IDAI Jabar Tegaskan Vaksin Campak Tidak Sebabkan Autisme, Justru Beri Perlindungan
Vaksin campak justru menjadi perlindungan paling efektif terhadap penyakit campak yang sangat menular
Penulis: Putri Puspita Nilawati | Editor: Seli Andina Miranti
Ringkasan Berita:
- Prof Anggraini Alam menegaskan bahwa vaksin campak/MMR tidak menyebabkan autisme, dan anggapan tersebut merupakan hoaks lama yang sudah dibantah penelitian besar di berbagai negara.
- Hoaks ini berawal dari penelitian Andrew Wakefield di Inggris yang terbukti tidak benar dan sudah dicabut dari jurnal medis Lancet.
- Berbagai studi berskala besar, termasuk yang melibatkan 24 juta anak dan ratusan ribu anak di Denmark, menunjukkan tidak ada kaitan antara vaksin campak/MMR dengan autisme.
Laporan Wartawan Tribun Jabar, Putri Puspita
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia Jawa Barat, Prof Dr.dr. Anggraini Alam menegaskan vaksin campak maupun vaksin MMR tidak menyebabkan autisme seperti yang masih banyak dipercaya masyarakat hingga saat ini.
Menurut Prof Anggraini, anggapan tersebut merupakan hoaks lama yang sudah dibantah oleh berbagai penelitian berskala besar di dunia.
“Tidak ada satu pun yang memberikan suatu kesimpulan dampak autis akibat pemberian imunisasi campak atau MMR,” ujar Prof Anggraini dalam program Tribun Health, Selasa (12/5/2026).
Baca juga: Jangan Anggap Sepele Sakit Campak, IDAI Jabar Ungkap Risiko Komplikasi hingga 20 Tahun Kemudian
Ia mengatakan, vaksin campak justru menjadi perlindungan paling efektif terhadap penyakit campak yang sangat menular dan dapat memicu komplikasi berat hingga kematian.
“Campak itu tidak bisa dihentikan dengan gizi baik, tidak bisa dihentikan dengan kebersihan, kemudian ASI, obatnya juga tidak ada. Sehingga yang paling efektif untuk tidak terkena campak ya diimunisasi campak,” katanya.
Prof Anggraini menjelaskan, salah satu vaksin yang paling sering mendapat penolakan dari masyarakat ialah vaksin MMR karena dikaitkan dengan autisme.
Padahal, kata dia, berbagai penelitian besar telah membuktikan tidak ada hubungan antara vaksin campak dengan autisme.
“Sudah 24 juta anak yang diikuti setelah pemberian imunisasi campak. Kemudian ada juga di Denmark ratusan ribu anak yang divaksin MMR campak,” ujarnya.
Selain itu, berbagai penelitian lain juga telah dikumpulkan dalam kajian ilmiah berskala besar dan menghasilkan kesimpulan serupa.
Baca juga: BREAKING NEWS: Empat Kecamatan Kabupaten Cirebon Masuk Zona KLB Campak
“Kita memiliki evidence base yang menyatukan 24 juta, ratusan ribu, ribuan semua dikumpulkan, tidak ada satu pun yang memberikan suatu kesimpulan dampak autis akibat pemberian imunisasi campak atau MMR,” katanya.
Ia menjelaskan, isu vaksin menyebabkan autisme berasal dari penelitian seorang dokter asal Inggris bernama Andrew Wakefield yang kemudian terbukti tidak benar.
“Yang beliau lakukan itu adalah kebohongan untuk membuat populer dari dokter tersebut,” ujarnya.
Penelitian tersebut, lanjutnya, bahkan sudah dicabut dari jurnal medis Lancet setelah terbukti bermasalah.
“Beliau sudah diselidiki semuanya penelitian dan memang terbukti tidak benar. Publikasinya di Lancet dicabut,” katanya.
| Jangan Anggap Sepele Sakit Campak, IDAI Jabar Ungkap Risiko Komplikasi hingga 20 Tahun Kemudian |
|
|---|
| Rp 2,9 Triliun Sudah Digelontorkan untuk Tol Getaci, Proyek Masih Tunggu Tender Berhasil |
|
|---|
| Karawang Kebagian Proyek Giant Sea Wall, Bupati Aep: Abrasi hingga Rob Bisa Teratasi |
|
|---|
| 24 Kios PKL di Cicadas Bandung Kembali Dibongkar, Lokasinya Akan Dijadikan Koridor BRT |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Empat Kecamatan Kabupaten Cirebon Masuk Zona KLB Campak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/Ketua-Ikatan-Dokter-Anak-Indonesia-Jawa-Barat-Prof-Drdr-Anggraini-Ala.jpg)