Jumat, 8 Mei 2026

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Ritual Calon Pengantin

TIGA hari sebelum pesta perkawinan digelar, Fauzan sudah merasakan debar bahagia berlangsung di dalam dadanya.

Tayang:
Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen 

Oleh Zainul Muttaqin

TIGA hari sebelum pesta perkawinan digelar, Fauzan sudah merasakan debar bahagia berlangsung di dalam dadanya. Lelaki muda itu duduk di depan rumahnya menyaksikan orang-orang memasang terop, sebagian lagi membuat dapur di belakang. Para perempuan mengulek rempah, cobek mereka bawa sendiri dari rumah.

Seekor sapi dikeluarkan dari dalam kandang, dibawa ke halaman untuk beberapa saat. Barulah sekitar tiga puluh menit kemudian, sapi itu ditarik ke tengah sawah, tersungkur ke tanah sapi itu. Dengan membaca basmalah, digorok leher sapi berbadan gemuk itu, kencang teriakannya dalam sekarat. Dua paha daging sapi diantar ke dapur, digantung sungsang pada sebilah kayu.

Memasuki waktu Zuhur, mereka telah menyelesaikan semua pekerjaannya di rumah Kaprawi, lelaki berkumis tipis yang punya hajat. Kaprawi dikenal orang gemar membantu tetangganya, itulah mengapa banyak orang yang sangat bergairah begitu Kaprawi mengundang para tetangga, meminta pertolongan mereka untuk membantu di rumahnya sejak tiga hari sebelum pesta perkawinan anaknya digelar hingga selesai.

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Cerita Pendek yang Tidak Pernah Selesai

Tuan rumah mengeluarkan hidangan berupa nasi putih, dengan kuah santan, lodeh nangka muda, telur rebus digoreng berlumur tepung, serta ikan pindang dan cakalan. Tak ada daging hari itu, kecuali pada hari pesta pernikahan digelar. Selesai makan, mereka pamit pulang. Kaprawi mengucap terima kasih, seraya mengingatkan supaya hadir di hari pesta nanti.

Fauzan ikut bersalaman, sebagian orang memberi saran kepada calon pengantin itu. Kata mereka, perbanyak baca salawat dan berhati-hati sebab akan menginjak tanah desa orang. Hal ini memang sering disampaikan juga oleh Kaprawi kepada anak lelakinya jauh hari sebelumnya, bahwa tidak semua orang berhati baik, bisa jadi ada yang berniat jahat. Karena itulah, kata Kaprawi, bentengi diri dengan perbanyak zikir kepada Allah, sebab tiada yang mahakuat selain Tuhan.

Tidak hanya itu, seminggu sebelumnya Kaprawi datang ke rumah Pak Marzuki. Kedatangan Kaprawi meminta pertolongan kepada lelaki renta itu untuk membentengi rumahnya dari kejahatan orang-orang. Pak Marzuki mengangguk paham, dan kepada Kaprawi ia mengatakan bahwa dua hari lagi ia akan ke rumah Kaprawi.

Dua hari kemudian, Pak Marzuki datang malam hari. Selain dikenal sebagai pendiri Madrasah Taufiqurrahman, Pak Marzuki juga termasyhur di kalangan orang-orang sebagai dukun. Lebih tepatnya disebut kiai dukun, sebab ia sering mengatakan kepada semua orang bahwa ia sama sekali tak memelihara jin atau tuyul, semua kelebihan yang ada dalam dirinya berasal dari Allah.

“Saya ini hanya perantara, semuanya Allah yang punya kehendak,” demikian kata Pak Marzuki kepada Kaprawi.

Secangkir kopi pahit kesukaan Pak Marzuki dihidangkan, beberapa teguk ia minum. Bangkit dari duduknya, Pak Marzuki berjalan ke pojok rumah Kaprawi. Pada setiap sudut pekarangan rumah itulah Pak Marzuki meminta Fauzan menggali tanah, dalamnya kurang lebih sejengkal tangan orang dewasa. Kemudian Pak Marzuki mengeluarkan kertas persegi empat yang berisi sesuatu di dalamnya, bertuliskan huruf hijaiyyah di luarnya. Ia memasukkan sendiri kertas itu ke lubang, diiringi bacaan doa.

Kaprawi yang juga ikut bersamanya diam saja sejak tadi. Pak Marzuki pindah ke depan teras rumah Kaprawi, di bawah undakan bagian tengah teras rumah, lelaki berpeci hitam itu meminta Fauzan kembali menggali tanah, dan Pak Marzuki memasukkan kertas itu lagi. Terakhir Pak Marzuki duduk jongkok di depan tungku berjumlah lima yang akan digunakan menanak nasi pada hari pesta. Bertanya lelaki berubuh kecil itu tentang tungku pertama yang dibuat oleh Samiun, lelaki pembuat tungku sekaligus tukang tanak itu.

Setelah ditunjukkan, Fauzan menggali lubang di depan tungku pertama. Sejenak Pak Marzuki berkomat-kamit, kertas putih itu pun dimasukkan ke dalam galian. Fauzan heran, bertanya ia, “Kenapa di depan tungku dipasangi juga? Apa gunanya?” Fauzan berjalan beriringan dengan Pak Marzuki ke kamar mandi, membasuh tangan. Mereka duduk kembali, Pak Marzuki meneguk sisa kopinya yang sudah dingin.

“Banyak kejadian aneh di hari pesta pernikahan, paling sering ialah nasi yang dihidangkan kepada tamu tidak matang, jadi gak enak rasanya, bermacam-macamlah. Bila itu terjadi, tuan rumah yang malu, itulah mengapa saya juga tanam kertas itu di depan tungku,” jelas Pak Marzuki.

**

Jumat sore bergerimis, dingin membelai tubuh Fauzan yang sedang duduk di beranda. Bapaknya bertanya berkali-kali kepada Fauzan, apakah semua baju sudah ia kemas, sebab sebentar lagi Fauzan harus keluar dari rumahnya. Jam keluar dari pekarangan rumah sudah ditentukan oleh Pak Sale, lelaki berambut putih itu. Ia dikenal sebagai dukun bermuka dua, satu wajah bisa baik, satu wajah lagi bisa jahat.

Baca juga: Gubernur Sulsel Sebut Nama Allah Setelah Jadi Tersangka, Ngaku Tak Tahu yang Dilakukan Anak Buah

Baca juga: Ng Man-tat Pemain Paman Boboho Meninggal Dunia karena Kanker Hati, Ini Profil dan Rekam Kariernya

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved