Cerita Pendek

Pengiring Keranda

PAGI mengirim gerimis lembut. Sania, gadis kecil dengan rambut dikepang, masih berdiri di pekarangan. Masker merah muda bergambar Hello Kity membalut

Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen Apa yang Kaulupakan Hari Ini 

"Mereka? Mereka siapa? Mana?" Hampir bersamaan keduanya melontarkan tanya. Ibunya lekas menurunkan kantong belanjaan di lantai, ayahnya menyimpan helm di meja teras. Sania tak menjawab. Berdiri saja dekat pagar. Payungnya digoyang-goyang. Matanya terus menatap ke arah gang. Matanya meneteskan air mata. Gerimis kian rapat.

"Siapa mereka, Sania? Kenapa menangis?" Ibunya jongkok sambil memeluk.

"Mereka mengantar kendaraan mayat. Ayah dan Ibu jahat, menabrak mereka yang sedang berjalan sambil menangis." Sania meronta saat ayahnya mengajak masuk rumah. "Mereka terus saja berjalan, terus saja menangis. Hanya bunga-bunga Ibu yang bisa membuat mereka berhenti dan tersenyum."

Tangan kekar ayahnya tak lama sudah memangku Sania. Memasuki rumah. Ibunya mengikuti sambil berkali-kali melirik ke arah gang. Gang yang lengang. Tak ada siapa-siapa. Rumah-rumah tertutup pintunya. Orang-orang memang diimbau untuk tetap berada di rumah untuk mencegah penularan wabah yang sedang melanda. Tak akan ada yang berani ke luar rumah kecuali untuk keperluan berbelanja seperti dirinya.

"Stop! Stop! Stop! Perhatian! Korban meninggal dunia semakin banyak. Sayangi keluarga. Jangan lupa mencuci tangan sebelum masuk rumah! Kalau perlu langsung mandi!" Teriakan Teh Endah dari kamarnya menyambut mereka begitu memasuki rumah.

Dari dalam rumah, ibu Sania masih sempat mengintip lagi gang depan rumahnya itu. Hening. Tak ada siapa-siapa. Ia kemudian mencoba membayangkan orang-orang berjalan sambil menangis yang dilihat Sania, namun yang muncul dalam benaknya adalah bunga-bunga kesayanganya yang sudah lenyap. Keindahan yang hilang. Tiba-tiba saja ia dihinggapi ngeri. Lekas melangkah menyeberangi ruang tengah, menuju dapur.

"Ayah, besok beliin masker untuk si Panda, ya?" lamat-lamat suara dan renyah tawa Sania menyeruak dari dalam pelukan ayahnya di atas sofa. Televisi menyala. Kabar tentang wabah dari seluruh dunia, angka-angka penderita, angka-angka kematian segera memenuhi rumah.

"Apakah mayat memakai masker juga? Ke mana perginya mayat? Eh, kenapa, sih, yang hidup itu mesti mati? Nenek sedang apa, ya?" suara Sania menyusup seperti mengikuti ibunya yang merenung di dapur, mengenang bunga mekar dan kuncup rekah yang lenyap dari tangkai-tangkainya. Tangkai kehidupan.

***

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved