Breaking News:

Cerpen

Senja Terakhir

TERTIKAM sebuah kenyataan, Burhan termangu disudut jendela dalam sejuta rasa hampa. Pandangannya menatap alam senja, langit, dan awan-awan putih

Tribun Jabar
Ilustrasi Cerpen Apa yang Kaulupakan Hari Ini 

Oleh Yoffie Cahya

TERTIKAM sebuah kenyataan, Burhan termangu disudut jendela dalam sejuta rasa hampa. Pandangannya menatap alam senja, langit, dan awan-awan putih di atas Gunung Tampomas. Matahari menerangi lereng-lereng bukit dengan sinarnya yang mulai menguning keemasan.

Sejak usia remaja sampai usia empat puluhan, di mana pun berada, alam senja bagi Burhan selalu identik dengan romantisme dan keindahan. Tapi kini, di usianya yang sudah menginjak tujuh puluh tahun, alam senja selalu menggiring imajinasinya pada satu hal yang menakutkan, yaitu kematian. Ia merasa maut akan segera menjemputnya. Betapa tidak. Sudah belasan tahun ia mengidap penyakit diabetes. Selama itu pula, sudah berapa kali ia keluar-masuk rumah sakit. Ia tak dapat mengendalikan penyakit yang tidak bisa disembuhkan ini hingga sudah terjadi komplikasi, sudah terjadi kerusakan pada ginjal, paru-paru, dan jantungnya. Ia merasa sudah tak punya harapan lagi untuk hidup lebih lama.

Setelah memandang alam senja, Burhan lama berdiri di depan cermin lemari di sudut kamarnya. Ia ingin lebih lama melihat dengan jelas dalam cermin: betapa kondisi fisiknya kini benar-benar membuatnya tenggelam dalam kesedihan.

Kadang-kadang ia seperti tak percaya akan kenyataan ini, pada saat usianya sekarang belum setua mereka, orang-orang yang berumur panjang. Karena itu, Burhan mengumpulkan semua elemen yang selama ini merupakan kesatuan utuh yang membentuk pribadi dan karakternya. Maka, senja itu, Akal, Hati, Akhlak, dan Nafsu berkumpul di hadapan Burhan.

"Lihatlah raga kita sekarang, tinggal kulit pembungkus tulang," kata Burhan, mengawali pembicaraan. "Tidak akan lama lagi akan kita tinggalkan, padahal aku ingin berumur panjang. Aku ingin lebih lama hidup berbahagia bersama istri, anak-anak, dan cucu-cucuku. Setidaknya, aku ingin seperti mereka yang sebaya denganku, tapi masih kelihatan sehat, belum penyakitan seperti aku."

"Salahmu sendiri, Burhan," kata Akal. "Kau selalu menurutkan nafsu. Waktu belum terkena diabetes, seharusnya kau menjaga kesehatanmu dengan gaya hidup dan pola makan yang baik, rajin berolahraga. Tapi kau pemalas, gaya hidup dan pola makanmu amburadul."

"Ya, memang benar demikian," kata Hati. "Tapi aku menurutkan keinginanmu karena aku ingin kau selalu merasa senang."

"Seharusnya kau menuruti anjuran Nabi Muhammad Saw: Makanlah jika sudah lapar, berhentilah sebelum kenyang," kata Akhlak.

"Tapi kau selalu makan sebanyak-banyaknya, padahal berbahaya bagi orang yang sudah berusia 40 tahunan ke atas, meninggikan tensi dan gula darah," kembali Akal berkata.

Halaman
1234
Editor: Hermawan Aksan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved