Cerpen Kambali Zutas

Neng Cinta di Ladang Tebu

Rimbun ladang tebu menutup rapat. Neng Romlah berdiri di pematang luar kebun tebu milik Kiai.

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi Neng Cinta di Ladang Tebu 

"Lantas apa salahku? Normal saja aku melakukannya? Tidak ada salahnya dan banyak tamsil? Ini murni tentang sifat manusia dan dibenarkan agama. Aku juga tak diam-diam, pamit denganmu."

Lalu aku berjalan dengan pandangan jauh ke selatan. Meski gelap aku hafal jalan setapak itu menuju ladang tebu.

**

"INI sudah malam. Kamu harus pulang. Ayo pulang bersama."

Aku mencoba mendekati Neng Romlah pada suatu malam. Kiai sudah lama mencari dan khawatir. Para santri berusaha mencari di pinggir jalan raya dan halte bus. Sebagian mencari dan memeriksa di ladang tebu.

Tiba-tiba aku berbalik arah dan memisahkan diri dari rombongan. Berjalan dan berlari menerobos rimbun pohon tebu di tengah ladang. Tangan menutup samping mata agar tak terkena daun tebu. Sempat merinding, teringat cerita Kang Umam mengenai kuburan massal peristiwa 1965. Entah benar atau tidak, tetapi cerita itu begitu dipercaya. Pak Yas, pemilik sawah tiga petak ini, hampir setiap malam Jumat menaburkan bunga di lokasi kuburan itu. Namun niat kuat, kegelisahan, dan kekhawatiran mengantarkanku.

Kaki melangkah menuntun menuju tempat yang sebenarnya tak asing bagiku. Benar adanya. Kutemukan sesosok manusia duduk. Napas tersengal-sengal mendekatinya. Kudengar samar-samar isak tangis. Semakin dekat semakin jelas dan pasti Neng Romlah.

"Tempat ini tidak baik bagimu. Apalagi sekarang sudah malam. Biarkan aku yang menjelaskan apa yang sebenarnya, kepada Kiai. Tentang hubunganku denganmu dan Gus Takim." Bujuk rayu agar Neng Romlah mau pulang. Kujelaskan cara pandang dan pilihan Kiai, juga tentang Gus Takim.

"Iya, aku mengerti tentang itu. Tetapi besok ada rencana itu. Gus Takim ke ndalem bersama keluarga. Aku dengar langsung Bapak dan Ibu bicara itu." Neng Romlah mulai bicara meski pelan.

"Percayalah padaku. Percayalah kepada Kiai. Tidak mungkin. Itu hanya sepenggal yang kaudengar. Waktu kamu keluar, ada pembicaraan lain. Percayalah. Kiai tidak akan melanjutkan dan memaksamu. Aku sangat yakin, karena kau adalah putri satu-satunya Kiai."

Malam semakin larut. Sayup-sayup angin menusuk tubuh. Dingin mulai terasa dan tak tertahan. Neng Romlah hanya terdiam.

**

"INI bukan karena balas budiku."

Kata Kiai sebelum membuka peristiwa penting. Aku dipanggil langsung Kiai tanpa didampingi pengurus. Bapaknya Neng Romlah, calon mertuaku. Aku hanya diam dengan pandangan ke bawah.

"Intinya, aku tahu kamu ini siapa dan keluargamu. Aku sudah bicara banyak dengan bapakmu mengenai hubunganmu dan Romlah. Kamu kuterima. Kamu jadi menantuku."

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved