutup mulut.

"Mungkin, jika makan minum tak lewat mulut, semua mulut manusia di muka bumi ini akan dijahit permanen," batinnya dengan rasa heran.

Orang-orang datang dengan kabar adanya pandemi. Seorang perawat, yang tak lagi bisa dikenali wajahnya lantaran memakai selongsong penutup mulut dan kacamata putih besar, berbicara dengannya mengenai kabar itu tepat dua hari setelah dirinya siuman.

"Pandemi yang menakutkan. Sudah memakan ribuan nyawa. Pandemi yang datang dari negeri seberang, tapi meneror seantero negeri kita!" ujar perawat yang namanya tak juga bisa dia eja lantaran kacamatanya entah di mana.

Tentu kabar tentang pandemi yang menelan banyak nyawa akan membuatnya terkejut. Tidur yang dipaksa lantaran tempurung kepalanya ditetak seseorang itu membuat kesadarannya terganggu.

"Lantas mengapa semua orang harus menutup mulutnya? Memakai selongsong?" pertanyaannya meluncur setelah dia berusaha membuka mulut. Sesungguhnya itu bukan pertanyaan, melainkan keluhan lantaran kini mulutnya pun harus ditutup selongsong pelindung yang pengap dan membuat napasnya sedikit tersengal. Sudah lebih dari seminggu dia siuman hari itu.

"Norma baru di hidup kita sekarang bertambah. Menutup mulut menggunakan selongsong pelindung seperti ini," jawab perawat perempuan itu sembari menunjuk selongsong yang menutup mulutnya. "Jika tidak memakainya, sekarang kita dinilai tidak sopan dan disangka menularkan penyakit. Bukan sekadar menularkan, tetapi lebih celaka lagi ditularkan penyakit itu dari orang lain!"

Dengan kepala yang masih kerap berdenyut, dia berpikir mengapa membuka mulut saja bisa menjadi ketidaksopanan saat ini. Bukankah dulu kesopanan itu tak lebih dari tingkah laku menyinggung dari gerak tubuh atau berbicara menyakitkan telinga orang lain misalnya? Membuka mulut tak pernah menjadi bagian dari ketidaksopanan. Ah, ya, kecuali menguap lebar-lebar!

Meski mencoba berpikir keras, dia tak menemukan jawaban dan sesungguhnya tak benar-benar memerlukan jawaban. Jawaban yang dia butuhkan tak lain siapakah yang tega menetak kepalanya dengan benda keras.

Dengan mata yang sedikit kabur lantaran tanpa kacamata, ditatapnya perawat perempuan yang sedang bercerita tak henti. Perawat itu memanglah sangat baik. Kata beberapa perawat lain, perawat inilah yang menungguinya selama melewati fase koma. Masa ketika dirinya tertidur dan hanya menjalani hidup lewat mimpi-mimpi atau lebih sering gelap sama sekali. Masa ketika dirinya berdiri di jurang yang disebut nyaris mati.

"Seharusnya Anda menjadi penulis saja," ujarnya perlahan saat perawat perempuan itu menjeda ceritanya.

"Saya tak pandai menulis," perawat itu menimpali seraya tersenyum. Ya, tersenyum dilihat dari matanya yang menyipit tapi terlihat binar di sana.

"Saya punya sepupu perempuan, seorang penulis andal. Dia cerewet sekali. Sejak kecil dia jago bercerita. Suaranya demikian berisik seperti kaleng rombeng. Beo milik kakek saya sampai mati, lantaran stres ada yang lebih cerewet dari dia!"

Mendengar ucapannya, perawat itu tertawa. Lalu seolah tersadar sesuatu, perawat itu melihat jam dan terburu-buru pergi meninggalkan cerita yang seolah belum usai. Ia terkapar sendirian di kamar rawat. Kamar yang sepenuhnya dibayarkan oleh asuransi. Matanya menatap langit-langit kamar dengan buram. Didengarnya napasnya sendiri, berat lantaran ada selongsong pelindung membekap mulutnya.

Matanya dipejamkan, mereka ulang apa saja yang terjadi di hari dirinya ditetak seseorang. Mungkin seseorang yang dikenalnya, tetapi tak pernah ia duga akan menetak kepalanya. Tapi, mungkin bukan orang yang disangkanya itu? Dia benar-benar tak tahu siapa yang mencelakainya. Dia mencoba berpikir dengan keras, tapi selongsong pelindung mulut yang dia kenakan seolah membuat pikirannya jauh lebih mampat dari seharusnya.

**

LAGU "Free As a Bird" dari Beatles mengalun perlahan. Dia sedang memberikan bayangan dua manusia yang bertemu di lukisannya. Cuaca sedang terik di luar, suara klakson meningkahi keadaan yang mungkin demikian sibuk di sana. Namun ia seolah tak terganggu, lukisan di depannya harus secepatnya selesai.

"Kau tahu, mengapa aku menjadi laki-laki yang paling baik untukmu?"

Suara itu terdengar. Suara yang berat dan sedikit serak. Mendengar ucapan itu dirinya yang sedang sibuk melukis hanya tersenyum simpul.

"Tentu. Lantaran kau suamiku!" jawabnya seraya menoleh sekilas dan kembali lagi sibuk melukis.

Lelaki yang duduk di sofa berwarna merah marun itu membuang asap rokoknya dengan kesal. Diisapnya rokok itu dalam-dalam, kemudian diembuskannya sekuat tenaga. Di kepalanya menginginkan asap itu sampai ke istrinya dan perempuan muda itu menaruh perhatiannya kepadanya.

"Bukan sekadar lantaran aku suamimu! Melainkan hanya aku yang paling sabar di atas dunia ini dengan sifatmu yang tak pernah menaruh peduli!" ucap lelaki berkumis itu dengan suara sedikit seru.

Mendengar ucapan suaminya, perempuan itu hanya tertawa lunak sembari mengambil pisau palet. Diambilnya warna cat kuning lemon dari kotak di sampingnya dan digoreskannya warna itu di atas lukisannya yang hampir jadi.

"Sebentar lagi lukisannya selesai," jawabnya perlahan dengan sabar.

Memang lukisan itu sudah jadi. Lukisan pemandangan sebuah kolam dengan lima ekor angsa di sana. Tentu dengan sepasang manusia yang bertemu. Ini bukan kali pertama suaminya merajuk lantaran merasa tak diperhatikan. Sejak masa berpacaran dulu ia begitu mengenal tabiat lelaki yang dirasanya sangat ia cintai. Tapi siapakah yang bisa mengalihkan dirinya dari melukis? Tak ada. Setelah rampung dengan lukisan satu, ia akan mengambil kanvas baru dan mulai melukis lukisan baru. Kali ini dia melukis seorang pemuda. Lelaki berambut bergelombang yang dipotong pendek, wajah lelaki muda klimis tanpa adanya kumis. Dari sket awal sudah terlihat bagaimana cerianya wajah pemuda itu. Lalu, hari berikutnya dia sudah tenggelam di dalam lukisannya. Lukisan seseorang yang berukuran paling besar selama dirinya melukis. Lukisan dengan diameter kanvas dua kali dua meter. Matanya selalu bersorot penuh cinta ketika menggoreskan warna demi warna menggunakan pisau palet. Suaminya, lelaki berambut cepak dan berkumis tebal itu, kerap kali masih merajuk. Melontarkan perkataan-perkataan yang menyinggung perasaannya, tapi kerap kali dirinya tak peduli. Lukisan di depannya terlalu menyedot perhatiannya. Bahkan acap kali dia tak mendengar apa saja yang diucapkan suaminya.

Siang itu tak seperti biasanya, hujan baru saja mengguyur kota. Aroma tanah menguar sampai ke dalam rumah. Lukisan si pemuda yang sedang dia kerjakan hampir jadi. Ia hanya perlu memberikan beberapa sentuhan warna untuk menegaskan lukisan pemuda yang sedang tertawa lebar itu. Di tengah kesibukannya, secara tiba-tiba seseorang memukul kepalanya dengan benda keras. Benturan itu membuatnya terkejut, lalu seketika gelap, teramat gelap.

Sekarang di kamar rawat, dia mencoba mengingat apa yang menyebabkannya dihantam sedemikian rupa. Tapi ia sulit menemukan jawabannya. Siapa yang tega memukulnya pun tak juga dia temukan jawabannya. Kecuali perasaan sepi, lantaran suaminya tak jua muncul membesuknya. Sampailah di hari itu, sepupu perempuan yang menyebabkan beo kakek mati muncul. Ada rona bahagia sekaligus kesedihan di raut wajah penulis kenamaan itu. Sepupu itu bahkan sempat menangis, tersedu tanpa mengatakan sebabnya. Sampai ia yang lelah melihat perempuan muda itu menegur, mengapa menangis dan ke mana perginya suami yang ditunggunya.

"Dia ditemukan mengambang di danau kota dengan surat wasiat di ransel yang dia tinggalkan di bawah pohon ketapang pinggir danau. Dia mengatakan bahwa ia kecewa denganmu dan kecewa atas dirinya sendiri karena telah mencelakakanmu. Dia cemburu dengan pemuda yang kaulukis! Menurutnya, kau telah berselingkuh dengan laki-laki yang lebih muda!" perempuan muda itu menjeda ucapannya, sebelum melanjutkan. "Tapi lebih dari itu semua, dia sangat kecewa dengan dirinya sendiri lantaran tega memukul kepalamu, tanpa memberimu kesempatan untuk berbicara mengenai lukisanmu."

Mendengar itu semua dirinya tak bisa membuka mulut. Air matanya leleh. Kali ini tangisnya yang pecah. Lelaki yang menjadi teman hidupnya selama hampir sepuluh tahun sengaja menenggelamkan dirinya sendiri!

Ia kembali ke rumah dengan hati patah yang dilumuri dukacita. Rasa kehilangan yang entah meremas perasaannya. Di studio lukis miliknya, lukisan pemuda yang sedang tertawa itu masih bertengger di tempatnya. Perlahan dikeluarkannya sebuah foto dari dompet. Dua foto yang kerap dia bawa ke mana-mana. Foto mendiang suaminya. Diamatinya foto dan lukisan itu beberapa kali. Lalu lirih dia berucap sendiri sembari menatap dalam-dalam foto mendiang suaminya.

"Bagaimana bisa kau tak mengenali dirimu sendiri? Dirimu saat berusia tujuh belas tahun!"

***

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved