Cerita Pendek
Pengiring Keranda
PAGI mengirim gerimis lembut. Sania, gadis kecil dengan rambut dikepang, masih berdiri di pekarangan. Masker merah muda bergambar Hello Kity membalut
Cerpen Toni Lesmana
PAGI mengirim gerimis lembut. Sania, gadis kecil dengan rambut dikepang, masih berdiri di pekarangan. Masker merah muda bergambar Hello Kity membalut mulutnya. Tangan kirinya memeluk boneka panda, tangan kanannya erat memegang pagar besi. Matanya yang bulat terpana menatap orang-orang yang berjalan di gang.
Lelaki-perempuan. Tua-muda. Wajah mereka seperti awan mendung di langit yang meneteskan gerimis. Mereka beriringan. Mengikuti para pemanggul keranda yang sudah hampir lenyap di kelokan depan warung Mang Darpan. Orang-orang itu berjalan sambil menangis. Iringan panjang. Tak habis-habis.
"Ada yang meninggal, Panda. Lihat, kata Teh Endah, itu namanya keranda. Kendaraan mayat. Nenek pernah menaikinya dan tak pernah kembali ke rumah," bisik Sania, seakan takut terdengar oleh orang-orang yang masih saja beriringan di gang.
"Kenapa mereka tidak memakai masker, Panda? Jangan-jangan mayatnya juga tidak memakai masker." Sania menghentikan bisikannya, erat memeluk boneka ketika seorang perempuan tua dalam iringan menghentikan langkah, berdiri rapat ke pagar, membiarkan dirinya dilewati orang-orang di belakangnya. Ia menyisih sendiri, menatap ke dalam pekarangan, membungkuk, dan menjulurkan tangannya masuk di antara pagar besi, seperti hendak meraih tubuh Sania.
Sania terkejut. Mundur sambil menatap tangan keriput yang terus terjulur, memetik tiga kuntum kembang melati yang mekar. Tanpa berkata apa-apa, tanpa menoleh ke arah gadis kecil yang memperhatikannya, perempuan tua itu menggenggam melati, berjalan lagi, kembali menjadi bagian iringan orang-orang yang menangis.
Sebelum berjalan lagi dalam iringan, Sania melihat perempuan itu mencium bunga dan sedikit tersenyum. Senyuman yang aneh. Senyuman yang kesedihannya melebihi tangisan. Sania terpana. Sekalipun menangkap kesedihan dari senyuman itu, ia merasa senang karena bisa melihat terbitnya sebuah senyuman di pagi yang dingin.
Bunga itu membuat tersenyum orang-orang yang menangis, pikir Sania sambil melihat ke sekeliling pekarangan yang hijau rimbun dan dipenuhi warna-warni kembang. Tanaman tersebar di tanah. Pot-pot tanaman bunga berjajar. Tertata dengan indah. Besar-kecil. Tinggi-rendah. Sebagian tersimpan di teras. Bunga-bunganya sedang bermekaran. Mawar, melati, aster, soka, dan banyak lagi.
Ibunya memang suka sekali bunga-bunga. Bunga-bunga kesayangan ibunya itu mulai basah serbuk gerimis. Sania berbisik lebih pelan lagi ke boneka panda, sebelum berjalan hati-hati, memetik setiap kuntum bunga yang mekar, bahkan kuncup yang hendak rekah. Tubuh mungil yang erat memeluk boneka itu bergerak dari satu bunga ke bunga yang lain, lantas menyimpan setiap bunga yang terpetik di tembok pagar. Dijejerkan. Dari arah gang, tangan-tangan orang yang berjalan sambil menangis itu terulur mengambil bunga-bunga.
Sania riang sekali melihat bunga-bunga itu diraih dan digenggam tangan-tangan yang terus berjalan beriringan. Tubuhnya lebih gesit lagi berlari dalam gerimis lembut. Memetik semua bunga yang teraih oleh jemari mungilnya. Tak lama bunga-bunga sudah berpindah ke tembok pagar, berpindah pula ke tangan-tangan yang terulur, lenyap dalam genggaman yang terus berjalan.
"Wah, kamu basah, Panda." Sania berlari ke dalam rumah. Tak lama muncul lagi dengan payung mungil yang sudah terkembang, memayungi tubuhnya yang makin erat memeluk boneka panda. Berjalan di pekarangan, menatap iringan yang tak juga habis. Tangisan yang terus mengalir.
"Mayat itu mau ke mana, Panda? Bukankah tidak boleh ke luar rumah? Kata Ayah dan Ibu, kita hanya boleh bermain di sini. Tidak boleh pergi ke mana-mana. Tidak boleh main sepeda- sepedaan di gang. Tidak boleh main ke rumah Caca, ke rumah Pipit, ke rumah Nisa. Jajan ke warung Mang Darpan saja tidak boleh. Segalanya tidak boleh." Sania sejenak diam seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. Pandangannya seperti menyusuri kelokan gang tempat munculnya iringan.
Sania tahu, sesekali ibunya suka mengajaknya belanja ke warung di bawah sana, sebelum kelokan itu, gang melewati rumah-rumah padat yang hampir berjejalan mirip boneka di lemarinya. Gang itu seingatnya mirip ular panjang, ujung ekornya menyentuh pinggir sungai yang airnya cokelat penuh sampah, sedang kepalanya menganga ke arah jalan besar.
"Oh, iya, kan sedang ada ... apa, ya? Wabah. Iya, wabah, kata Teh Endah juga. Ah, Teh Endah terus saja main hape di dalam kamar. Katanya belajar di rumah, ya? Ayah dan ibu juga bekerja di rumah. Kamu tahu apa itu wabah, Panda? Katanya lebih galak dari anjing Mang Darpan yang suka mengejar dan menggigit kucing. Bisa bikin sakit dan mati. Mati, Panda. Hiiiy!" Di bawah payung, Sania terus berbisik kepada boneka panda sambil berjalan keliling di pekarangan. Tapi tak ada lagi bunga dan kuncup yang tersisa sementara iringan orang-orang masih terus melewati gang depan rumahnya. Sania tengadah, seperti berharap bunga berjatuhan dari langit yang kelabu.
Langit terus saja mengirim gerimis. Nun, jauh di atas atap-atap rumah, di atas pohon beringin besar, burung-burung kapinis beterbangan, menyembur ke udara basah. Burung-burung mungil hitam itu nampak bergembira. Beterbangan di atas kota, di dalam gerimis.
Sania tahu, dari cerita ibunya, burung kapinis sangat senang dengan air, itulah kenapa setiap gerimis, ketika yang lain berteduh, kapinis malah bermain-main.
"Apakah orang-orang itu juga seperti kapinis, Panda? Senang dengan gerimis? Tapi kenapa menangis? Kapinis pasti tidak menangis. Kapinis riang gembira bermain gerimis." Sania bergantian memandang iringan tangisan di gang dan tarian kapinis di langit.
Suara motor. Berbelok mendekat dari arah Warung Mang Darpan. Motor yang sangat ia kenal itu terus saja melaju seolah-olah tak ada orang-orang yang berjalan di gang. Sania bersorak campur cemberut.
"Ayah dan Ibu harusnya menunggu semua orang menangis itu lewat. Kasihan mereka ditabrak motor Ayah. Tapi kenapa terus saja berjalan, ya?" Sania membuka masker dan langsung melontarkan protes sambil mendekati pintu pagar yang sudah terbuka. Ibunya, perempuan bercadar, sudah berjalan dengan kantong plastik besar penuh belanjaan di kedua tangannya.
"Sudah dibilangin, jangan hujan-hujanan," ujar ayahnya begitu membuka helm dan masker. Lelaki tegap dengan kening lebar itu melempar tatap cemas.
"Ini gerimis, Yah. Bukan hujan. Ya, kan, Bu?" jawab Sania makin cemberut.
Ibunya cuma tersenyum. Mengedarkan pandang. Keningnya tiba-tiba dipenuhi kerutan. Sekali lagi matanya berkeliling mengamati setiap tanaman bunga kesayangannya. Ditatapnya Sania yang masih memeluk boneka panda dan memegang payung. Menarik napas panjang. Memejamkan mata seakan sedang mengenang seluruh bunga yang lenyap dari setiap tanaman di pot-pot itu.
"Bunga-bunga Ibu ke mana?" tanya ayahnya seakan mengerti apa yang ada dalam pikiran ibunya.
"Bunga-bunga Ibu membuat tersenyum orang-orang yang menangis."
Ayah dan ibunya menggelengkan kepala. Keduanya berjalan ke arah keran air, bergantian mencuci tangan, sebelum mendekati Sania.
"Ayo, masuk," ajak ibunya lembut.
"Nanti, Bu. Panda masih ingin melihat kapinis yang bermain sama gerimis."
"Kapinisnya juga sudah mau pulang. Lihat, tinggal sedikit." Ayahnya menunjuk ke arah langit.
"Banyak, Yah. Masih banyak. Tak akan pulang selama masih ada gerimis. Seperti mereka itu, tuh. Terus saja berjalan tak ada habisnya." Sania malah berlari mendekat ke arah pagar.
Ayah dan ibu Sania sejenak saling pandang. Keduanya memandang ke arah gang yang ditunjuk Sania. Saling pandang lagi.
"Mereka? Mereka siapa? Mana?" Hampir bersamaan keduanya melontarkan tanya. Ibunya lekas menurunkan kantong belanjaan di lantai, ayahnya menyimpan helm di meja teras. Sania tak menjawab. Berdiri saja dekat pagar. Payungnya digoyang-goyang. Matanya terus menatap ke arah gang. Matanya meneteskan air mata. Gerimis kian rapat.
"Siapa mereka, Sania? Kenapa menangis?" Ibunya jongkok sambil memeluk.
"Mereka mengantar kendaraan mayat. Ayah dan Ibu jahat, menabrak mereka yang sedang berjalan sambil menangis." Sania meronta saat ayahnya mengajak masuk rumah. "Mereka terus saja berjalan, terus saja menangis. Hanya bunga-bunga Ibu yang bisa membuat mereka berhenti dan tersenyum."
Tangan kekar ayahnya tak lama sudah memangku Sania. Memasuki rumah. Ibunya mengikuti sambil berkali-kali melirik ke arah gang. Gang yang lengang. Tak ada siapa-siapa. Rumah-rumah tertutup pintunya. Orang-orang memang diimbau untuk tetap berada di rumah untuk mencegah penularan wabah yang sedang melanda. Tak akan ada yang berani ke luar rumah kecuali untuk keperluan berbelanja seperti dirinya.
"Stop! Stop! Stop! Perhatian! Korban meninggal dunia semakin banyak. Sayangi keluarga. Jangan lupa mencuci tangan sebelum masuk rumah! Kalau perlu langsung mandi!" Teriakan Teh Endah dari kamarnya menyambut mereka begitu memasuki rumah.
Dari dalam rumah, ibu Sania masih sempat mengintip lagi gang depan rumahnya itu. Hening. Tak ada siapa-siapa. Ia kemudian mencoba membayangkan orang-orang berjalan sambil menangis yang dilihat Sania, namun yang muncul dalam benaknya adalah bunga-bunga kesayanganya yang sudah lenyap. Keindahan yang hilang. Tiba-tiba saja ia dihinggapi ngeri. Lekas melangkah menyeberangi ruang tengah, menuju dapur.
"Ayah, besok beliin masker untuk si Panda, ya?" lamat-lamat suara dan renyah tawa Sania menyeruak dari dalam pelukan ayahnya di atas sofa. Televisi menyala. Kabar tentang wabah dari seluruh dunia, angka-angka penderita, angka-angka kematian segera memenuhi rumah.
"Apakah mayat memakai masker juga? Ke mana perginya mayat? Eh, kenapa, sih, yang hidup itu mesti mati? Nenek sedang apa, ya?" suara Sania menyusup seperti mengikuti ibunya yang merenung di dapur, mengenang bunga mekar dan kuncup rekah yang lenyap dari tangkai-tangkainya. Tangkai kehidupan.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/apa-yang-kaulupakan-hari-ini.jpg)