Cerita Pendek

Cerpen Tribun Jabar Minggu Ini: Ritual Calon Pengantin

TIGA hari sebelum pesta perkawinan digelar, Fauzan sudah merasakan debar bahagia berlangsung di dalam dadanya.

Penulis: Hermawan Aksan | Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Cerpen 

Jumat sore bergerimis, dingin membelai tubuh Fauzan yang sedang duduk di beranda. Bapaknya bertanya berkali-kali kepada Fauzan, apakah semua baju sudah ia kemas, sebab sebentar lagi Fauzan harus keluar dari rumahnya. Jam keluar dari pekarangan rumah sudah ditentukan oleh Pak Sale, lelaki berambut putih itu. Ia dikenal sebagai dukun bermuka dua, satu wajah bisa baik, satu wajah lagi bisa jahat.

Baca juga: Gubernur Sulsel Sebut Nama Allah Setelah Jadi Tersangka, Ngaku Tak Tahu yang Dilakukan Anak Buah

Baca juga: Ng Man-tat Pemain Paman Boboho Meninggal Dunia karena Kanker Hati, Ini Profil dan Rekam Kariernya

Pak Sale, yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Kaprawi, memang kurang baik wataknya. Satu-satunya alasan mengapa Kaprawi meminta Pak Sale sebagai orang yang mengeluarkan anaknya dari rumah ialah kecemasan Kaprawi akan tindak buruk yang akan dilakukan Pak Sale bila ia tidak dilibatkan sama sekali dalam urusan pernikahan anaknya.

Kabarnya, Pak Sale sering buat ulah kepada tetangga yang tak pernah mengundangnya sebagai dukun saat pesta pernikahan atau acara lainnya. Kehebatan Pak Sale memang tak dapat diragukan, semua orang mengakuinya. Ia pernah buat calon pengantin tak bisa ucap ijab kabul, pernah bikin nasi yang dihidangkan ke tamu rasanya seperti nasi busuk. Bisa jadi, orang-orang mengundangnya bukan lantaran butuh pada Pak Sale, melainkan takut terhadap ulah buruknya.

Fauzan masih berada di dalam rumah ditemani kedua orang tuanya. Pak Sale menunggu di luar, melihat jarum jam bergeser tepat di angka lima. Sebelum keluar, Kaprawi meminta anaknya telentang sambl mengucap istigfar, dan sang ibu melangkahi tubuh Fauzan tiga kali dengan doa, semoga Fauzan lacar rezekinya dan disukai semua orang di tempatnya yang baru nanti.

Berdiri Fauzan di bibir pintu, bahunya dipegang Pak Sale. Fauzan mengikuti semua ucapan yang dilafazkan Pak Sale, khusyuk ia berdoa. Tiga kali Pak Sale menepuk pundak Fauzan, dan ia pun mengajak Fauzan keluar ke selatan, lalu ke timur dan ke utara. Di rumah tetangga, Fauzan menginap hingga tiba hari akad nikah besok. Tak boleh kaki Fauzan menginjak pekarangan rumahnya, melanggar pantangan itu sama artinya membahayakan dirinya sendiri.

Pak Sale membekali Fauzan dengan bacaan salawat Nariyah, itu dibaca sepanjang perjalanan menuju rumah mempelai wanita. Fauzan dilarang banyak bicara sewaktu perjalanan, mengamalkan itu akan membuat Fauzan lancar mengucap ijab kabul dan terhindar dari bahaya. Sesudah bersalaman, Pak Sale pulang dan mengatakan kepada Fauzan agar berdoa sebanyak mungkin. Doa akan menjadi sebab dikabulkannya keinginan setelah ikhtiar dilakukan.

Gelap menyungkup, Isya baru berlalu lima menit. Fauzan telah mengerjakan kewajiban malamnya. Rumah tetangga yang ditempati Fauzan itu berada di belakang rumahnya, karena itulah sangat jelas ia dengar begitu suara musik islami mengalun keras dari sound system Srikandi yang disewa Kaprawi. Sementara pelaminan berwarna kuning emas yang disewanya baru akan datang besok sore. Getar haru merasuk ke dalam jiwa Fauzan.

Fauzan membawa langkahnya ke rumah Wak Sudawi. Tidak masalah Fauzan pergi ke mana saja, kecuali ke pekarangan rumahnya sendiri, itulah pesan Pak Sale sore tadi. Wak Sudawi terkenal sebagai tukang pijat sekaligus orang yang berilmu tinggi. Sudah tiga kali Fauzan melemaskan urat-urat di tubuhnya dengan pijatan khusus seorang calon pengantin dengan tangan Wak Sudawi. Banyak calon pengantin datang kepadanya, minta dipijat secara khusus sekalian minta bedak senasren[1] racikan Wak Sudawi.

“Semua calon pengantin pasti minta bedak ini,” kata Wak Sudawi saat ia menyodorkan bedak bubuk biasa itu pada Fauzan. Itu bedak sudah dijapah mantra dan doa-doa oleh Wak Sudawi. Menggunakan bedak senasren akan membuat pemakainya terlihat bercahaya, disukai semua orang karena wajahnya yang menawan.

Girang Fauzan menerimanya. Wak Sudawi meminta Fauzan bersila menghadap ke arah kiblat, dari belakang Wak Sudawi memegang kepala Fauzan yang diam tanpa sepatah kata. Wak Sudawi meniup ubun-ubun Fauzan, lalu meminta laki-laki muda itu meminum secangkir air di hadapannya.

“Selain bedak itu, sudah saya masukkan senasren itu ke dalam tubuhmu,” kata Wak Sudawi. Fauzan mengangguk, merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Fauzan pamit setelah ia selipkan selembar uang seratus ribu saat bersalaman.

Esok harinya, Fauzan mengenakan jas hitam berselempang melati, berkopiah hitam, bersarung warna hijau muda. Menuju rumah Azizah, sang calon istri. Fauzan senantiasa membaca salawat Nariyah sebagaimana perintah Pak Sale. Tiba di sana, Fauzan lancar mengucap ijab kabul, tanpa gugup sedikit pun. Seseorang dari pihak mempelai wanita mengamankan sandal yang dipakai Fauzan, sebab jika sandal itu berubah posisinya, apalagi sampai hilang, keyakinan orang-orang bahwa rumah tangganya akan berantakan.

Setelah dua hari berlalu, ibunya Azizah bertanya, “Apakah Fauzan sudah berhasil menjebol keperawananmu?” Azizah mengangguk, tersenyum.

 Hari itu juga sang ibu membuat nasi ponar[2]. Barulah sore harinya, perempuan tua itu arebbe[3] ke semua tetangga. Tersenyum mereka menerima nasi ponar, dan beberapa di antara mereka mengeluarkan kalimat yang sama, “Wah, sebentar lagi akan punya cucu, ya.”

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved