Bisakah Anak dan Remaja Terkena Penyakit Kencing Manis?
Penyakit Diabetes Mellitus (DM), atau yang secara umum dikenal sebagai kencing manis, selama ini sering dipersepsikan sebagai penyakit degeneratif
Ringkasan Berita:
- Penyakit Diabetes Mellitus (DM), atau yang secara umum dikenal sebagai kencing manis, selama ini sering dipersepsikan sebagai penyakit degeneratif
- Prevalensi diabetes pada kelompok usia muda menunjukkan tren peningkatan
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penyakit Diabetes Mellitus (DM), atau yang secara umum dikenal sebagai kencing manis, selama ini sering dipersepsikan sebagai penyakit degeneratif yang dominan dialami oleh orang dewasa atau lanjut usia.
Namun, bukti klinis dan data epidemiologis dalam satu dekade terakhir menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan, bahkan diabetes kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak dan remaja.
Secara global maupun di Indonesia, prevalensi diabetes pada kelompok usia muda menunjukkan tren peningkatan yang menuntut perhatian serius.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa kasus diabetes, baik tipe 1 (autoimun) maupun tipe 2 (terkait gaya hidup), semakin banyak ditemukan pada anak di bawah usia 18 tahun.
Baca juga: Waspada Silent Growth Killer, Mengapa Infeksi Saluran Kemih pada Anak Tak Boleh Diremehkan
dr. Muda Isa Ariantana, Spesialis Anak, Dokter Anak, Pemerhati Kesehatan, Ketua Komite Medik Santosa Hospital Bandung Central mengatakan temuan terbaru dari literature review yang memuat studi global menunjukkan bahwa kejadian DMT2 pada anak dan remaja meningkat secara eksponensial di banyak wilayah, sehingga sejumlah ahli menggambarkannya sebagai emerging pandemic atau pandemik baru dalam populasi muda di abad ke-21.
Hal ini dikaitkan dengan perubahan perilaku hidup, urbanisasi, serta gaya hidup sedentari yang semakin dominan sejak masa kanak-kanak.
Statistik nasional menunjukkan bahwa DMT1 tetap menjadi tipe diabetes yang lebih banyak terjadi pada anak di Indonesia, dengan tren peningkatan kejadian dalam dekade terakhir.
Laporan epidemiologis menunjukkan bahwa jumlah anak dengan DMT1 di Indonesia meningkat, meskipun banyak kasus yang belum terdeteksi atau terlambat diagnosis.
Analisis epidemiologi lokal juga penting karena selain prevalensi numerik, kesadaran diagnostik dan fasilitas pelayanan kesehatan berperan besar dalam identifikasi kasus baru di tingkat komunitas.
Secara patofisiologis, diabetes mellitus pada anak dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme utama gangguan metabolik:
1. Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1) gangguan autoimun menyebabkan destruksi sel β pankreas, mengakibatkan defisiensi absolut insulin.
2. Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) resistensi insulin perifer disertai disfungsi sekresi insulin relatif.
Kedua tipe ini dapat terjadi pada anak, tetapi dengan mekanisme etiologi, natural history, serta implikasi klinis yang berbeda.
1. Diabetes Tipe 1, Autoimunitas dan Genetik
DMT1 merupakan penyakit autoimun kronis dengan komponen genetik yang signifikan. Kerabat tingkat pertama anak dengan DMT1 memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan populasi umum, dan faktor gen-gen tertentu serta penyebab imunologis telah diidentifikasi sebagai predisposisi utama.
kencing manis
Muda Isa Ariantana
Diabetes Melitus
diabetes
Bandung
Santosa Hospital Bandung Central
Kota Bandung
dokter anak
| Adu Gengsi, Persib Bandung Bertekad Pertahankan Puncak Klasemen, Dewa United Incar Posisi Lebih Baik |
|
|---|
| Ingatkan Bandung Kota Bersejarah Saat Peringati 71 Tahun KAA, Fadli Zon Pamerkan Arsip Langka |
|
|---|
| Jalur Juara Persib Bandung Terancam, Borneo FC kini Menempel Ketat, hanya Selisih 1 Poin |
|
|---|
| Kormi Jabar dan KBI Kenalkan BEP, Olahraga Ringan Berbasis Self-Healing, Cocok untuk Lansia |
|
|---|
| Harga BBM Naik: SPBU Shell dan Vivo di Bandung Tutup, Stok BP 92 Kosong Berhari-hari |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/jalan-kaki-ke-sekolah-Selasa-652025.jpg)