Cerpen Kambali Zutas
Neng Cinta di Ladang Tebu
Rimbun ladang tebu menutup rapat. Neng Romlah berdiri di pematang luar kebun tebu milik Kiai.
FA'ALA - yaf'ulu - fa'lan - wa maf'aalan - fahuwa faa'ilun - wadzaaka maf'uulun - uf'ul - laa taf'ul - maf'alun maf'alun - mif'alun. Sayup-sayup terdengar lafal-lafal bahasa Arab. Semakin terdengar jelas. Aku teringat benar, ini bagian awal kitab al-Amtsilah at-Tashrifiyyah, kitab sharaf karya KH M Ma'shum Diwek Jombang. Cakrawala petang beranjak meninggalkan mega-mega merah memudar teriris di langit biru, memutih, dan kuning. Berangsur-angsur menghitam. Aku berdiri di teras.
"Takdirku tak bisa berubah. Aku akan dijodohkan," kata Neng Romlah, putri Kiai, waktu itu.
"Tetapi, bagiku ini belum terakhir, justru awal segalanya. Aku akan buktikan. Tidak ada yang tak mungkin," aku mencoba meyakinkan Neng Romlah.
"Bapak? Apalagi Ibu sudah tahu segalanya, tidak mungkin mengizinkan."
Desir angin berembus. Menerpa daun-daun tebu. Saling menyentuh antara satu dengan yang lain. Aku berdiri di antara ikatan-ikatan tebu. Rimbun ladang tebu menutup rapat. Neng Romlah berdiri di pematang luar kebun tebu milik Kiai.
"Aku pulang dulu. Bapak sudah memanggil."
Tak kuhiraukan Neng Romlah pamitan. Jelas bukan perkara mudah. Aku harus meluluhkan hati Kiai, Ibu Nyai, dan keluargaku.
**
"SUDAH siapkah kau menikah?"
Malam itu seolah terang benderang. Bumi bak pecah terbelah. Cahaya bulan seakan-akan tenggelam berganti matahari. Laksana sorot sinarnya hanya tertuju ke arahku. Kepala tertunduk tak berani mengalihkan pandangan ke depan atau samping. Berat bibir membuka berbuah kata.
"Sudahkah kau siap menikah? Kalau kau sendiri tak yakin, bagaimana orang lain? Apakah kau hanya bercanda dan membujuk Romlah?"
Malam semakin larut, belum kunjung berkata. Menjawab pertanyaan yang kunantikan selama ini. Tentang asa dan cinta yang setiap hari kuharapkan. Tentang doaku sepanjang waktu. Cinta yang pernah kuukir penuh dengan khayalan. Mimpi menjadi kenyataan.
Aku akan bersanding dengan Neng Romlah. Terbayang kewajiban dan akhlak menjadi menantu Kiai. Mengajar kitab kuning dan menyimak hafalan bait-bait nadhom para santri. Setelah salat Magrib misalnya, harus rutin menyimak hafalan nadham imriti. Lebih-lebih lagi 1.000 bait nadham Al Fiyah Ibn Malik.
"Terserah. Kamu yang memutuskan. Aku tak akan ikut campur. Kau akan menjadi menantuku. Kau menjadi bagian di sini."
Aku masih membisu. Mata tetap menatap tanah hitam tanpa remang cahaya lampu di depan ndalem rumah Kiai. Teras rumah tua ini, tempat berdiri sekarang ini. Dua tahun sudah, aku menunggu Neng Romlah. Teringat waktu ia bermanja-manja setelah salat Subuh di hari Jumat. Hari libur membaca kitab Tafsir Jalalain dan Saheh Bukhari. Aku muhasabah setiap waktu dan bermunajat berharap kau kembali. Para santri hampir setiap malam membaca wirid untuk kepulanganmu. Berdoa semoga kau selamat. Neng Romlah pergi dari rumah dan semuanya bungkam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jabar/foto/bank/originals/neng-cinta-di-ladang-tebu_20161126_211130.jpg)