Senin, 13 April 2026

Asupan Kalsium, Vitamin D, dan Olahraga Jadi Kunci Cegah Osteoporosis

Menurut Mellya Andriani, dr. SpKFR, MARS, AIFO-K, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Santosa Hospital Bandung Kopo

Penulis: Nappisah | Editor: bisnistribunjabar
Tribun Jabar
Mellya Andriani, dr. SpKFR, MARS, AIFO-K, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Santosa Hospital Bandung Kopo, osteoporosis terjadi ketika kepadatan dan massa tulang menurun sehingga tulang menjadi tipis, berongga, rapuh, dan mudah patah. 

Ringkasan Berita:
  • Osteoporosis sering tak bergejala dan baru diketahui saat patah tulang. Gejala awal bisa nyeri punggung dan postur membungkuk.
  • Risiko dipengaruhi usia, hormon, gaya hidup, serta kekurangan kalsium dan vitamin D. Bisa terjadi juga pada usia muda.
  • Deteksi dini dengan DEXA scan dan pencegahan lewat pola hidup sehat serta olahraga penting untuk menjaga kesehatan tulang.

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Osteoporosis kerap disebut sebagai penyakit “diam-diam” karena gejala awalnya sulit disadari. 

Banyak orang baru mengetahui kondisinya setelah mengalami patah tulang. Padahal, penyakit ini bisa menyerang siapa saja jika faktor risiko tidak diperhatikan.

2Doktmerx
DOKTER - Mellya Andriani, dr. SpKFR, MARS, AIFO-K, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi

Menurut Mellya Andriani, dr. SpKFR, MARS, AIFO-K, Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi di Santosa Hospital Bandung Kopo, osteoporosis terjadi ketika kepadatan dan massa tulang menurun sehingga tulang menjadi tipis, berongga, rapuh, dan mudah patah.

Gejala awal osteoporosis memang sering tidak terasa. dr. Mellya menjelaskan, banyak pasien baru menyadari mengalami osteoporosis setelah terjadi patah tulang dan ini terjadi baik pada wanita ataupun pria. Pada fase awal, seperti nyeri punggung atau postur tubuh yang mulai membungkuk dapat dijadikan salah satu awal terjadinya osteoporosis. 

Selain faktor usia dan hormon, gaya hidup juga berpengaruh. Orang dengan tubuh kecil atau kurus, kurang aktivitas fisik, kekurangan kalsium dan vitamin D, perokok, mengkonsumsi alkohol berlebihan, pengguna obat tertentu, atau mereka yang memiliki penyakit tertentu lebih rentan terkena osteoporosis. 

“Pada wanita, penurunan hormon estrogen setelah menopause dapat mempercepat pengeroposan tulang sedangkan pada pria, penurunan hormon testosteron dan faktor usia juga dapat berperan,” ujarnya, Sabtu (21/3/2026). 

Pada osteoporosis bagian tulang yang paling rawan patah antara lain tulang pinggul, pergelangan tangan, dan tulang belakang.

Meski lebih umum pada lansia, kondisi ini juga bisa terjadi pada usia muda. 

“Pada usia muda, osteoporosis dini bisa muncul karena faktor genetik, kurang nutrisi, penyakit tertentu, faktor hormonal, atau obat-obatan jangka panjang,” jelas dr. Mellya.

Lalu apa yang harus dilakukan? 

Dikatakannya, untuk mendeteksi osteoporosis sejak dini, pemeriksaan kepadatan tulang melalui DXA (Dual-energy X-ray Absorptiometry) atau DEXA scan menjadi langkah yang paling akurat.
“Metode ini cepat, non-invasif, dan merupakan standar emas untuk mendiagnosis osteoporosis, memprediksi risiko patah tulang, dan memantau efek pengobatan,” kata dr. Mellya. 

Skrining dianjurkan terutama bagi wanita pasca menopause dan pria usia lanjut, meski belum ada keluhan, karena deteksi dini memungkinkan pencegahan sebelum tulang benar-benar rapuh.

Selain pemeriksaan, gaya hidup sehat menjadi kunci pencegahan. dr. Mellya menuturkan, asupan kalsium dan vitamin D sangat penting untuk mencegah osteoporosis karena kalsium membangun kepadatan tulang dan vitamin D membantu penyerapan kalsium, tetapi hal ini juga harus dibarengi dengan olahraga

Olahraga yang dianjurkan mencakup jalan cepat, jogging, naik-turun tangga, lompat tali, latihan kekuatan, serta latihan keseimbangan dan fleksibilitas, khususnya bagi lansia agar risiko jatuh bisa diminimalkan.

“Pada pasien yang sudah mengalami osteoporosis, di Santosa Hospital Bandung Kopo  penanganan pasien dilakukan secara komprehensif  bekerjasama dengan Dokter Spesialis lain, seperti Dokter Spesialis Penyakit Dalam Subspesialis Geriatri, Dokter Spesialis Neurologi, Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Spesialis Gizi Klinik dan lain-lain, sehingga pasien dapat memperoleh penanganan secara menyeluruh dan berkesinambungan”.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved