Sabtu, 11 April 2026

Waspada Silent Growth Killer, Mengapa Infeksi Saluran Kemih pada Anak Tak Boleh Diremehkan

Ahli kesehatan kini memperingatkan adanya ancaman yang jauh lebih sistemik di balik gejala umum seperti demam dan nyeri saat berkemih

Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/Dok Limijati
MUDA ISA ARIANTANA - dr. Muda Isa Ariantana, Spesialis Anak Dokter Anak, Pemerhati Kesehatan, Ketua Komite Medik Santosa Hospital Bandung Central dan Anggota Komitea Medik RSIA Limijati 

Ringkasan Berita:
  • Waspada infeksi saluran kemih pada anak
  • Infeksi saluran kemih bisa mengganggu pertumbuhan anak
  • ISK pada anak bukan hanya soal bakteri di urin, tapi soal masa depan fisik anak

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG  -  Bagi sebagian besar orang tua, Infeksi Saluran Kemih (ISK) mungkin terdengar seperti gangguan kesehatan "musiman" yang tuntas hanya dengan sebotol sirup antibiotik. Namun, para ahli kesehatan kini memperingatkan adanya ancaman yang jauh lebih sistemik di balik gejala umum seperti demam dan nyeri saat berkemih: yaitu stunting fungsional.

Penelitian dalam lima tahun terakhir (2021-2026) mulai menyingkap tabir bahwa ISK bukan sekadar infeksi lokal.

Jika terjadi berulang, ISK adalah "sabotase" biologis yang mampu menghentikan trajektori pertumbuhan anak.

Perang Energi, Mengapa Tubuh Anak Berhenti Tumbuh?

dr. Muda Isa Ariantana, Spesialis Anak, Dokter Anak, Pemerhati Kesehatan, Ketua Komite Medik Santosa Hospital Bandung Central dan Anggota Komitea Medik RSIA Limijati memaparkan bayangkan tubuh anak sebagai sebuah proyek konstruksi yang sedang berjalan pesat.

Pertumbuhan membutuhkan asupan energi dan protein yang masif.

Namun, ketika bakteri (seperti E. coli) menginvasi ginjal, kondisi yang disebut pielonefritis, tubuh beralih ke "mode pertahanan".

Saat terjadi infeksi, sistem imun melepas zat bernama sitokin pro inflamasi (seperti IL-6 dan TNF-α). Zat ini bertindak layaknya alarm bahaya yang memerintahkan otak untuk mematikan nafsu makan agar energi fokus pada pemusnahan bakteri. 

Masalahnya, pada ISK yang sering kambuh, alarm ini menyala terlalu lama.

Akibatnya, terjadi defisit kalori kronis yang membuat grafik pertumbuhan anak di buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) mendatar atau bahkan menurun.

Ginjal, Sang Penjaga Keseimbangan Asam Basa

Salah satu temuan paling krusial dalam literatur nefropediatri terbaru adalah peran ginjal dalam menjaga derajat keasaman darah. Ginjal yang sehat bertugas membuang sisa asam hasil metabolisme.

Ketika ISK menyebabkan luka parut pada ginjal (renal scarring), fungsi "pembuangan sampah" ini terganggu.

Terjadilah kondisi yang disebut Asidosis Metabolik.

Darah yang sedikit lebih asam dari normal adalah racun bagi pertumbuhan tulang.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved