Selasa, 5 Mei 2026

Bisakah Anak dan Remaja Terkena Penyakit Kencing Manis?

Penyakit Diabetes Mellitus (DM), atau yang secara umum dikenal sebagai kencing manis, selama ini sering dipersepsikan sebagai penyakit degeneratif

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/ Deanza Falevi
PELAJAR JALAN KAKI - Pelajar di Purwakarta kini harus bangun lebih pagi karena harus jalan kaki ke sekolah, Selasa (6/5/2025). Penyakit diabetes kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak dan remaja. 

Ringkasan Berita:
  • Penyakit Diabetes Mellitus (DM), atau yang secara umum dikenal sebagai kencing manis, selama ini sering dipersepsikan sebagai penyakit degeneratif 
  • Prevalensi diabetes pada kelompok usia muda menunjukkan tren peningkatan

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Penyakit Diabetes Mellitus (DM), atau yang secara umum dikenal sebagai kencing manis, selama ini sering dipersepsikan sebagai penyakit degeneratif yang dominan dialami oleh orang dewasa atau lanjut usia.

Namun, bukti klinis dan data epidemiologis dalam satu dekade terakhir menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan, bahkan diabetes kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak dan remaja.

Secara global maupun di Indonesia, prevalensi diabetes pada kelompok usia muda menunjukkan tren peningkatan yang menuntut perhatian serius.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa kasus diabetes, baik tipe 1 (autoimun) maupun tipe 2 (terkait gaya hidup), semakin banyak ditemukan pada anak di bawah usia 18 tahun.

Baca juga: Waspada Silent Growth Killer, Mengapa Infeksi Saluran Kemih pada Anak Tak Boleh Diremehkan

dr. Muda Isa Ariantana, Spesialis Anak, Dokter Anak, Pemerhati Kesehatan, Ketua Komite Medik Santosa Hospital Bandung Central mengatakan temuan terbaru dari literature review yang memuat studi global menunjukkan bahwa kejadian DMT2 pada anak dan remaja meningkat secara eksponensial di banyak wilayah, sehingga sejumlah ahli menggambarkannya sebagai emerging pandemic atau pandemik baru dalam populasi muda di abad ke-21.

Hal ini dikaitkan dengan perubahan perilaku hidup, urbanisasi, serta gaya hidup sedentari yang semakin dominan sejak masa kanak-kanak. 

Statistik nasional menunjukkan bahwa DMT1 tetap menjadi tipe diabetes yang lebih banyak terjadi pada anak di Indonesia, dengan tren peningkatan kejadian dalam dekade terakhir.

Laporan epidemiologis menunjukkan bahwa jumlah anak dengan DMT1 di Indonesia meningkat, meskipun banyak kasus yang belum terdeteksi atau terlambat diagnosis. 

Analisis epidemiologi lokal juga penting karena selain prevalensi numerik, kesadaran diagnostik dan fasilitas pelayanan kesehatan berperan besar dalam identifikasi kasus baru di tingkat komunitas.

Secara patofisiologis, diabetes mellitus pada anak dapat diklasifikasikan berdasarkan mekanisme utama gangguan metabolik:

 1. Diabetes Melitus Tipe 1 (DMT1) gangguan autoimun menyebabkan destruksi sel β pankreas, mengakibatkan defisiensi absolut insulin. 

 2. Diabetes Melitus Tipe 2 (DMT2) resistensi insulin perifer disertai disfungsi sekresi insulin relatif. 

Kedua tipe ini dapat terjadi pada anak, tetapi dengan mekanisme etiologi, natural history, serta implikasi klinis yang berbeda.

1. Diabetes Tipe 1, Autoimunitas dan Genetik

DMT1 merupakan penyakit autoimun kronis dengan komponen genetik yang signifikan. Kerabat tingkat pertama anak dengan DMT1 memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan populasi umum, dan faktor gen-gen tertentu serta penyebab imunologis telah diidentifikasi sebagai predisposisi utama. 

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved