Jumat, 1 Mei 2026

Ludah di Meja Kasir: Etika Pendidik di Ruang Publik

Peristiwa seorang dosen yang meludahi petugas kasir jadi “cermin retak” yang memantulkan wajah buram pendidikan saat ini

Tayang:
Istimewa
MARSMA TNI - Marsma TNI Dr. Ir. Hikmat Zakky Almubaroq, S.Pd., M.Si., Wakil Dekan 1 FVLM Universitas Pertahanan RI 

Oleh: Marsma TNI Dr. Ir. Hikmat Zakky Almubaroq, S.Pd., M.Si., Wakil Dekan 1 FVLM Universitas Pertahanan RI

TRIBUNJABAR.ID - Peristiwa seorang dosen yang meludahi petugas kasir di sebuah swalayan di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Tamalanrea, Makassar, pada Kamis, 25 Desember 2025 bukan sekadar insiden etika individual. Ia adalah “cermin retak” yang memantulkan wajah buram pendidikan kita hari ini: ketika kecerdasan intelektual melesat, tetapi kedewasaan moral meleset. 

Kejadian itu berlangsung bukan di ruang kuliah atau forum akademik, melainkan di meja kasir, ruang publik paling egaliter yang pernah diciptakan peradaban modern.

Di hadapan antrean, semua gelar akademik luluh. Tidak ada profesor, doktor, atau pejabat; yang ada hanyalah manusia yang tunduk pada satu hukum universal: waktu dan ketertiban. 

Ketika hukum sederhana ini dilanggar, lalu disusul dengan tindakan meludahi sesama manusia, maka yang runtuh bukan hanya martabat personal, melainkan otoritas moral dunia pendidikan.

Antrean sebagai Ukuran Peradaban

Antrean sering dianggap remeh, padahal ia adalah kontrak sosial paling jujur dalam masyarakat modern. Dalam antrean, ego ditanggalkan, jabatan dibekukan, dan kesabaran diuji. Ketidakmampuan mengantre sejatinya menunjukkan ketidakmampuan mengelola diri di hadapan sistem yang adil.

Laporan lintas negara dari OECD menunjukkan penurunan kepercayaan publik terhadap institusi elite, termasuk pendidikan tinggi, bukan karena rendahnya kapasitas intelektual, melainkan karena jarak moral yang kian melebar antara kaum terpelajar dan masyarakat. Pendidikan dinilai mencetak orang pintar, tetapi tidak selalu melahirkan manusia yang pantas diteladani.

Dalam konteks ini, meja kasir berubah menjadi ruang ujian karakter, dan kegagalan di sana memiliki implikasi sosial yang jauh lebih luas daripada pelanggaran disiplin pribadi.

Ilmu Tanpa Kendali Diri

Sejak lama para ahli mengingatkan bahwa kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan emosional adalah kombinasi berbahaya. 

Daniel Goleman menegaskan bahwa tanpa pengendalian diri, empati, dan kesadaran sosial, kemampuan kognitif justru dapat mempercepat perilaku destruktif.

Kasus di Makassar memperlihatkan bagaimana ilmu yang tidak disertai adab berubah menjadi instrumen dominasi. Gelar akademik, yang seharusnya menjadi simbol tanggung jawab moral, dipakai untuk menuntut perlakuan istimewa di ruang publik. Di sinilah letak masalah struktural pendidikan kita: “karakter sering diperlakukan sebagai pelengkap, bukan fondasi”.

Ruang Kelas yang Bergeser Arah

Masalah ini tidak berhenti pada satu peristiwa. Di banyak ruang kelas hari ini, terjadi pergeseran peran guru yang mengkhawatirkan.

Alih-alih menjadi teladan akhlak dan penjaga nilai, sebagian pendidik larut menjadi kawan sebaya yang kehilangan jarak etika. 

Anak didik tidak lagi diajak menumbuhkan adab, melainkan diajak main tiktok, berjoget bersama, demi mengejar viralitas sesaat yang miskin makna pedagogis. Ruang kelas berubah dari arena pembentukan karakter menjadi panggung hiburan medsos.

Fenomena ini diperkuat data. Hasil PISA 2022 menunjukkan capaian literasi membaca dan matematika Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, sementara indikator student well-being dan discipline climate menunjukkan tantangan serius dalam ketertiban, fokus belajar, dan resiliensi. Artinya, problem kita bukan hanya kognitif, tetapi karakter dan iklim belajar.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved