Cerpen Kambali Zutas

Neng Cinta di Ladang Tebu

Rimbun ladang tebu menutup rapat. Neng Romlah berdiri di pematang luar kebun tebu milik Kiai.

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi Neng Cinta di Ladang Tebu 

"Tidak, tidak. Aku tidak akan menuruti hawa nafsu, menerobos batas dinding kesetiaan. Aku telah menemukan jawaban tentang apa yang dikatakan almarhum Kiai. Keikhlasan dan kesetiaanku padamu."

Kukecup kening Neng Romlah. Ia pun memeluk dan mendekapku.

"Maafkan, aku berbuat yang tak pernah pernah kauharapkan. Aku telah nekat dan menjauh dari dirimu. Aku tidak tahan. Hatiku selalu tergoyah setiap malam. Air mata menetes terurai. Untaian doa, minta petunjuk di kala sujud tahajud. Aku mencoba bersabar dan berusaha tegar. Ucapan dan nasihat Bapak dan Ibu tentang sifat keserakahan dan kesetiaan manusia adalah benar."

"Setiap detik, bisikan syaitan selalu muncul. Selimut gumpalan kebencianku kepada Neng Siti. Meskipun saudara, tetapi entahlah. Aku tak sanggup membayangkan, ketika kau menikahinya. Dan aku bersamamu."

"Begitu juga denganku, maafkanlah. Aku sekarang mengerti. Aku begitu yakin hikmah di balik semua ini. Kau makin cantik dan pintar. Ilmu dari Kairo selama dua tahun benar-benar kaukuasai. Aku sangat beruntung. Dan yang terpenting, mengingatkanku tentang arti sebuah kesetiaan. Halal bagiku, tetapi sakit bagimu."

Kami saling berpandangan. Senyum Neng Romlah, kubalas. Lalu kami bergegas melepas petang yang telah mendera menjadi malam.

***

Sumber: Tribun Jabar
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved