Mimpi Kota Cimahi Targetkan Zero Sampah usai TPA Sarimukti Kebakaran, Mungkinkah?

Pemerintah Kota Cimahi berupaya mengirit jatah pembuangan dan menargetkan zero sampah melalui jurus Gerakan Orang Cimahi Pilah Sampah

Tribun Jabar/ Hilman Kamaludin
Sampah menumpuk di TPS Pasar Kuda setelah pembuangan dibatasi imbas TPA Sarimukti kebakaran. 

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin

TRIBUNJABAR.ID, CIMAHI - Pemerintah Kota Cimahi memiliki mimpi besar terkait penanganan sampah agar tidak ada lagi sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Setelah TPA Sarimukti kebakaran dan pembuangan sampah dibatasi, Pemerintah Kota Cimahi berupaya mengirit jatah pembuangan dan menargetkan zero sampah melalui jurus Gerakan Orang Cimahi Pilah Sampah atau grak ompimpah.

Pj Wali Kota Cimahi, Dikdik Suratno Nugrahawan mengatakan, total sampah yang dihasilkan warga Cimahi mencapai 226 ton per hari, namun jumlah itu tidak bisa diangkut semua, sehingga dikurangi dengan program 'Grak Ompimpah'.

"Alhamdulillah dengan Grak Ompimpah tersebut sudah mulai terjadi pengurangan sampah yang diangkut ke TPA Sarimukti," ujarnya saat ditemui di Perkantoran Pemkot Cimahi, Rabu (4/10/2023).

Sejak September hingga awal Oktober 2023 ini, pihaknya mengklaim sudah terjadi pengurangan produksi sampah sekitar 30-40 persen, padahal biasanya sampah yang dihasilkan seluruhnya diangkut ke TPA Sarimukti.

"Setelah berjalannya pemilahan, terjadi pengurangan produksi sampah yang diangkut sebesar 40 persen. Itu karena Grak Ompimpah masih terus dijalankan dan akan jadi program berkelanjutan," kata Dikdik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini mengatakan, langkah-langkah untuk merealisasikan zero sampah harus melakukan pemilahan sampah dari hulu seperti rumah tangga, industri, pasar, dan lain-lain.

Baca juga: TPA Sarimukti Belum Normal Imbas Kebakaran, Masa Tanggap Darurat Sampah di Kota Cimahi Diperpanjang

Kemudian, pihaknya juga akan menyiapkan beberapa tempat pembuangan sementara (TPS) untuk dijadikan lokasi mengolah sampah organik maupun anorganik seperti di TPS Pasar Atas, Leuwigoong, dan Cibeber.

"Jadi nanti semua sampah harapannya organik bisa selesai di wilayah. Kalau tidak bisa habis di lokasi masing-masing dikirim ke TPS nanti kita treatment di TPS itu organik," ujar Chanifah.

Selain itu, pihaknya juga berencana membeli lima alat pemilah hingga pencacah sampah dengan menggunakan dana biaya tak terduga (BTT) dan membangun dua tempat yang akan dijadikan lokasi Refuse-derived fuel (RDF) plant di Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara.

"Nantinya di lokasi tersebut diperkirakan akan bisa mengolah sampah hingga 50 ton per harinya. Lalu kita juga harus menyiapkan untuk cacah daun dan yang terakhir, mencari solusi yang tepat untuk mengolah sampah residu," katanya.

Chanifah mengatakan, dengan berbagai langkah yang sudah dipersiapkan tersebut pihaknya meyakini target zoro sampah yang dibuang ke TPA Sarimukti akan bisa terealisasi dalam kurun waktu dua tahun ke depan.

"Mungkin tahap awal kita seperempat dulu yang dibuang ke TPA, secara perlahan sambil menyiapkan treatment peralatan tadi. Insya Allah kita harus optimis ke sana (zero sampah)," ujar Chanifah.

Baca juga: DLH Jabar Bikin Langkah Strategis di Masa Transisi Tanggap Darurat TPA Sarimukti, Padatkan Tiga Zona

Sumber: Tribun Jabar
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved