Breaking News:

Penemuan Mayat di Subang

Fakta-fakta Kejanggalan dalam Kasus Subang yang Tak Diekspos Polisi, Termasuk Hasil Autopsi Ulang

Selama kasus Subang itu ditangani tim penyidik, sejumlah temuan polisi di TKP dan fakta-fakta kejanggalan muncul dari kasus Subang

Penulis: Hilda Rubiah | Editor: Hermawan Aksan
kolase TribunJabar
Olah TKP kasus Subang dan tempat sampah dekat lokasi kejadian 

Temuan di TKP

Hal yang mendasari polisi menduga pelaku rajapati Tuti dan Amalia adalah orang terdekat karena temuan di TKP tidak ada tanda masuk ke rumah secara paksa.

Dari temuan tersebut kejanggalan pun terlihat dari, tidak ada sidik jari pada tubuh kedua korban.

Namun, polisi menemukan dua jejak kaki berbeda di lokasi TKP.

Selain itu kejanggalan pun mengarah pada motif perampasan nyawa berencana.

Setelah diperiksa di TKP jika kejadian perampokan sementara polisi tidak menemukan adanya harta benda yang hilang.

Dari temuan itu, tidak ada barang yang hilang, kecuali handphone milik korban Amalia Mustika Ratu.

Adapun diketahui dari keterangan sang kakak Amalia, Yoris, ponsel Amalia yang hilang itu tiga jenis.

Di antaranya Iphone 11, IPod dan satu handphone merek Samsung.

Sementara harta benda berharga seperti uang 30 juta dan ATM masih utuh berada di rumah TKP.

Baca juga: TERUNGKAP Fakta Sebenarnya DNA Danu Ada di TKP, Sehari Setelah Kejadian Sempat Ikut Membantu Polisi

Autopsi Ulang

Pada pemeriksaan awal, kedua jasad korban Tuti dan Amalia sempat diautopsi untuk mengetahui penyebab kematian ibu dan anak tersebut.

Namun, tim forensik kembali melakukan autopsi ulang setelah hampir sebulan dari autopsi pertama.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Erdi A Chaniago mengatakan, tujuan dilakukan autopsi ulang untuk memastikan temuan baru tim penyidik.

Dalam proses autopsi tersebut, tim forensik menelisik dan memastikan luka pada korban, dan penyebab kematian.

Dari autopsi ini juga kata Erdi, dapat diketahui apakah korban sempat melakukan perlawanan atau tidak dan waktu kematian korban.

Lebih dari itu, temuan baru polisi mengarah ke barang bukti benda atau alat yang digunakan pelaku rajapati saat mengeksekusi korban.

Artinya tim forensik mencari tahu petunjuk baru dari alat yang digunakan pelaku rajapati saat mengeksekusi korban.

Tim forensik memastikan apakah alat tersebut berasal dari benda tumpul atau benda tajam.

Dari pemeriksaan awal sebelumnya pernah dijalaskan, dugaan polisi alat yang digunakan pelaku mengeksekusi korban benda tumpul.

Benda tersebut adalah papan penggilasan untuk mencuci pakaian.

Hal ini diungkap oleh Kapolres Subang AKBP Sumarni.

Saat itu ia menjelaskan dugaan korban meninggal dunia akibat dipukul menggunakan papan penggilasan untuk mencuci baju.

Adapun papan penggilasan yang diduga untuk mengeksekusi korban itu terbuat dari kayu.

Dugaan itu diambil dari temuan di TKP petugas menemukan papan penggilasan tersebut sudah berlumuran darah.

Kendati begitu, kini hasil autopsi ulang dilakukan tim forensik hingga melibatkan ahli forensi Dokter Hastry itu kali ini tak diungkap untuk publik.

Baca juga: Ahli Forensik Dokter Hastry Jawab Kelanjutan Autopsi Tuti dan Amalia dalam Kasus Subang, Yoris Kesal

Danu Diminta Membantu di TKP

Sebelumnya, Danu sempat dicurigai karena disebut-sebut DNA-nya berada di TKP.

Mulai ditemukan di puntung rokok hingga jejak Danu yang ada di mobil Alphard, tempat Tuti dan Amalia ditemukan.

Bahkan pada saat polisi melakukan olah TKP, anjing pelacak menggonggong kepadanya.

Namun, belakangan baru diungkap Danu mengaku sempat membantu polisi di TKP, sehari setelah kejadian pada 19 Agustus 2021.

Danu mengaku diminta membantu polisi mulai dari memasang lampu di TKP hingga menguras kamar mandi TKP.

Kendati begitu, aksi Danu membantu polisi itu pun dinilai berisiko oleh publik karena terkait DNA miliknya yang berada di TKP.

Danu yang selama ini tak banyak bicara tiba-tiba membeberkan penyebab DNA miliknya ada di TKP, lewat tayangan kanal Youtube Misteri Mbak Suci.

Setelah para saksi memberikan keterangannya kini Danu kembali memberikan pengakuan mengejutkan.

Pemuda 21 tahun asal Subang itu menceritakan kronologi saat ia membantu polisi di TKP tersebut.

Muhammad Ramdanu (21) salah seorang saksi yang sempat disebut memiliki akses keluar-masuk dari rumah korban prampasan nyawa di Subang.
Muhammad Ramdanu (21) salah seorang saksi yang sempat disebut memiliki akses keluar-masuk dari rumah korban prampasan nyawa di Subang. (Tribun Jabar/Dwiky Maulana Vellayati)

Awalnya Danu diminta membantu untuk membeli lampu guna menerangi TKP di malam hari.

Pada saat itu suasana pun hujan hingga Danu pun melipir bersama dengan beberapa orang polisi.

Diakui Danu setelah polisi kembali masuk ke dalam TKP di sana ia menyempatkan merokok.

Sayangnya, dengan polos ia mengaku tak berpikir puntung rokok yang ia buang menjadi barang temuan lain.

Sementara itu, fakta menurut Danu, puntung rokok tersebut menjadi salah satu temuan polisi di TKP sehari setelah kejadian.

Soal temuan jejaknya yang ada di mobil, Danu pun menjelaskan dirinya tak sadar karena hanya mengikuti polisi kala itu.

Hal lainnya yang dilakukan Danu saat membantu polisi yaitu membersihkan kamar mandi.

Sementara itu, kamar mandi tersebut merupakan TKP di mana dua korban dimandikan setelah dihabisi.

Danu menjelaskan saat itu ia diminta untuk menguras air di kamar mandi tersebut.

Namun diakui Danu, saat membersihkan kamar mandi tersebut ia didampingi kepolisian.

Ia pun menjelaskan, perihal ia mengikuti membantu polisi tak hanya dilakukannya sendiri.

Danu mengungkapkan beberapa teman dan kerabatnya juga ikut membantu kepolisian.

Kendati begitu, kini publik menilai aksi Danu membantu polisi tersebut dinilai berisiko.

Bahkan temuan polisi di TKP terkait DNA merupakan bukti saintifik sehingga bisa memberatkan Danu.

Kini Danu baru mengungkapkan dirinya sempat merokok membuang puntung rokok yang disebut jadi temuan polisi sehari setelah kejadian.

Sebelumnya Danu juga sempat mengaku sehari sebelum kejadian dirinya pun memang sempat singgah di rumah korban.

Sementara Danu mengaku sehari setelah penemuan mayat di Subang itu ia sempat ikut membantu polisi.

Oleh karena itu DNA atau jejak Danu berada di TKP hingga anjing pelacak menggonggong ke arahnya.

Sementara itu anjing pelacak baru diterjunkan sepekan setelah kejadian tepatnya pada 30 Agustus 2021.

Publik pun tak mengetahui secara pasti apakah polisi mengumpulkan sample bukti di TKP pada hari kejadian.

Kendati begitu, sejauh ini polisi masih bekerja keras mengungkap kasus Subang tersebut dengan segala upaya dengan menggunakan metode saintifik.

Namun, dari pengakuan Danu yang mendadak tersebut membuat publik mempertanyakan terkait apa yang dilakukan Danu di TKP sehingga dinilai berisiko.

Di sisi lain, pengakuan Danu yang dianggap baru diungkapkan sekarang itu juga menjadi pertanyaan, mengapa baru diungkapkan sekarang?

Adapun, sementara ini pengakuan dari para saksi pun harus dikonfirmasi kepada pihak kepolisian.

Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Erdi A Chaniago mengatakan saat ini penyidik melakukan pendalaman terkait pembuktian-pembuktian secara konvensional.

Pembuktian konvensional itu meliputi olah TKP dan yang mengarah pada hal-hal yang ditemukan dicurigai.

Adapun alat bukti penting dalam kasus perampasan nyawa Tuti dan Amalia itu satu di antaranya dari rekaman CCTV.

Demikian kata Erdi, penanganan kasus itu sedang penyidik dalami kembali.

Ia menjelaskan pendalaman itu dilakukan untuk mencocokkan petunjuk dengan bukti-bukti.

“Ini sedang kami dalami kembali secara intensif untuk adanya kesesuaian antara petunjuk-petunjuk dengan bukti-bukti yang ada,” jelas Kombes Pol Erdi A Chaniago, dikutip dari KompasTV, (1/10/2021).

Untuk menjalani proses itu, pihaknya pun membutuhkan waktu.

Ia mengaku penyidik tidak semudah itu untuk menuduh tersangka tanpa bukti dan petunjuk tersebut.

Pihaknya akan profesional menentukan tersangka berdasarkan bukti dan petunjuk yang diterima secara detail.

Setelah itu, kata Erdi hasil tersebut akan dievaluasi hingga gelar perkara.

Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved