Jebakan Perang Iran dan Ujian bagi Hegemoni Amerika
Perang modern tidak lagi dimenangkan oleh siapa yang paling kuat menyerang, tetapi oleh siapa yang paling lama mampu bertahan
Ringkasan Berita:
- Perang modern tidak lagi dimenangkan oleh siapa yang paling kuat menyerang, tetapi oleh siapa yang paling lama mampu bertahan
- Eskalasi kawasan telah mendorong Amerika Serikat menambah kekuatan militernya di Timur Tengah
- Dampak terbesar dari perang ini tidak hanya berada di medan tempur, tetapi pada sistem energi dan perdagangan global
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG -
Oleh: Marsma TNI Dr. Ir. Hikmat Zakky Almubaroq, S.Pd., M.Si.
Wakil Dekan 1 Fakultas Vokasi Logistik Militer, Universitas Pertahanan RI
Perang Modern: Bukan Soal Siapa Menyerang, Tapi Siapa Bertahan
Perang modern tidak lagi dimenangkan oleh siapa yang paling kuat menyerang, tetapi oleh siapa yang paling lama mampu bertahan.
Ada satu kekeliruan yang kerap terjadi dalam membaca perang modern: perhatian publik terlalu tertuju pada siapa menyerang siapa dengan senjata apa, padahal yang jauh lebih menentukan justru siapa yang mampu bertahan mengelola konflik, beban ekonomi, serta tekanan psikologis yang ditimbulkan oleh perang itu sendiri.
Dalam konteks inilah konflik Iran tidak cukup dibaca sebagai benturan militer biasa, tetapi sebagai pertarungan strategis yang melibatkan durasi waktu, energi, logistik, dan kalkulasi kekuasaan jangka panjang.
Risiko semacam itu kini nyata, karena gangguan di sekitar Selat Hormuz telah terbukti mengguncang pasar energi dan memaksa dunia menghitung ulang ketahanan ekonominya masing-masing.
Eskalasi Tanpa Keputusan Perang Total
Dalam beberapa pekan terakhir, eskalasi kawasan telah mendorong Amerika Serikat menambah kekuatan militernya di Timur Tengah.
Namun sampai saat ini, laporan yang kredibel baru menunjukkan pengerahan tambahan ribuan personel saja, bukan invasi darat besar-besaran ke wilayah Iran.
Reuters, misalnya, melaporkan rencana pengerahan sekitar 3.000–4.000 tentara dari 82nd Airborne, sementara laporan lain juga menyoroti kedatangan unsur marinir dan kapal perang ke kawasan.
Fakta ini penting, karena ia menandakan bahwa risiko eskalasi memang meningkat, tetapi belum cukup dasar untuk menyimpulkan bahwa Washington sudah memutuskan perang darat skala penuh.
Dalam perspektif militer, skala ini juga masih jauh dari kategori invasi besar.
Menurut Agung Sasongko Jati, pakar strategi dari PPAU, invasi darat berskala besar umumnya ditandai dengan pengerahan ratusan ribu personel, yang melibatkan kesiapan logistik, mobilisasi lintas matra, serta dukungan operasi jangka panjang.
| TOP 3 Pertamuda Tembus Top 4 Fowler GSIC 2026, sisihkan 43 peserta dari 10 Negara |
|
|---|
| Tekanan Harga BBM Bisa Makin Kuat, Pengamat: Ketergantungan Energi Indonesia Tinggi |
|
|---|
| Latihan Operasi Laut Gabungan 2026, Kapal Perang Canggih KRI Prabu Siliwangi Sita Perhatian |
|
|---|
| Diskusi Geopolitik di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko |
|
|---|
| Sentimen Damai Timur Tengah: Membaca Arah Harga Emas Pasca Gencatan Senjata AS-Iran |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Marsma-TNI-Dr-Ir-Hikmat-Zakky-Almubaroq-SPd-MSi.jpg)