Cerpen Wilson Nadeak

Sepasang Rusa

"SEPULUH tahun kita menanti, apa yang kita rindukan tidak kunjung datang. Tujuh tahun kita mengembara di antara negara tetangga, semua sia-sia.

Editor: Hermawan Aksan
Ilustrasi Sepasang Rusa 

"Baik, Bu," kata keduanya serempak sambil memandangi anak-anak yang berkerumun, di sekeliling mereka, dan mereka berdua menatapi satu demi satu sambil membagi-bagi oleh-oleh. Anak-anak itu tertawa-tawa dan bersukacita. Dengan wajah ceria. Sejenak keduanya terharu. Sepuluh tahun sudah berlalu, mereka menunggu kehadiran anak seperti itu.

**

DI ladang, di belakang rumah, dulu sang istri suka bermain-main dengan anak-anak putri yang sebaya. Di sebelah ladang yang luas itu ada padang rumput dan sebuah sungai yang mengalir, mungkin sejak dulu. Ladang-ladang di tengah hutan kadang-kadang menjadi tempat berburu pelbagai jenis binatang buruan. Ayah mendengar permintaan putrinya, ingin memakan daging rusa buruan ayahnya, seperti masa kanak-kanaknya dahulu.

Suatu petang sang Ayah mengatakan kepada putrinya bahwa seekor rusa jantan telah masuk perangkap, di lubang yang digali dan disamarkan.

Sang putri gembira sekali. Tetapi Ayah berkata, "Nak, bagaimana kalau kita tunggu sang betina. Biasanya sang betina mencari tahu di mana jantannya. Mungkin besok betina itu akan masuk perangkap yang sama. Kita pancing dengan jantannya."

Esok harinya, benar juga. Sang betina jatuh ke lubang yang sama.

Dua-duanya dikandangkan sang Ayah, di kandang yang tidak jauh dari rumah.

Malam harinya, ketika sang putri tidur di samping suaminya, dengan kisah yang penuh bahagia mengatakan bahwa tidak lama lagi mereka akan pesta daging rusa. Pesta yang besar bagi keluarga dan tetangga yang dahulu tidak menghadiri pesta pernikahan mereka sepuluh tahun yang lalu. Sang suami turut bahagia sambil memeluk istrinya. Istrinya lelap dalam pelukannya. Ia melihat sebuah ketenangan yang luar biasa di wajahnya. Wajah yang selama ini gelisah.

Menjelang subuh, istrinya menggeliat dan lepas dari pelukannya.

"Aku mimpi, Pak," katanya sambil mengusap wajahnya.

"Mimpi lagi."

"Ya, Pak. Dalam mimpi, aku melihat sang betina rusa berlinangan air mata. Ia datang padaku dengan mata yang sayu, seolah-olah meminta belas kasihan dariku. Dari balik tetesan air matanya yang mengalir dengan deras, ia seolah-olah mengatakan bahwa ia punya anak yang harus disusuinya. Akhirnya ia berkata kepadaku: Tolonglah kami, anak-anak kami menangis sekarang menunggu kedatangan kami. Kasihan mereka. Tolonglah ...."

Sang suami mengusap air mata yang juga menetes dari mata istrinya. Sang istri melanjutkan cerita mimpinya.

"Sang jantan juga berlinangan air mata. Ia seolah-olah merasa bersalah karena karena dialah betinanya terjebak dalam lubang, karena mendengar suaranya. Yang jantan mengendus-endus perut betinanya. Kedua-duanya kemudian menatap kepadaku, memohon belas kasihan. Aku kasihan kepada kedua ekor rusa itu, Pak. Bagaimana ini?"

"Kau lagi-lagi gelisah karena mimpi. Saat kerinduanmu terkabul, kau diusik oleh kerinduan yang terwujud itu."

"Aku kasihan kepada mereka, Pak."

"Keinginanmu sendiri?"

"Aku takut mereka takut kehilangan anak-anaknya, dan anak-anaknya kehilangan induknya. Aku seolah-olah diiris-iris oleh kesedihanku sendiri, merasakan apa yang dirasakan induknya dan anak-anaknya."

"Lalu, bagaimana?" katanya sambil mengusap air mata kesedihan dari pipi istrinya.

Sang istri menatap wajah suaminya dengan harap dan kerinduan yang dalam. Suaminya memeluknya, dan kemudian mereka menyatu. Menyatu dalam kerinduan dan mimpi, sampai subuh tiba. Keduanya tenggelam dalam rindu yang menyala-nyala, dalam kesedihan dan kebahagiaan, yang belum pernah mereka berdua rasakan selama ini. Dua-duanya lebur menjadi satu dalam lubuk cinta yang mendalam. Lepas dari nuansa itu, kedua-duanya lelap sampai kokok ayam membangunkan mereka.

**

AYAHNYA terkejut ketika sang putri meminta supaya kedua ekor rusa itu dilepaskan saja.

"Mengapa, Nak?" tanya ayahnya.

"Tidak apa-apa, Yah. Mereka juga memiliki anak-anak yang harus dibesarkannya. Kasihan keduanya."

Ibunya turut mengomentari.

"Tetapi tabu menolak sebuah kerinduan, Nak. Kau datang kemari karena rindu menerima daging rusa dari Ayah. Kami mendoakan kalian, Nak. Kami mengerti pertanda itu, dan kami berdoa untuk itu. Mengapa kalian lepaskan kesempatan itu?"

"Terima kasih atas doa Ayah dan Ibu ...."

Ketika mereka pergi ke kandang rusa itu, Ayah membuka dua buah pagar dan membiarkan rusa betina lari ke luar disusul jantannya.

Sang putri dan suaminya menyaksikan rusa itu berlari dan melompat sekencang-kencangnya. Sesekali keduanya berhenti dan menoleh sejenak ke belakang lalu berlari lagi.

Ayah dan Ibu geleng-geleng kepala. Sang putri dan suaminya merasa suatu kebahagiaan yang belum pernah mereka rasakan selama ini. Rasa belas kasihan terhadap anak-anak itu. Anehnya, hari itu istrinya tidak merasa cemas lagi.

Senja berikutnya, sebelum mereka pulang ke seberang, ke tempat mereka diam dan bekerja, mereka meminta kepada orang tuanya untuk bermalam di pondok yang ada di ladang.

Ayah dan Ibu geleng-geleng kepala.

Malam itu mereka mendengar bunyi-bunyi unggas malam. Suara-suara burung malam dan binatang hutan yang keluar malam hari mencari mangsa.

Kedua suami istri itu menyimak suara-suara malam, merasakan dirus angin dari celah papan. Dalam alun malam dan goyangan tubuh yang menyatu dalam kesatuan yang mahadalam, dalam dengus napas keduanya memburu kebahagiaan rusa, tak henti-hentinya mereka berkejaran dalam nikmat kebebasan malam.

Sembilan bulan kemudian, orang tua mereka mendapat berita bahwa anak kembar telah lahir sebagai cucu mereka.

Kedua orang tuanya terperangah, dan menarik napas lega.

***

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved