Cerpen Kambali Zutas

Neng Cinta di Ladang Tebu

Rimbun ladang tebu menutup rapat. Neng Romlah berdiri di pematang luar kebun tebu milik Kiai.

Editor: Hermawan Aksan
ILustrasi Neng Cinta di Ladang Tebu 

Kata Kiai sebelum membuka peristiwa penting. Aku dipanggil langsung Kiai tanpa didampingi pengurus. Bapaknya Neng Romlah, calon mertuaku. Aku hanya diam dengan pandangan ke bawah.

"Intinya, aku tahu kamu ini siapa dan keluargamu. Aku sudah bicara banyak dengan bapakmu mengenai hubunganmu dan Romlah. Kamu kuterima. Kamu jadi menantuku."

Kiai terus bicara, sedangkan aku masih terdiam seribu bahasa. Aku tak menyangka dan belum percaya sepenuhnya dengan pembicaraan malam ini. Mengapa kiai menikahkan Neng Romlah denganku, membatalkan perjodohan dengan Gus Takim. Segalanya jelas lebih mentereng Gus Takim. Dari silsilah, bapakku mengajar mengaji di surau, sedangkan bapaknya Gus Takim kiai pesantren tersohor dengan alumni rata-rata menjadi kiai. Alumninya sering mendapat beasiswa studi ke Timur Tengah.

Apakah karena aku berubah? Sejak pertemuan dengan Neng Romlah tempo itu memotivasiku tekun belajar. Mendengarkan nasihat ustaz, menghafal kitab nahwu dan sharaf hingga bisa membaca kitab kuning gundulan tanpa harakat. Menulis Arab pegon untuk menerjemahkan kitab kuning. Menulis ulang beberapa kitab, diskusi, dan ceramah. Kesabaran mengubahku dan berbuah. Puncaknya aku menyelesaikan hafalan nadham Alfiyah di depan kiai.

"Juga bukan karena kau sudah berubah. Kau sempurna menguasai ilmu alat, tetapi bukan karena itu." Aku ingat lagi kata-kata kiai.

"Apakah karena peristiwa di ladang tebu itu?" Mataku semakin menatap jalan setapak di depan. Aku percaya inilah alasan Kiai. Neng Romlah yang kabur dari rumah, sembunyi di tengah ladang tebu tempat terindahku. Tempat sunyi semedi menghafal dan belajar kitab pelajaran. Atau tempat persembunyian setelah bertemu dengan Neng Romlah. Aku berhasil membujuk Neng Romlah pulang.

"Ini bukan karena kamu bisa mengajak pulang Romlah waktu itu," kata Kiai mematahkan ingatanku.

Aku masih bertanya-tanya dalam hati. Ataukah cinta tulus membuka jalan terjal di awal. Kasih sayang telah mencairkan gunung es. Ketulusan adalah jalan, cinta muaranya, dan kasih sayang wujudnya. Keikhlasan dan kesetiaanku kepada Neng Romlah meluluhkan hatinya, Kiai, dan Bu Nyai. Kepala menunduk dan mata menatap lurus di titik tanah. Aku mencoba memberanikan diri bertanya kepada Kiai dengan suara lirih.

"Nanti kamu akan tahu sendiri. Yang terpenting kamu harus siap lahir dan batin. Kamu siap, kan?"

"Inggih, Kiai. Iya, Kiai, saya siap. Saya sanggup."

Tanpa berujar apa pun, lantas Kiai berlalu. Kiai mengakhiri bincang malam itu. Masuk ndalem dan menutup pintu. Jantungku masih berdebar. Aku masih sendiri di teras.

**

"APAKAH niat itu masih ada?"

Aku dikejutkan suara Neng Romlah yang tiba-tiba berada di dekatku.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jabar
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved