Jangan Anggap Sepele Sakit Campak, IDAI Jabar Ungkap Risiko Komplikasi hingga 20 Tahun Kemudian
Kini diketahui campak dapat memicu komplikasi berat bahkan bertahun-tahun setelah anak sembuh.
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Campak adalah penyakit sangat menular, bisa menular dari satu orang ke hingga 18 orang lain yang belum kebal.
- Dulu dianggap penyakit biasa, kini diketahui dapat menimbulkan komplikasi serius bahkan bertahun-tahun setelah sembuh, termasuk pneumonia, diare berat, dehidrasi, hingga gangguan saraf.
- Risiko komplikasi lebih besar pada anak di bawah dua tahun atau yang belum mendapat imunisasi campak. Kondisi imun amnesia membuat anak lebih mudah sakit.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Jawa Barat, Prof Dr.dr. Anggraini Alam mengingatkan masyarakat agar tidak lagi menganggap campak sebagai penyakit biasa yang bisa sembuh sendiri tanpa dampak serius.
Menurutnya, pemahaman lama yang menganggap anak cukup “dikumpulkan” agar semua tertular campak justru berbahaya karena kini diketahui campak dapat memicu komplikasi berat bahkan bertahun-tahun setelah anak sembuh.
“Campak itu adalah penyakit yang menular disebabkan oleh virus, namanya virus campak. Penularannya lewat percikan ludah saat bicara, batuk, atau bersin dan virusnya bisa melayang-layang di udara berjam-jam,” ujar Prof Anggraini dalam program Tribun Health, Selasa (12/5/2026).
Baca juga: BREAKING NEWS: Empat Kecamatan Kabupaten Cirebon Masuk Zona KLB Campak
Ia menjelaskan, campak merupakan salah satu penyakit paling menular di dunia. Dari satu orang yang terinfeksi, virus bisa menular kepada hingga 18 orang lain yang belum memiliki kekebalan.
“Bandingkan dengan Covid Omicron, dari satu sekitar tujuh sampai 11 bisa menular. Campak dari satu bisa 18 itu tertular,” katanya.
Prof Anggraini menilai masyarakat kini perlu mengubah pola pikir lama yang menganggap campak hanyalah penyakit biasa pada anak.
“Kita tidak ingin sampai tertular anak-anak kita. Tidak sebagaimana nenek kakek dulu yang kalau kena campak ayo disatu-satuin aja tidurnya biar kena semua. Sekarang kita tidak mau karena kita tahu sekarang bahwa campak itu memiliki komplikasi,” ujarnya.
Prof Anggraini mengatakan komplikasi campak tidak hanya muncul saat anak sedang sakit, tetapi juga dapat terjadi hingga belasan bahkan puluhan tahun kemudian.
Risiko itu terutama lebih besar pada anak usia di bawah dua tahun atau anak yang belum mendapatkan imunisasi.
“Efeknya komplikasi tidak hanya sekarang tapi juga bisa menanti 20 tahun kemudian dan dia bisa menyebabkan kekebalan kita lupa atau imun amnesia,” katanya.
Baca juga: Waspada! Kasus Campak di Kota Cimahi Melonjak, 28 Anak Positif Akibat Belum Vaksin MR
Kondisi imun amnesia itu membuat daya tahan tubuh anak menurun drastis setelah terkena campak sehingga anak menjadi lebih gampang sakit.
“Anaknya menjadi ririwit atau gampang sakit-sakitan,” ujar dia.
Ia menjelaskan, gejala awal campak biasanya muncul setelah masa inkubasi sekitar 10 hingga 14 hari sejak virus masuk ke tubuh.
Pada fase awal, anak mengalami demam, batuk, pilek, serta mata berair sebelum akhirnya muncul ruam merah khas campak.
| Gejala Awal Sulit Dikenali, Hantavirus di Indonesia Sering Menyerupai Flu dan Demam Berdarah |
|
|---|
| Rp 2,9 Triliun Sudah Digelontorkan untuk Tol Getaci, Proyek Masih Tunggu Tender Berhasil |
|
|---|
| Karawang Kebagian Proyek Giant Sea Wall, Bupati Aep: Abrasi hingga Rob Bisa Teratasi |
|
|---|
| 24 Kios PKL di Cicadas Bandung Kembali Dibongkar, Lokasinya Akan Dijadikan Koridor BRT |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Empat Kecamatan Kabupaten Cirebon Masuk Zona KLB Campak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ketua-Ikatan-Dokter-Anak-Indonesia-Jawa-Barat-Prof-Drdr-Anggraini-Ala.jpg)