Jumat, 24 April 2026

Ekonomi yang Terluka: Dampak HIV Perempuan dan Anak yang Jarang Dibahas Negara

Jarang ada yang melihat bahwa HIV juga adalah isu ekonomi, isu sosial, dan isu masa depan kualitas manusia.

Dokumen Pribadi
Dr. Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, MM menyampaikan tak sekedar isu kesehatan, HIV juga adalah isu ekonomi, isu sosial, dan isu masa depan kualitas manusia. Apalagi ketika berbicara tentang perempuan dan anak penyintas dua kelompok yang paling terdampak, namun paling jarang diberi ruang suara. 

1. Kerentanan kesehatan yang membuat mereka membutuhkan pengawasan medis lebih intensif.

2. Kerentanan akses pendidikan akibat stigma, bullying, atau karena keluarga harus memilih antara biaya kesehatan dan biaya sekolah.

Bagi anak penyintas perempuan, tekanan sosialnya dua kali lipat. Mereka tumbuh bukan hanya dengan barcode penyakit, tapi barcode diskriminasi.

Padahal anak-anak ini punya hak yang sama untuk belajar, bermain, dan tumbuh seperti anak lain. Jika mereka jatuh dalam siklus kemiskinan, bangsa ini akan kehilangan potensi masa depan yang seharusnya bisa kita jaga.

Stigma: Pajak Tidak Resmi yang Dibayar Setiap Hari 

Dalam ekonomi publik, ada istilah hidden cost—biaya tak terlihat tetapi besar. Bagi penyintas HIV, hidden cost itu bernama stigma. Stigma adalah pajak sosial yang mereka bayar setiap hari tanpa pernah disahkan dalam undang-undang:

-          Sulit diterima kerja karena status kesehatan, 

-          Mendapat perlakuan berbeda dari tetangga atau komunitas,

-          Kehilangan jaringan sosial yang seharusnya menopang ekonomi mereka,

-          enggan mencari pengobatan karena takut dihakimi.

Stigma inilah yang membuat penyintas HIV bukan hanya sakit secara medis, tetapi juga tertekan secara finansial.

Biaya Ekonomi dari HIV: Lebih Besar dari yang Kita Bayangkan

Ketika penyintas hidup dalam kondisi rentan, HIV menjadi penyakit yang mahal bagi negara. Bukan karena ARV-nya—itu justru investasi baik—tetapi karena:

-          Angka rawat inap meningkat jika nutrisi tidak terpenuhi,

-          Kualitas hidup turun, produktivitas turun,

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved