Cerita Pendek
Pengiring Keranda
PAGI mengirim gerimis lembut. Sania, gadis kecil dengan rambut dikepang, masih berdiri di pekarangan. Masker merah muda bergambar Hello Kity membalut
Sania tahu, dari cerita ibunya, burung kapinis sangat senang dengan air, itulah kenapa setiap gerimis, ketika yang lain berteduh, kapinis malah bermain-main.
"Apakah orang-orang itu juga seperti kapinis, Panda? Senang dengan gerimis? Tapi kenapa menangis? Kapinis pasti tidak menangis. Kapinis riang gembira bermain gerimis." Sania bergantian memandang iringan tangisan di gang dan tarian kapinis di langit.
Suara motor. Berbelok mendekat dari arah Warung Mang Darpan. Motor yang sangat ia kenal itu terus saja melaju seolah-olah tak ada orang-orang yang berjalan di gang. Sania bersorak campur cemberut.
"Ayah dan Ibu harusnya menunggu semua orang menangis itu lewat. Kasihan mereka ditabrak motor Ayah. Tapi kenapa terus saja berjalan, ya?" Sania membuka masker dan langsung melontarkan protes sambil mendekati pintu pagar yang sudah terbuka. Ibunya, perempuan bercadar, sudah berjalan dengan kantong plastik besar penuh belanjaan di kedua tangannya.
"Sudah dibilangin, jangan hujan-hujanan," ujar ayahnya begitu membuka helm dan masker. Lelaki tegap dengan kening lebar itu melempar tatap cemas.
"Ini gerimis, Yah. Bukan hujan. Ya, kan, Bu?" jawab Sania makin cemberut.
Ibunya cuma tersenyum. Mengedarkan pandang. Keningnya tiba-tiba dipenuhi kerutan. Sekali lagi matanya berkeliling mengamati setiap tanaman bunga kesayangannya. Ditatapnya Sania yang masih memeluk boneka panda dan memegang payung. Menarik napas panjang. Memejamkan mata seakan sedang mengenang seluruh bunga yang lenyap dari setiap tanaman di pot-pot itu.
"Bunga-bunga Ibu ke mana?" tanya ayahnya seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran ibunya.
"Bunga-bunga Ibu membuat tersenyum orang-orang yang menangis."
Ayah dan ibunya menggelengkan kepala. Keduanya berjalan ke arah keran air, bergantian mencuci tangan, sebelum mendekati Sania.
"Ayo, masuk," ajak ibunya lembut.
"Nanti, Bu. Panda masih ingin melihat kapinis yang bermain sama gerimis."
"Kapinisnya juga sudah mau pulang. Lihat, tinggal sedikit." Ayahnya menunjuk ke arah langit.
"Banyak, Yah. Masih banyak. Tak akan pulang selama masih ada gerimis. Seperti mereka itu, tuh. Terus saja berjalan tak ada habisnya." Sania malah berlari mendekat ke arah pagar.
Ayah dan ibu Sania sejenak saling pandang. Keduanya memandang ke arah gang yang ditunjuk Sania. Saling pandang lagi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/apa-yang-kaulupakan-hari-ini.jpg)