Cerita Lengkap Kakek Sudarso Tertipu Tawaran Jadi PNS, Pelaku Sempat Diusir Warga tapi Tak Mempan

Peristiwa ini menimpa keluarga Sudarso (70) warga di Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.

Penulis: Padna | Editor: Ravianto
Istimewa
Ilustrasi PNS. Seorang kakek di Cilacap, Jawa Tengah tertipu Rp 40 juta setelah dijanjikan akan dijadikan PNS. 

TRIBUNJABAR.ID, PANGANDARAN - Dijanjikan  menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), seorang warga asal Kabupaten Cilacap Jawa Tengah mengaku merasa tertipu. 

Pasalnya, setelah memberikan uang senilai Rp 40 juta terhadap seorang warga asal Kalipucang Kabupaten Pangandaran tapi hingga kini orang yang diduga menjadi korban tersebut belum diangkat menjadi PNS.

Peristiwa ini menimpa keluarga Sudarso (70) warga di Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.

Dan terjadi ketika kakek Sudarso hendak mendaftarkan anak dan cucunya bernama  Sutimah (47) dan Mei Sekar Karisma (21) menjadi PNS pada bulan Januari 2021 lalu.

Satu Cucu Sudarso, Yulianti Eka Pertiwi (25) mengatakan, si pelaku berinisial DS awalnya mengaku sebagai Intel dari Tasikmalaya yang hendak pindah tugas ke Pangandaran. 

Kemudian, menawarkan pekerjaan PNS ke kakek Sudarso agar cucunya menjadi PNS di lingkup Pemda Kabupaten Pangandaran.

"Awalnya, yang diminta jadi PNS yaitu saya sama ibude saya (Sutimah). Pelaku datang ke rumah yang kebetulan pelaku teman SMP-nya ibude (uwa)," ujar Eka dihubungi Tribunjabar.id melalui WhatsApp, Selasa (5/3/2024) pagi.

Kebetulan, saat itu ibudenya (Sutimah) menjadi guru dan mengajar di PAUD. Kemudian, si pelaku mengiming-imingi PNS ke kakeknya.

"Katanya, Mbah, cucumu yang satu kan nanti sarjana, daripada lulus nanti jadi Sarjono (Sarjana nganggur) mending didaftarkan PNS saja. Karena, ada pembukaan CPNS," ucapnya menirukan obrolan si pelaku ke kakeknya.

Kemudian, ibude juga ditawarkan untuk menjadi PNS yang katanya merasa kasihan mengajar di PAUD tapi belum ada status PNS-nya.

"Nanti, katanya kalau sudah PNS, SK-nya bisa digadaikan ke Bank dan bisa turun Rp 200 juta lebih. Nah, kalau saya kan diminta Rp 200 juta karena masih kuliah. Kalau ibude, itu cukup Rp 100 juta," kata Eka.

Karena tidak masuk akal, waktu itu Eka sendiri menolak mentah-mentah. Tapi, kakeknya memasukkan ijazah anaknya ibude yang baru lulus SMA.

"Nah, itu yang bayar kakek saya. Si pelaku minta DP uang Rp 50 juta tapi sama kakek dikasih Rp 40 juta dan itu juga 2 kali bayar," ujarnya.

Waktu itu, si pelaku bersama istrinya yang menjabat sebagai kepala sekolah di SDN 2 Pamotan Kecamatan Kalipucang."Itu kejadiannya sekitar bulan Januari 2021," kata Eka.

Si pelaku bersama istrinya, itu meyakinkan si kakek Sudarso agar cucunya menjadi PNS dengan mahar yang ditawarkan.

"Malah, sempat nyuruh ke kakek saya. Katanya kalau tidak punya uang mending pinjam saja ke Bank. Nanti kalau sudah jadi PNS, itu lancar gajinya terus SK-nya turun dan bisa dijaminkan ke Bank," ucap Eka.

Awalnya, kakek Sudarso memang tidak mau dan tidak tergiur dengan tawaran tersebut. Tapi, terus diyakinkan sama mereka berdua terutama si istrinya pelaku. 

"Mereka sempat bilang, kita yang nyalurkan dan kalau gagal uang kembali. Sudah gitu akhirnya kakek saya pinjam Rp 50 juta ke Bank," katanya.

Namun, jika meminjam ke bank Rp 50 juta tyang dicairkan tidak sesuai dengan diajukan tapi hanya cair Rp 40 juta.

" Jadi, yang dikasihkan ke si pelaku itu totalnya baru Rp 40 juta dengan 2 kali transaksi. Terus, memberikan foto copy ijazah dan berkas lainnya," ucap Ia.

Sementara formasi PNS yang ditawarkan oleh si pelaku, itu katanya tinggal dipilih. "Jadi, kayak kita yang disuruh memilih mau dimana kerjanya," ujarnya. *

Sempat Menginap dan Diusir

Sebelum mengiming-imingi atau menawarkan menjadi PNS kakek Sudarso (70) dan keluarga, si pelaku sempat menginap beberapa hari di rumah keluarga korban.

Hal tersebut disampaikan Yulianti Eka Pertiwi (25) yang masih cucunya Sudarso.

Yulianti Eka Pertiwi mengatakan, dahulu itu si pelaku berinisial DS merupakan teman satu kelas ibude (Sutimah) di SMP.

Terus, dahulu waktu pakde-nya masih hidup, si pelaku sempat main dan membeli bekatul seperti untuk pakan bebek (itik). 

Sudah itu, bertahun-tahun tidak pernah main ke rumah lagi dan tidak ada kabar-kabar.

Karena, kebetulan si pelaku belum tergabung ke group alumni SMP-nya.

"Kemudian, setelah tiga hari pakde meninggal dunia, tiba-tiba si pelaku datang dengan menggunakan mobil dan menginap di situ (ibude)."

"Kan, yang namanya di Desa itu kan pikirannya pada negatif. Apalagi, ibude baru ditinggal meninggal dunia sama suaminya," ujar Eka dihubungi Tribunjabar.id melalui WhatsApp, Selasa (5/3/2024) pagi.

Saat itu, lanjut Ia, pihak keluarga sudah lapor ke RT dan sempat mengusir si pelaku.

Tapi, si pelaku tetap menginap di situ sampai 2 hari.

Bahkan, si pelaku sempat menawarkan air seperti kangen water karena mengaku usahanya  jualan air. 

Kemudian, dahulu waktu hujan deras di tempatnya kebetulan adik si nenek dirawat di klinik di Kedongdongan.

Karena hujan deras tiba-tiba si pelaku menawarkan untuk nganter. 

"Nah, terus diantarkanlah nenek saya ke klinik itu. Kemudian waktu di perjalanan, kan komunikasi dan bertanya tanya."

"Bapak sih kerja dimana, terus kata si pelaku ngakunya Intel dari Tasikmalaya."

"Terus, dia sempat bilang gini, katanya berencana mau daftarkan saya dan anaknya ibude yang nomor tiga untuk menjadi polisi."

"Kebetulan kan cowo dan baru lulus SMA," ucapnya.

Kemudian, Eka sempat menjawab tidak berminat dan ingin hidup seperti orang biasa pada umumnya. 

"Sudah itu, si pelaku bertanya tanya lagi dan tiba-tiba menawarkan jasa untuk menjadi PNS itu," kata Eka.

Diberitakan sebelumnya, dijanjikan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), seorang warga asal Kabupaten Cilacap Jawa Tengah mengaku merasa tertipu. 

Pasalnya, setelah memberikan uang senilai Rp 40 juta terhadap seorang warga asal Kalipucang Kabupaten Pangandaran tapi hingga kini orang yang diduga menjadi korban tersebut belum diangkat menjadi PNS.

Peristiwa ini menimpa keluarga Sudarso (70) warga di Kecamatan Kedungreja Kabupaten Cilacap Jawa Tengah.

Dan terjadi ketika kakek Sudarso hendak mendaftarkan anak dan cucunya bernama  Sutimah (47) dan Mei Sekar Karisma (21) menjadi PNS pada bulan Januari 2021 lalu. (*)

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved