Sabtu, 23 Mei 2026

Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju

Indonesia adalah negara yang dikaruniai keberagaman luar biasa, baik dari segi suku, budaya, bahasa, maupun agama

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Dok Kemenega Jabar
KAKANWIL KEMENAG - H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat 

Pendekatan ini berpijak pada prinsip adil, berimbang, dan ketaatan terhadap konstitusi sebagai kesepakatan bangsa (Kementerian Agama RI, 2019).

Terdapat empat indikator utama dalam moderasi beragama.

Pertama, komitmen kebangsaan melalui penerimaan Pancasila dan UUD 1945. 

Kedua, toleransi dengan memberikan ruang bagi keyakinan orang lain.

Ketiga, anti-kekerasan dalam menyikapi setiap perbedaan. Keempat, akomodatif terhadap budaya lokal, yaitu menghargai tradisi sejauh tidak bertentangan dengan esensi ajaran agama.

Di Jawa Barat, implementasi program ini dilakukan melalui sosialisasi dan pelatihan yang melibatkan penyuluh, guru, tokoh agama, hingga generasi muda.

Selain itu, peran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) terus diperkuat sebagai wadah dialog dan mediasi strategis.

Melalui sinergi ini, diharapkan potensi konflik dapat dikelola dengan baik demi terciptanya harmoni sosial yang berkelanjutan di wilayah Jawa Barat.

.Sinergi Multi-Stakeholder untuk Kerukunan

Mewujudkan kerukunan umat beragama yang berkelanjutan memerlukan kolaborasi strategis antar berbagai pihak. Pemerintah, melalui Kementerian Agama, berperan sentral sebagai regulator dan fasilitator dialog dalam merumuskan kebijakan yang kondusif (Maarif, 2015).

Di sisi lain, tokoh dan organisasi keagamaan memegang peran vital sebagai agen penyebar nilai moderasi serta menjadi teladan dalam menghormati perbedaan dan menolak kekerasan.

Dunia pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, harus berfungsi sebagai laboratorium moderasi.

Kurikulum pendidikan agama perlu ditekankan pada nilai-nilai universal seperti keadilan dan kasih sayang guna membentuk karakter generasi yang toleran.

Sementara itu, media massa dan platform digital bertanggung jawab menerapkan peace journalism untuk membentuk opini publik yang menyejukkan sekaligus menangkal hoaks serta ujaran kebencian.

Terakhir, peran masyarakat sipil dan komunitas lintas iman sangat krusial di tingkat akar rumput.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved