Breaking News:

Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Cerita Pendek yang Tidak Pernah Selesai

Kepalaku berputar-putar. Mencari kalimat pertama. Tepatnya kalimat pembuka sebagai pintu masuk ke dalam cerita.

Penulis: Hermawan Aksan
Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen 

Oleh Eli Rusli

AKU bukan lelaki yang pandai merangkai kata-kata ajaib yang sanggup membius jutaan kepala seperti Andrea Hirata. Atau memindahkan realita kehidupan ke dalam jutaan paragraf seperti Ahmad Tohari. Atau… Meromantiskan jutaan rasa cinta seperti Sapardi Djoko Darmono. Tapi jiwaku memendam hasrat yang sangat kuat guna menceritakan perjalanan cinta kita lewat rangkaian kata-kata ajaib dalam jutaan paragraf yang romantis. Jika tidak dihimpun dalam sebuah novel, setidaknya bisa dirangkai dalam sebuah cerita pendek. Biar ribuan kepala mengenang perjalanan kisah cinta kita seperti Galih dan Ratna dalam Gita Cinta dari SMA karangan Eddy D. Iskandar. 

Kepalaku berputar-putar. Mencari kalimat pertama. Tepatnya kalimat pembuka sebagai pintu masuk ke dalam cerita. Semenit, dua menit, tiga menit. Tidak terasa waktu berputar mendekati tiga puluh menit. Aku masih belum menemukan kalimat pembuka yang tepat untuk cerita pendek kita. Jari-jari tanganku sempoyongan dua senti di atas huruf-huruf. Bingung mesti menginjak huruf yang mana. Layar monitor ibarat tirai putih, kecuali di bagian atas. Sebuah judul cerita pendek tampak goyah, hidup segan mati tak mau menunggu isi cerita.

Kurebahkan punggung ke sandaran kursi di belakangku. Isi kepala melempar sebuah pertanyaan. Apa yang akan aku kisahkan? Sekarang aku ingat. Kisah percintaan dua manusia pasti dimulai dengan pertemuan. Pertemuan pertama kita tidak jauh beda dengan cerita-cerita cinta dalam film romantis. Pertama kali wajahku dan wajahmu saling tatap ketika kita duduk di ruang yang dikelilingi buku-buku. Waktu itu, aku duduk di seberang meja tempat matamu bergelut dengan buku pilihanmu. Kursi yang sama. Dan… Buku yang sama.  Ya… Kau dan aku membaca buku yang sama. Buku Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas. Hanya ujung tahunnya yang beda. Kau dan aku sama-sama menyukai cerita. Kau sangat familiar dengan Agus Noor, Putu Wijaya, Ahmad Tohari, Seno Gumira Aji Darma, Budi Darma, dan banyak lagi. Jika mulutmu tidak kupotong. Niscaya tidak akan berhenti menyebut nama-nama selain mereka.

Baca juga: Hujan Deras dan Angin Kencang di Kota Tasikmalaya, Sejumlah Pohon Tumbang, Ada yang Tutupi Jalan

Baca juga: Legenda Pantai Karangnini, Obyek Wisata yang Bercerita Tentang Kesetiaan dan Batu Bergoyang

Dari sana tirai asmara kita terbuka. Mungkin aku harus membuka cerita pendek ini dari sana. Tanganku kembali melayang dua senti di atas hamparan huruf. Tapi petugas yang menjaga isi kepalaku belum memerintah tangan mana yang lebih dulu menari dan huruf mana yang lebih dulu diinjak. Tiba-tiba kelingkingku melompat menginjak huruf A. Jari tengah dan telunjuk bergantian menginjak huruf K dan U. Setelah itu jari-jariku kembali melayang di atas hamparan huruf. Jari-jariku enggan bergerak takut disalahkan petugas yang menjaga isi kepalaku yang jelas-jelas kebingungan hendak menurunkan perintah. Petugas di kepalaku tidak selancar petugas parkir di depan toko serba ada. Petugas di kepalaku tidak lebih pintar dari pejabat yang tanpa pikir panjang mengembat uang rakyat.

Untuk kedua kali punggung kurebahkan ke sandaran kursi. Tiba-tiba lukisan halte bus kota di depan perpustakaan kota melintas. Halte itu adalah bagian dari kisah cinta kita. Saat itu hujan menyerang jalan raya. Orang-orang kocar kacir mencari tempat berlindung. Halte bus kota yang memanjang memungkinkan menampung puluhan kepala. Aku dan kau yang baru meninggalkan halaman perpustakaan dengan tas yang dijejalin buku pinjaman sedang menunggu bus kota di halte. Halte yang lengang menjadi sesak seiring air hujan yang terus menerus meludahi jalan raya. Air hujan seperti peluru dimuntahkan dari langit.

Aku dan kau berdiri di antara bau keringat yang beragam. Matamu tajam menatap anak kecil yang berdiri di antara dua karung yang mengeluarkan asap. Tangannya memegang erat pikulan. Bajunya lusuh. Rona wajah menggurat lelah menanggung beban hidup. Kau bergeser pelan-pelan mendekatinya sembari menarik tanganku.

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Syukuran Naik Jabatan

Baca juga: Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Dua Kisah Unik yang Tak Berhubungan

“Wah! Jagung. Dingin-dingin gini enaknya makan jagung hangat,” katamu kepadaku.

“Berapa?”

“Dua ribu,” jawab anak itu.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved