Rem Darurat BEI Aktif, Pengamat: Trading Halt Bukan Tanda Krisis, Pasar Sedang Bereaksi Berlebihan
Anjloknya IHSG hingga memicu trading halt merupakan respons psikologis pelaku pasar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
Penulis: Nappisah | Editor: Muhamad Syarif Abdussalam
Ringkasan Berita:
- IHSG mengalami trading halt setelah anjlok 8 persen akibat tekanan psikologis pasar dan ketidakpastian global (29/1/2026).
- Pengamat ekonomi Uninus, Rizaldy Insan, menilai kondisi ini bukan cerminan krisis karena fundamental domestik seperti inflasi dan perbankan tetap solid.
- Investor diimbau tetap disiplin, menghindari panic sell, dan mengutamakan strategi wait and see daripada keputusan emosional.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penghentian sementara perdagangan saham (trading halt) yang kembali diterapkan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis (29/1/2026) dinilai lebih mencerminkan kepanikan pasar ketimbang memburuknya kondisi fundamental ekonomi nasional.
Hal tersebut disampaikan Dosen sekaligus pengamat ekonomi Universitas Islam Nusantara (Uninus), Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy.
Dia menilai anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga memicu trading halt merupakan respons psikologis pelaku pasar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.
“Terkait IHSG yang sempat mengalami trading halt, saya melihat ini lebih sebagai reaksi psikologis pasar ketimbang cerminan perubahan fundamental ekonomi secara drastis,” ujar Rizaldy, kepada Tribunjabar.id, Kamis (29/1/2026).
Diketahui, BEI sebelumnya menghentikan sementara perdagangan saham pada pukul 09.26.01 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS) setelah IHSG tercatat turun hingga 8 persen.
Perdagangan kembali dibuka pada pukul 09.56.01 waktu JATS tanpa perubahan jadwal. Langkah ini menjadi trading halt kedua dalam dua hari terakhir, menyusul tekanan tajam di pasar saham sejak Rabu (28/1).
Menurut Rizaldy, dalam situasi global yang penuh ketidakpastian mulai dari arah kebijakan suku bunga global, ketegangan geopolitik, hingga pergerakan arus modal asing pasar keuangan cenderung bereaksi cepat, bahkan berlebihan.
“Dalam kondisi seperti ini, trading halt justru berfungsi sebagai rem darurat. Tujuannya agar kepanikan tidak berkembang menjadi spiral tekanan yang bisa merusak pasar,” katanya.
Ia menegaskan, kondisi pasar saham saat ini belum dapat disimpulkan sebagai sinyal krisis.
Rizaldy menyebut sejumlah indikator ekonomi domestik masih berada dalam kondisi relatif terjaga.
“Inflasi masih terkendali, konsumsi domestik tetap berjalan, dan sektor perbankan juga solid. Yang terguncang lebih ke sentimen jangka pendek, bukan mesin ekonominya,” jelasnya.
Rizaldy pun mengingatkan investor, khususnya investor ritel, untuk tidak terjebak pada keputusan emosional di tengah volatilitas tinggi.
Menurutnya, sikap menunggu dan mencermati perkembangan pasar merupakan langkah yang rasional.
“Wait and see itu bukan tanda kalah mental. Justru di situ disiplin diuji. Hindari panic sell atau keputusan balas dendam dengan membeli tanpa perhitungan,” ujarnya.
| Pengamat ITB Kupas Akar Pemadaman Listrik Jawa-Bali dan Ancaman El Nino Godzila |
|
|---|
| Tahan Dulu Kredit Baru, Ini Saran Pengamat Ekonomi untuk Masyarakat saat BI-Rate Naik |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik, Pengamat: Waspada Efek Berantai dan Risiko Inflasi |
|
|---|
| Operasi Patuh Lodaya 2026 Dimulai Senin, Pakar ITB Kupas Tuntas Efektivitas Sistem ETLE |
|
|---|
| IHSG Anjlok 4,11 Persen, Pengamat Sebut Investor Sedang Kehilangan Kepercayaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ilustrasi-saham.jpg)