Selasa, 26 Mei 2026

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Copet! Copet!

Seperti peluru musuh yang bertubi-tubi menembaknya, dia melangkahi hari dengan terpaan masalah, terutama ekonomi.

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen 

"Kembalikan saja sekarang, mumpung belum malam, alamat di KTP-nya kan ada!" desak istrinya.

"Apa sisa ayam juga dikembalikan? Apa roti dan susu untuk anak kita itu juga harus dikembalikan?" lelaki kurus bingung.

"Kamu kan janji tak akan nyopet lagi. Jadi, ya, kembalikan semua, dan minta kerelaan pemilik dompet sebagian uangnya sudah kamu makan!" lanjut istrinya. Lelaki kurus diam.

"Dengar Kang, aku memilih ngutang dibanding kamu nyopet lagi. Toh setiap kita ngutang selalu bisa membayar," lanjut istrinya.

"Tapi kan kamu sering ngomel ke aku. Kamu pun sering diomelin warung!" kata lelaki kurus.

"Ya, terima saja Akang kuomeli. Aku pun sabar menerima omelan tukang warung karena telat bayar. Tapi pada akhirnya bisa bayar dengan Akang kerja dari upah kuli. Atau apa pun pekerjaan yang halal. Anak kita pun kalau memang tak ada uang, ya tak perlu dikasih susu. Sudah dua tahun Akang gak nyopet, kenapa tiba-tiba kembali seperti itu?" istrinya sedih.

Lelaki kurus masih bingung. Antara mengembalikan semua uang yang ada di dompet itu, dengan mengambilnya sedikit untuk bayar utang dan untuk keperluan mendesak.

Cukup lama terpaku. Baru kemudian memutuskan. Ya, dia setuju istrinya. Lalu mengangguk. "Baiklah," katanya.

"Ayo sekarang pergi dan kembalikan semua barang itu," sambil berkata begitu istrinya keluar kamar dan selang semenit kemudian masuk lagi sambil membawa kantong plastik.

"Dan juga ini serahkan," katanya sambil menyerahkan belanjaan yang dibawa suaminya tadi.

Lelaki kurus itu menurut seperti ketaatan santri kepada guru mengaji dan kiai. Dia segera pergi.

**

Sekitar Magrib, saat berbuka, alamat yang dicari sudah di depan mata. Lelaki kurus itu membuka pagar rumah tinggi sesuai alamat yang tertera di KTP. Tapi pagar itu terkunci. Dia mengucap salam berkali-kali.

Sebelum salam ketiga, seorang perempuan tua membuka pintu dan bertanya ada apa.

"Benar ini rumahnya Jelita?" tanya lelaki kurus menyebut nama perempuan sesuai KTP.

"Ya, benar. Ada apa?" judes perempuan tua yang tak ramah itu, sambil mengamati lelaki kurus dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Saya mau mengembalikan dompet!" langsung laki-laki kurus menjawab tanpa basa-basi.

Dia berharap perempuan tua itu segera menyuruhnya masuk, memanggil perempuan muda yang ingin ditemuinya. Dan dia akan menerangkan semuanya. Lalu meminta maaf kepada Jelita dan memohon kerelaan uang yang sudah dimakannya. Lalu urusan selesai. Lalu dia bisa segera pulang.

Tapi ternyata, di luar dugaan, di luar bayangannya. Perempuan tua itu bukannya menyuruhnya masuk, lalu mempertemukannya dengan Jelita. Dia malah tiba-tiba berteriak keras. Keras dan histeris sehingga mengagetkan tetangga.

"Copet! Copet! Ini copetnya!" katanya berkali-kali keras sekali.

Beberapa orang yang berada di lokasi perumahan itu sontak mendekati arah teriakan perempuan tua itu.

Tentu lelaki kurus itu kaget. Beberapa pemuda berlari mendekatinya. Dengan spontan dia pun menghindar. Dia lari ke arah berlawanan. Tapi dari arah itu pun datang orang-orang.

Lelaki itu tak berdaya. Dia dihajar warga.

***

Dedi Tarhedi lahir di Bandung, 6 April. Setelah pulang dari Timor Timur tahun 2000, cerpen-cerpennya dimuat di koran daerah Kabar Priangan, Radar, Pikiran Rakyat, dan Media Indonesia, Jakarta.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved