Selasa, 5 Mei 2026

Bisakah Anak dan Remaja Terkena Penyakit Kencing Manis?

Penyakit Diabetes Mellitus (DM), atau yang secara umum dikenal sebagai kencing manis, selama ini sering dipersepsikan sebagai penyakit degeneratif

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Siti Fatimah
Tribun Jabar/ Deanza Falevi
PELAJAR JALAN KAKI - Pelajar di Purwakarta kini harus bangun lebih pagi karena harus jalan kaki ke sekolah, Selasa (6/5/2025). Penyakit diabetes kini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan anak-anak dan remaja. 

KAD merupakan komplikasi akut serius dari DMT1, ditandai oleh hiperglikemia berat, produksi keton berlebihan, dan asidosis metabolik yang mengancam jiwa jika tidak ditangani segera.

Studi klinis menunjukkan bahwa insidensi KAD pada anak dengan DMT1 tetap signifikan dan menjadi penyebab morbiditas tinggi jika pengelolaan dan kontrol glikemiknya buruk. 

Diagnosis dan Penatalaksanaan

1. Diagnosis Klinis dan Laboratoris

Diagnosis diabetes pada anak mengandalkan kombinasi temuan klinis dan parameter laboratorium, seperti kadar glukosa darah puasa, kadar glukosa acak, serta tes HbA1c.

Diagnosis dini sangat penting untuk mencegah komplikasi akut maupun kronis.

2. Manajemen Tipe 1: Insulin, Edukasi, dan Self-Care

Pengelolaan DMT1 pada anak memerlukan terapi insulin jangka panjang, pemantauan glukosa darah rutin, serta edukasi keluarga yang intensif, karena ketidakteraturan pemberian insulin dan kontrol glikemik yang buruk dapat meningkatkan risiko komplikasi akut maupun kronis.

3. Manajemen Tipe 2: Intervensi Gaya Hidup dan Farmakoterapi

Pengendalian DMT2 pada anak berfokus pada perubahan gaya hidup yang meliputi peningkatan aktivitas fisik, diet seimbang, serta menurunkan berat badan jika obesitas hadir.

Obat-obat antidiabetes seperti metformin juga digunakan dalam beberapa kasus, dan kemajuan terapi bahkan mencakup pengembangan indikasi obat baru untuk anak dan remaja. 

Pencegahan dan Tantangan Kebijakan

1. Pencegahan Primordial dan Primer

Pencegahan DMT2 terutama pada anak harus dimulai semenjak dini melalui promosi diet sehat, pembatasan konsumsi gula dan makanan ultra-processed, serta peningkatan aktivitas fisik.

Walaupun tidak sepenuhnya dapat mencegah DMT1 karena komponen autoimun dan genetisnya dominan, pencegahan dini bisa membantu deteksi dan pengelolaan yang lebih cepat.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved