Selasa, 21 April 2026

Panik Saat Anak Kejang? Kenali Penyebab dan Pertolongan Pertamanya

Menurut dr. Indra Sandinirwan,.Sp.A.,Subsp.ETIA(K), dokter spesialis anak, tidak semua kejang berarti kondisi yang berbahaya.

Penulis: Nappisah | Editor: bisnistribunjabar
Istimewa
SANTOSA HOSPITAL - Menurut dr. Indra Sandinirwan,.Sp.A.,Subsp.ETIA(K), dokter spesialis anak di Santosa Hospital Bandung Kopo, tidak semua kejang berarti kondisi yang berbahaya. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah
 
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Kejang pada anak sering kali membuat orang tua panik. Tubuh anak yang tiba-tiba kaku atau bergerak tidak terkendali memang terlihat menakutkan.
 
Menurut dr. Indra Sandinirwan,.Sp.A.,Subsp.ETIA(K), dokter spesialis anak di Santosa Hospital Bandung Kopo, tidak semua kejang berarti kondisi yang berbahaya.
 
“Penyebab paling umum kejang pada anak adalah demam, terutama pada usia 6 bulan sampai 5 tahun. Ini yang kita kenal sebagai kejang demam,” jelasnya, Kamis (16/4/2026).

2Menurut dr. Indra Sandinirwan,.Sp.A.,Subsp.ETIA(K), dokter spesialis anak di Santosa Hospital
SANTOSA HOSPITAL - Menurut dr. Indra Sandinirwan,.Sp.A.,Subsp.ETIA(K), dokter spesialis anak.

Selain demam, kejang juga bisa dipicu oleh infeksi otak seperti meningitis atau ensefalitis, epilepsi, cedera kepala, gangguan metabolik seperti gula darah rendah, hingga efek obat atau keracunan.
 
Karena penyebabnya beragam, setiap kejadian kejang tetap perlu diperiksa oleh tenaga medis.
 
"Secara umum, kejang yang tidak terlalu berisiko seperti kejang demam sederhana, biasanya berlangsung singkat, kurang dari lima menit, mengenai seluruh tubuh, dan anak akan kembali sadar dengan cepat setelahnya," katanya.
   
Sebaliknya, orang tua perlu waspada jika kejang berlangsung lebih dari lima menit, terjadi berulang dalam waktu dekat, hanya mengenai satu sisi tubuh, atau anak tidak segera sadar setelah kejang.
 
Gejala lain seperti muntah hebat, leher kaku, atau penurunan kesadaran juga perlu diperhatikan.
 
“Durasi kejang dan kondisi anak setelahnya itu sangat penting. Kalau lama atau tidak segera pulih, bisa mengarah ke kondisi darurat,” ujar dr. Indra.
 
Saat anak kejang, hal paling penting adalah tetap tenang. Anak sebaiknya dibaringkan miring agar jalan napas tetap aman dan tidak tersedak.
 
Pakaian yang ketat perlu dilonggarkan, dan benda di sekitar yang bisa melukai harus disingkirkan.
 
"Fokus utama dalam pertolongan pertama bukan menghentikan kejang secara paksa, melainkan menjaga agar anak tetap aman dan tidak mengalami cedera," katanya.
 
dr. Indra tak menampik, masih banyak mitos yang beredar di masyarakat, seperti memasukkan sendok atau jari ke dalam mulut anak saat kejang. Padahal, tindakan ini justru berbahaya karena bisa menyebabkan cedera atau tersedak.
 
"Anak juga tidak boleh ditahan gerakannya, tidak boleh diberi minum atau obat saat kejang berlangsung, dan tidak perlu diguncang," katanya.
   
Menurutnya, tindakan yang salah justru dapat memperburuk kondisi. Karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa kejang umumnya akan berhenti sendiri, dan yang terpenting adalah menjaga keselamatan anak selama episode tersebut.
 
dr. Indra menyarankan, kejang pada anak harus segera dibawa ke rumah sakit jika: berlangsung lebih dari lima menit, terjadi berulang, anak tidak sadar setelah kejang, terjadi pertama kali, terutama pada bayi, disertai demam tinggi, muntah hebat, atau tubuh sangat lemas.
 
"Dalam kondisi tersebut, orang tua disarankan tidak menunggu dan langsung membawa anak ke Instalasi Gawat Darurat (IGD)," tuturnya.
 
Banyak orang tua khawatir kejang berarti epilepsi. Padahal, sebagian besar kejang pada anak terutama yang disebabkan demam tidak berkaitan dengan epilepsi.
 
"Epilepsi biasanya dicurigai jika kejang terjadi berulang tanpa demam dan memiliki pola tertentu. Karena itu, diagnosis tidak bisa ditegakkan hanya dari satu kejadian kejang."
 
Pada anak-anak, otak masih berkembang sehingga lebih sensitif terhadap perubahan suhu tubuh.
 
"Kejang demam sering terjadi karena kenaikan suhu yang cepat, bahkan di awal demam," katanya.
 
Kabar baiknya, kondisi ini umumnya tidak menyebabkan kerusakan otak dan akan membaik seiring bertambahnya usia.
 
Meski begitu, anak yang pernah kejang tetap memiliki kemungkinan mengalami kejang kembali, terutama jika masih sering demam atau memiliki riwayat keluarga.
 
dr. Indra menyebut, pemeriksaan akan disesuaikan dengan kondisi anak. Tidak semua kasus memerlukan tes lengkap.
 
"Namun, jika diperlukan, dokter bisa melakukan pemeriksaan darah, CT scan atau MRI, rekam otak (EEG), hingga pungsi lumbal untuk memastikan penyebabnya," ujarnya.
 
Dikatakannya, untuk pencegahan, orang tua bisa fokus mengontrol demam dengan obat penurun panas, memastikan anak cukup minum, dan memantau kondisi saat sakit.
 
"Pada kondisi tertentu, dokter mungkin akan memberikan obat pencegahan, tetapi tidak semua anak memerlukannya. Oleh karena itu, penting untuk berkonsultasi terlebih dahulu sebelum memberikan terapi tambahan," jelasnya.
 
dr. Indra menjelaskan, anak perlu evaluasi lebih lanjut jika kejang terjadi berulang tanpa demam, berlangsung lama, atau disertai gangguan perkembangan. Dalam kondisi seperti ini, biasanya anak akan dirujuk ke dokter spesialis anak konsultan neurologi.
 
"Kejang pada anak memang terlihat menakutkan, tetapi tidak selalu berbahaya. Yang terpenting adalah orang tua memahami langkah pertolongan pertama dan mengenali tanda bahaya," katanya.
 
Jika kejang berlangsung lama, berulang, atau anak tidak sadar setelahnya, jangan tunda untuk mencari bantuan medis. Penanganan yang cepat dan tepat bisa mencegah komplikasi dan menyelamatkan nyawa.
 
Bagi orang tua yang ingin berkonsultasi, layanan dengan dr. Indra tersedia di Santosa Hospital Bandung Kopo pada hari Selasa, Kamis, Jumat, dan Sabtu pukul 08.00–10.00 WIB. (*)

Sumber: Tribun Jabar
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved