Ekonomi yang Terluka: Dampak HIV Perempuan dan Anak yang Jarang Dibahas Negara

Jarang ada yang melihat bahwa HIV juga adalah isu ekonomi, isu sosial, dan isu masa depan kualitas manusia.

Dokumen Pribadi
Dr. Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, MM menyampaikan tak sekedar isu kesehatan, HIV juga adalah isu ekonomi, isu sosial, dan isu masa depan kualitas manusia. Apalagi ketika berbicara tentang perempuan dan anak penyintas dua kelompok yang paling terdampak, namun paling jarang diberi ruang suara. 

Oleh Dr. Mochammad Rizaldy Insan Baihaqqy, MM

TRIBUNJABAR.ID - Ketika kita membicarakan HIV, yang muncul di benak publik sering kali adalah isu kesehatan. Jarang ada yang melihat bahwa HIV juga adalah isu ekonomi, isu sosial, dan isu masa depan kualitas manusia. Apalagi ketika kita berbicara tentang perempuan dan anak penyintas dua kelompok yang paling terdampak, namun paling jarang diberi ruang suara.

Setiap kali saya berdialog dengan komunitas pendamping penyintas, salah satunya Female+, selalu ada pola yang sama: perempuan dan anak bukan hanya berjuang melawan virus, tapi juga melawan kemiskinan yang pelan-pelan menggulung hidup mereka. Stigma dan ketidakadilan struktural membuat mereka menanggung dua beban sekaligus beban kesehatan dan beban ekonomi.

Tulisan ini ingin mengajak pembaca melihat HIV bukan dari lensa medis saja, tetapi dari perspektif ekonomi keluarga dan ekonomi nasional. Karena faktanya: ketika HIV hadir di sebuah rumah, ekonomi rumah tangga akan berguncang. Dan ketika banyak rumah tangga mengalami guncangan yang sama, ekonomi negara ikut terdampak.

Perempuan Penyintas: Kelompok Paling Tertular, Tapi Paling Tidak Didengarkan

Di Indonesia, sebagian besar perempuan penyintas HIV terinfeksi bukan dari perilaku berisiko—tetapi dari pasangan yang tidak jujur. Ini fakta pahit yang jarang dibicarakan secara terbuka. Banyak ibu, bahkan ibu rumah tangga yang setia, akhirnya menjadi penyintas tanpa pernah punya pilihan.

Saat diagnosis ditetapkan, kehidupan berubah dalam semalam. Namun perubahan paling besar sering bukan pada kesehatan, tapi pada kesejahteraan ekonomi:

•         Kehilangan pasangan atau kehilangan sumber nafkah,

•         Penurunan produktivitas karena kontrol kesehatan rutin,

•         Status pekerjaan yang goyah akibat stigma,

•         Naiknya biaya nutrisi dan kebutuhan gizi.

ARV memang gratis, tapi hidup tidak. Transport ke rumah sakit, vitamin tambahan, makanan bergizi, serta kebutuhan anak semua itu menambah beban finansial yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan.

Ekonomi rumah tangga penyintas sering dipaksa bekerja “setengah mesin”, hanya untuk bertahan hidup.

Anak Penyintas: Generasi yang Paling Terbebani Biaya Masa Depan

Dari sisi ekonomi pembangunan, anak adalah human capital aset masa depan bangsa. Namun anak penyintas HIV menghadapi economic penalty ganda:

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved