Kamis, 23 April 2026

Hipdut dan "Garam dan Madu" Buktikan Symbolic Convergence Theory Bentuk Realitas Sosial Anak Muda

Fenomena hipdut serta karya Tenxi, Naykilla, dan Jemsii memperlihatkan bagaimana makna dinegosiasikan oleh audiens.

|
Dokumen Pribadi
Luthfi Hudiya Fasya, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran. 

Oleh: Luthfi Hudiya Fasya

TRIBUNJABAR.ID - Fenomena Tenxi, Naykilla, Jemsii, dan berkembangnya genre hipdut memperlihatkan bagaimana musik digital masa kini dibentuk melalui penciptaan makna kolektif yang tersebar luas di berbagai platform dan sangat digemari oleh anak muda.

Popularitas lagu “Garam & Madu (Sakit Dadaku)”, salah satu karya hipdut paling viral, mencerminkan terbentuknya fantasy theme, konsep inti dalam Symbolic Convergence Theory (SCT) yang dikembangkan Ernest Bormann (1972).

SCT mendefinisikan bahwa manusia membangun realitas sosial bersama melalui cerita, simbol, dan imajinasi emosional yang pada akhirnya menyatukan persepsi kelompok.

Dalam konteks musik, fantasy theme muncul ketika audiens berbagi gambaran emosional yang sama galau, luka hati, atau katarsis yang disampaikan melalui lirik dan gaya bernyanyi.

Musik hybrid seperti hipdut, yang menggabungkan hiphop, elektronik, dan koplo, memungkinkan terjadinya konvergensi simbolik melalui ritme enerjik, bahasa sehari-hari, dan ekspresi emosional yang mudah dipahami.

Ketika lagu ini diputar ulang di TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, dan platform streaming lain, pengguna tidak hanya mengonsumsi musiknya, tetapi juga menghidupkan fantasy theme melalui meme, dance challenge, komentar, hingga remix yang memperluas jangkauan makna.

Peran Partisipasi Digital dalam Pembentukan “Rasa Kebersamaan”

Budaya partisipatif di TikTok menjadi salah satu motor penyebaran makna kolektif. Dalam kerangka SCT, komunitas pengguna yang membuat dance challenge atau edit lucu dari “Garam & Madu” merupakan bagian dari proses konvergensi simbolik, di mana berbagai individu menyatukan imajinasi mereka dalam satu alur cerita bersama.

Ketika ribuan pengguna memakai potongan lagu yang sama atau mengekspresikan emosi serupa melalui video, terbentuklah rasa kebersamaan simbolik. SCT menjelaskan bahwa kelompok tidak harus hadir secara fisik; berbagi simbol dan emosi sudah cukup untuk membentuk komunitas imajinatif.

Sirkulasi Multi-Platform sebagai Penguat “Shared Fantasy”

Pergerakan lagu dari TikTok ke Reels, Shorts, hingga platform streaming memperlihatkan fantasy chain reaction, yaitu proses ketika sebuah gagasan simbolik menyebar cepat dari satu kelompok ke kelompok lain.

“Garam & Madu” menjadi contoh bagaimana fantasy theme kecil dapat berkembang menjadi fenomena nasional. Dalam perspektif SCT, sirkulasi lintas platform memperkuat simbol, memperluas komunitas imajinatif, dan meningkatkan keterikatan antar-individu yang mengonsumsi konten serupa. Viralitas bukan hanya soal algoritma, tetapi penyebaran emosi dan cerita yang dibagikan.

Negosiasi Makna dalam Komunitas Digital

Fenomena hipdut serta karya Tenxi, Naykilla, dan Jemsii memperlihatkan bagaimana makna dinegosiasikan oleh audiens. Ada yang melihatnya sebagai hiburan segar, sebagian lain menganggapnya lucu, dan sebagian lainnya melihatnya sebagai identitas musik generasi digital.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved