Cerpen

Senja Terakhir

TERTIKAM sebuah kenyataan, Burhan termangu disudut jendela dalam sejuta rasa hampa. Pandangannya menatap alam senja, langit, dan awan-awan putih

Editor: Hermawan Aksan
Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen Apa yang Kaulupakan Hari Ini 

"Aku benar-benar merasa takut dan sedih," kata Hati.

"Dalam kubur nanti, aku bakal hancur tinggal rangka. Tapi kau pasti mengalami siksa kubur, Burhan. Apalagi selama hidup di dunia kau banyak melakukan dosa. Untuk meringankan siksa kuburmu, sudah sejauh mana kau bertobat, Burhan?" Burhan mendengar suara Raga bertanya.

"Selama kurang lebih lima belas tahun terakhir kami sering melakukan pertobatan. Dalam salat lima waktu sehari atau salat tahajud, kami selalu berdoa agar Tuhan mengampuni dosa-dosamu, Burhan," kata Akhlak, Akal, dan Hati serentak. Hanya Nafsu yang membisu.

Burhan jadi teringat akan dosa-dosa di masa lalu. Terutama dosa-dosa besar yang pernah ia lakukan selama hidupnya. Di masa mudanya ia sering menyalurkan hasrat kejantanannya di tempat-tempat pelacuran. Beberapa kali ia pernah terkena penyakit kelamin. Tak hanya itu, ia pernah berselingkuh dengan istri orang. Inilah dosa besar yang selalu diingat dan disesalinya seumur hidup. Apalagi jika ia ingat sabda Nabi Muhammad Saw: "Tak ada dosa yang lebih besar setelah syirik (kecuali dosa) laki-laki yang meletakkan maninya pada rahim yang tidak halal untuknya."

"Kau selalu menurutkan hawa nafsu, Burhan. Kami selalu kaukesampingkan jika kau sudah tergoda perempuan. Kau, kan, tahu perempuan itu punya suami," kata Akal dan Akhlak.

"Lagi-lagi aku yang selalu disalahkan, padahal aku hanya menuruti keinginanmu, Burhan," kata Nafsu. Kali ini Hati diam membisu, ia memang merasa senang setiap mengikuti keinginan Burhan.

Ketika membayangkan kengerian jika ia mengalami siksa kubur dan kelak menjadi penghuni neraka, ingatan Burhan kembali menemukan sebuah dosa besar yang pernah ia lakukan. Ketika ia menduduki sebuah jabatan penting di sebuah instansi pemerintah, ia melakukan perbuatan tercela yang sangat dibenci oleh seluruh rakyat negeri ini, yaitu korupsi. Uang hasil korupsi itu sebagian besar ia gunakan untuk berfoya-foya, berselingkuh dengan perempuan-perempuan muda, bahkan ada di antara mereka yang ia jadikan sebagai wanita simpanan.

Tapi Burhan cerdik dalam melakukan hal ini. Ia sangat berhati-hati agar skandalnya tidak sampai diketahui keluarga. Di mata istrinya, Burhan dikenal sebagai suami yang baik dan di mata anak-anaknya ia dipandang sebagai bapak yang bertanggung jawab dan penuh kasih sayang. Ia berhasil menguliahkan keempat anaknya, sampai mereka meraih gelar sarjana. Mereka sudah bekerja dan berumah tangga, tinggal di kota-kota yang satu sama lain berjauhan. Dari keempat anaknya itu, Burhan sudah dianugerahi lima cucu. Di rumahnya kini ia tinggal bersama istrinya, Roslimah, dan anak perempuan yang bungsu, Lely, yang masih sekolah di SMA kelas XII.

Beberapa saat kemudian, sebuah dosa besar yang pernah dilakukan kembali menyergap ingatan Burhan. Selama ini, ia tidak begitu memedulikan keadaan kedua orang tuanya di kampung. Karena kesibukan dalam urusan pekerjaan dan rumah tangga, hanya setiap Lebaran ia menjenguk kedua orang tuanya. Jika mendengar kabar orang tuanya sakit, ia hanya mengirim uang secukupnya untuk berobat. Tak pernah ia merasakan kerinduan untuk bertemu dengan mereka. Selama ini, yang mengurus dan merawat mereka adalah adik perempuan yang masih tinggal serumah dengan orang tuanya. Begitu sikap Burhan selama puluhan tahun sampai kedua orang tuanya meninggal dunia. Burhan teringat akan sabda Nabi Muhammad Saw: "Dosa besar selain syirik (menyekutukan Allah) ialah durhaka terhadap orang tua."

Burhan merasa telah menjadi anak durhaka. Ia merasa, lengkaplah sudah dosa-dosa besar yang telah dilakukannya selama hidup di dunia. Ia kembali membayangkan kengerian dalam siksa kubur dan azab yang pedih di akhirat nanti.

Tapi kemudian Burhan ingat bahwa kurang lebih lima belas tahunan terakhir ia disiplin beribadah, selalu berusaha menjalankan amar makruf nahi munkar, bertobat agar Tuhan mengampuni dosa-dosanya. Tak hanya itu, ia mengajak istrinya berangkat naik haji ke Tanah Suci. Pulang dari Tanah Suci, hatinya merasa diringankan dari segala dosa.

Burhan terus menatap Raga dalam cermin. Tiba-tiba ia mendengar suara dan melihat orang-orang lewat mengantarkan jenazah. Ia tahu, yang meninggal siang tadi adalah Pak Warso, yang juga sudah lama mengidap penyakit diabetes. Rupanya jenazah Pak Warso dimakamkan senja ini. Darah Burhan terkesiap, tubuhnya menjadi panas dingin, ia tahu bahwa tak lama ia pun akan seperti Pak Warso, jenazahnya akan diantarkan orang ke pemakaman.

"Kau lihat, Burhan, aku pun akan seperti raga Pak Warso," kata Raga. Air mata Burhan membasahi pipinya yang keriput mendengar ucapan Raga.

"Aku benar-benar sedih sekali, tak lama lagi aku akan berpisah denganmu, Raga," kata Hati.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved