Cerpen
Senja Terakhir
TERTIKAM sebuah kenyataan, Burhan termangu disudut jendela dalam sejuta rasa hampa. Pandangannya menatap alam senja, langit, dan awan-awan putih
"Kau pasti tak akan kuat menahan sakitmu, Raga. Kami permisi akan keluar dari wujudmu, selamat tinggal!" Akal, Hati, Akhlak, dan Nafsu berkata serentak sambil menghilang meninggalkan Raga.
Raga menjerit-jerit menahan sakit. Tiba-tiba Burhan merasa langit runtuh menimpa atap kamar dan langsung menimpa kepalanya. Pandangannya menjadi gelap gulita.
Suara tubuh dan kepala Burhan yang jatuh berderak menimpa lantai mengagetkan istri dan anaknya, yang waktu itu berada si ruang tamu menonton televisi. Mereka bergegas menuju kamar di mana Burhan berada. Mereka berteriak histeris melihat Burhan yang terkapar dan sudah lunglai tak berdaya. Dan teriakan histeris mereka yang kedua kali terdengar oleh para tetangga, hingga kemudian para tetangga datang ke rumah Burhan.
Beberapa saat kemudian, setelah menyadari dan menerima dengan ikhlas apa yang terjadi, sambil menyeka air mata Roslimah menyuruh Lely untuk menutup jendela kamar yang masih terbuka. Lely, yang masih berlinang air mata, segera melaksanakan perintah ibunya. Sebelum menutup jendela, ia masih sempat menatap pemandangan di luar: cuaca mulai gelap, senja telah merapat ke batas malam. Dari masjid, suara azan Magrib terdengar mengalun syahdu.
***
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/apa-yang-kaulupakan-hari-ini.jpg)