Rabu, 27 Mei 2026

Waspada Testis Tidak Turun pada Anak: Kenali Dampaknya Terhadap Kesuburan

Kondisi testis tidak turun atau undescended testis (kriptorkismus) masih menjadi masalah kesehatan yang cukup sering ditemukan pada bayi laki-laki.

Tayang:
Penulis: Nappisah | Editor: Siti Fatimah
Istimewa
SANTOSA HOSPITAL - Dokter Spesialis Bedah Anak dari Santosa Hospital Bandung Kopo, dr. Siti Asiyah, Sp.BA menjelaskan, testis tidak turun merupakan kondisi ketika satu atau kedua testis bayi laki-laki belum berada di dalam kantung zakar (skrotum) setelah lahir. 

Oleh sebab itu, pemeriksaan rutin bayi dan anak sangat penting dilakukan, termasuk saat kontrol imunisasi maupun pemeriksaan kesehatan berkala.

dr. Siti Asiyah menuturkan bahwa testis memiliki fungsi penting dalam pembentukan hormon dan produksi sperma di masa depan. 

Dikatakannya, agar berkembang optimal, testis harus berada di skrotum yang memiliki suhu lebih rendah dibanding rongga perut.

“Bila terlalu lama berada di luar skrotum, fungsi dan perkembangan jaringan testis dapat terganggu,” jelasnya.

Apabila tidak segera ditangani, kondisi testis tidak turun dapat meningkatkan risiko gangguan kesuburan, kanker testis saat dewasa, puntiran testis atau torsio testis, hernia inguinalis, hingga gangguan perkembangan ukuran testis.

Selain itu, kondisi tersebut juga dapat menimbulkan dampak psikologis pada anak ketika mulai tumbuh besar.

Risiko gangguan kesuburan disebut akan semakin tinggi apabila penanganan dilakukan terlambat, terutama pada kasus testis tidak turun bilateral atau terjadi pada kedua sisi.

“Semakin lama testis berada di luar skrotum, semakin besar risiko kerusakan sel pembentuk sperma. Karena itu, deteksi dan penanganan dini sangat penting,” katanya.

Terkait penanganan, evaluasi idealnya sudah dilakukan sejak bayi baru lahir.

Jika hingga usia enam bulan testis belum turun spontan, anak dianjurkan menjalani pemeriksaan ke dokter spesialis bedah anak atau dokter urologi anak.

“Sementara tindakan operasi umumnya disarankan dilakukan sebelum usia satu tahun atau paling lambat sekitar 18 bulan agar hasil jangka panjang lebih optimal.”

Penanganan utama pada kasus ini adalah operasi orkidopeksi, yaitu prosedur untuk menurunkan dan menempatkan testis ke dalam skrotum serta memfiksasinya agar tetap berada pada posisi yang benar.

“Operasi dilakukan dengan pembiusan umum dan umumnya memiliki tingkat keberhasilan yang baik,” kata dr. Siti Asiyah.

Pada beberapa kasus tertentu, terutama bila testis tidak teraba, dokter juga dapat melakukan tindakan laparoskopi untuk menentukan lokasi testis sekaligus melakukan penanganan.

dr. Siti Asiyah mengimbau kepada masyarakat, khususnya para orang tua, agar lebih memperhatikan kondisi area genital anak sejak dini. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved