Cerita Pendek
Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Copet! Copet!
Seperti peluru musuh yang bertubi-tubi menembaknya, dia melangkahi hari dengan terpaan masalah, terutama ekonomi.
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Oleh Dedi Tarhedi
RENTETAN kebutuhan terus menggerus hidup lelaki kurus. Seperti peluru musuh yang bertubi-tubi menembaknya, dia melangkahi hari dengan terpaan masalah, terutama ekonomi.
Dan kini sudah memasuki bulan puasa. Walau pandemi korona masih meraja, kebutuhan keluarga tetap meningkat.
"Gimana ngadepin Lebaran nanti?" pikiran lelaki kurus kusut.
Hari itu dia tak dapat kerjaan. Tak ada yang menyuruhnya memijat, wabah corona menjadikan orang berhati-hati bersentuhan dengan orang lainnya. Apalagi tukang pijat selalu berkeliling memijat sejumlah orang berbeda. Ini tentu membuat rezekinya terganggu.
Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Hukum Chekov
Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Didagoan Tepika Jam 12 Peuting
Tak juga ada yang menyuruhnya menyervis mesin tik. Barang itu sudah raib puluhan tahun lalu. Pekerjaan tukang pun jarang. Dan ini tambah membuntukan. Sedang urusan dapur tak bisa ditunda oleh puasa.
"Jangan salahkan seseorang karena keterdesakkan!" pikir lelaki kurus.
Lalu lelaki kurus pun memasuki supermarket dan langsung mencari mangsa. Ini kebiasan lama. Kebiasaan dulu. Dia langsung melihat seorang perempuan belanja.
"Ini kesempatan!" pikir lelaki kurus.
Perempuan itu dari tadi sendirian, tak ada kawan yang menemaninya di mal itu.
Perlahan dia mendekati perempuan muda yang terus asyik, membalik-balik baju, memilih model dan warna. Sesekali melihat harga yang ditempel.
Dan kini lelaki kurus itu tepat di belakangnya. Dengan hati-hati sudut matanya mengintip.
Saking asyiknya, perempuan muda itu tak terasa menyenggol salah satu hanger, gantungan baju, hingga terjatuh. Dia tak bisa menahannya. Untung HP yang sejak tadi dipegang tak ikut jatuh. Kesempatan itu digunakan dengan licik oleh lelaki kurus itu. Lalu pergi.
Seorang pelayan mal datang, "Biar saya bereskan," katanya.
Perempuan muda itu langsung minta maaf dengan sopan. "Maaf, Mbak," katanya kepada pelayan. Karena tak nyaman, dia pun langsung pergi. Pulang.
Di luar mal dia membuka aplikasi layanan kendaraan online untuk segera menjemput. Biasanya selalu diantar-jemput sopirnya. Tapi kini sedang sakit.
Lima menit kemudian mobil online jemputan pun datang. Dia segera naik.
Sepuluh menit sampai tujuan, ia langsung mengambil uang di dompet dalam tas yang sekak tadi dikempitnya.
Tapi alangkah kaget saat mengambil uang untuk membayar, dompetnya raib. Tak ditemukan dompet itu. Ada sobekan di satu sudutnya. Dia telah kecopetan.
Dia pun samar-samar ingat, saat menyenggol baju di mal itu. Dia heran, karena dia sudah hati-hati. Mungkin ini ulah lelaki kurus yang sepintas dilihatnya.
"Aduh, maaf, Bang, dompetku hilang!" serunya kepada sopir. "Tunggu sebentar," serunya lagi sambil keluar, memijit bel pagar dan berteriak keras: "Bibiii…!"
Seorang perempuan tua bergegas membuka pagar. "Pinjem dulu lima puluh ribu, dompet Ita kena copet!"
Perempuan tua itu kaget dan segera balik lagi ke rumah mengambil uang.
**
"Dari mana uang untuk beli semua ini?" Istrinya bertanya saat lelaki kurus membuka makanan. Ada ayam bakar, rokok, roti, dan kaleng susu besar.
"Rezeki itu datang dari tempat yang tak terduga!" jawab lelaki kurus sambil menggeser kursi. Lalu duduk, mengambil sekerat ayam dan menyimpannya di atas piring nasi.
"Lho, Akang teu puasa?" istrinya kaget bertanya kenapa suaminya tidak puasa. Padahal baru hari kedua.
Tapi lelaki kurus tak peduli. Dia malah memprotes nasinya yang kurang.
"Kurang," katanya melihat nasi di piring, yang baginya hanya cukup untuk empat-lima kali suap mulutnya.
"Segitu lagi. Beras kan sudah habis, tadi gak masak!" kata istrinya. "Mau ngutang lagi malu. Yang minggu lalu belum bayar!"
"Nanti bayar," kata lelaki kurus itu percaya diri, sambil mengunyah. Mulutnya bergerak cepat. Mungkin dua tiga jurus nasi dan ayam bakar itu sudah berpindah semua ke perutnya.
Lalu minum air putih, menuntaskannya ke kerongkongannya. Dia meminta segelas lagi. Istrinya melangkah, mengambil air dari teko plastik dan menyerahkannya.
"Nanti beli air galon lagi," kata lelaki kurus karena dilihatnya galon di atas dispenser kosong.
"Sekalian ke warung bayar utang!"
Istrinya memandang suaminya curiga.
"Kenapa?" lelaki kurus balas memandang heran.
"Akang melakukan pekerjaan itu lagi?" tanya istrinya.
**
Uang di dompet itu lebih dari satu juta. Terdiri dari sembilan warna merah seratus ribuan, lima warna biru lima puluh ribuan dan beberapa lembar uang dua puluh ribu dan uang kertas lainnya. Diam-diam, lelaki kurus itu membuka-buka dompet di kamarnya.
Lalu dia menarik kartu-kartu yang terselip di kanan kiri lipatan dompet itu. Ada KTP atas nama perempuan muda itu, Jelita. Ada SIM C dan SIM A dengan pemilik yang sama. Ada beberapa kartu ATM berbagai bank serta kartu lainnya yang tak dipahami jenisnya.
"Wow, dia orang kaya!" seru lelaki itu di dalam kamarnya yang kecil dan berdebu.
Istrinya tiba-tiba masuk dan memergokinya. Dia lupa tidak mengunci kamarnya tadi. Dia kaget. Istrinya melihat lembaran uang di kasur dan kartu-kartu itu. Lelaki kurus pucat, tapi mau apa lagi semua sudah terbuka.
"Mengapa Akang kembali nyopet?!" istrinya nelangsa memandang suaminya.
"Ayo kembalikan semua barang-barang itu!" hentaknya.
"Jangan dulu. Kita kan butuh buat lunasi utang ke warung, terus beli beras lagi. Belum lagi gas dan air habis, kan?" alasan lelaki kurus membela diri. "Sisanya saja yang dikembalikan."
"Kembalikan saja sekarang, mumpung belum malam, alamat di KTP-nya kan ada!" desak istrinya.
"Apa sisa ayam juga dikembalikan? Apa roti dan susu untuk anak kita itu juga harus dikembalikan?" lelaki kurus bingung.
"Kamu kan janji tak akan nyopet lagi. Jadi, ya, kembalikan semua, dan minta kerelaan pemilik dompet sebagian uangnya sudah kamu makan!" lanjut istrinya. Lelaki kurus diam.
"Dengar Kang, aku memilih ngutang dibanding kamu nyopet lagi. Toh setiap kita ngutang selalu bisa membayar," lanjut istrinya.
"Tapi kan kamu sering ngomel ke aku. Kamu pun sering diomelin warung!" kata lelaki kurus.
"Ya, terima saja Akang kuomeli. Aku pun sabar menerima omelan tukang warung karena telat bayar. Tapi pada akhirnya bisa bayar dengan Akang kerja dari upah kuli. Atau apa pun pekerjaan yang halal. Anak kita pun kalau memang tak ada uang, ya tak perlu dikasih susu. Sudah dua tahun Akang gak nyopet, kenapa tiba-tiba kembali seperti itu?" istrinya sedih.
Lelaki kurus masih bingung. Antara mengembalikan semua uang yang ada di dompet itu, dengan mengambilnya sedikit untuk bayar utang dan untuk keperluan mendesak.
Cukup lama terpaku. Baru kemudian memutuskan. Ya, dia setuju istrinya. Lalu mengangguk. "Baiklah," katanya.
"Ayo sekarang pergi dan kembalikan semua barang itu," sambil berkata begitu istrinya keluar kamar dan selang semenit kemudian masuk lagi sambil membawa kantong plastik.
"Dan juga ini serahkan," katanya sambil menyerahkan belanjaan yang dibawa suaminya tadi.
Lelaki kurus itu menurut seperti ketaatan santri kepada guru mengaji dan kiai. Dia segera pergi.
**
Sekitar Magrib, saat berbuka, alamat yang dicari sudah di depan mata. Lelaki kurus itu membuka pagar rumah tinggi sesuai alamat yang tertera di KTP. Tapi pagar itu terkunci. Dia mengucap salam berkali-kali.
Sebelum salam ketiga, seorang perempuan tua membuka pintu dan bertanya ada apa.
"Benar ini rumahnya Jelita?" tanya lelaki kurus menyebut nama perempuan sesuai KTP.
"Ya, benar. Ada apa?" judes perempuan tua yang tak ramah itu, sambil mengamati lelaki kurus dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Saya mau mengembalikan dompet!" langsung laki-laki kurus menjawab tanpa basa-basi.
Dia berharap perempuan tua itu segera menyuruhnya masuk, memanggil perempuan muda yang ingin ditemuinya. Dan dia akan menerangkan semuanya. Lalu meminta maaf kepada Jelita dan memohon kerelaan uang yang sudah dimakannya. Lalu urusan selesai. Lalu dia bisa segera pulang.
Tapi ternyata, di luar dugaan, di luar bayangannya. Perempuan tua itu bukannya menyuruhnya masuk, lalu mempertemukannya dengan Jelita. Dia malah tiba-tiba berteriak keras. Keras dan histeris sehingga mengagetkan tetangga.
"Copet! Copet! Ini copetnya!" katanya berkali-kali keras sekali.
Beberapa orang yang berada di lokasi perumahan itu sontak mendekati arah teriakan perempuan tua itu.
Tentu lelaki kurus itu kaget. Beberapa pemuda berlari mendekatinya. Dengan spontan dia pun menghindar. Dia lari ke arah berlawanan. Tapi dari arah itu pun datang orang-orang.
Lelaki itu tak berdaya. Dia dihajar warga.
***
Dedi Tarhedi lahir di Bandung, 6 April. Setelah pulang dari Timor Timur tahun 2000, cerpen-cerpennya dimuat di koran daerah Kabar Priangan, Radar, Pikiran Rakyat, dan Media Indonesia, Jakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/kota-mati-dan-pembunuhnya_20180721_203916.jpg)